
| Sabtu, 30 Agustus 2003 | Olahraga |
Wasit Selalu NetralSEMARANG- Selama Liga Indonesia IX berlangsung, korps baju hitam menjadi salah satu yang menjadi pusat sorotan. Mereka acap dinilai tidak netral, cenderung membela tuan rumah, atau tidak becus memimpin pertandingan. Akibatnya, protes demi protes meluncur hampir dari setiap pertandingan. "Tidak mudah menjadi wasit, karena harus memuaskan semua pihak, terutama dua kubu yang tengah bertanding dan para pendukungnya," kata Achmadi, salah satu wasit nasional asal Semarang. Sebenarnya, wasit selalu bersikap netral. Namun, di mata tuan rumah, sikap semacam itu pasti dinilai merugikan mereka. Sedangkan jika memihak tuan rumah, tim tamu akan menghujat karena itu tidak adil. Repotnya, jika pendukung kedua tim kemudian "terlibat" dalam memberikan penilaian, posisi wasit makin tersudut. Achmadi, yang pernah memimpin babak "8 Besar" Liga Indonesia V -- di mana saat itu PSIS menjadi juara-- mencontohkan, pernah suatu kali dia memberikan hukuman pelanggaran tembakan bebas tidak langsung kepada salah satu tim, dengan mengangkat tangan kiri sebagai tanda. Ternyata, oleh si pemain, bola itu ditendang dan gol. Tentu saja gol tersebut dianulir. "Penonton marah, menilai ini sebagai berpihak. Padahal aturannya begitu," kata wasit kelahiran Semarang, 30 Mei 1963 yang sehari-hari berprofesi sebagai fotografer ini. Wasit yang kini lebih sering ditugaskan oleh PSSI untuk memimpin pertandingan Divisi I ini berharap, setelah selalu mengasah kemampuan diri ini, dapat kembali memimpin pertandingan di Divisi Utama. (F3-77) |