
| Sabtu, 30 Agustus 2003 | Berita Utama |
Program Ini Bukan Pikiran SpontanPELAKSANAAN program 100 hari menjadi perhatian serius Gubernur Jateng H Mardiyanto dan Wakil Gubernur Drs H Ali Mufiz MPA. Keseriusan itu terungkap dalam sosialisasi program tersebut di Aula Pemkab Pekalongan, Jumat (29/8). Apa kelebihan program tersebut sehingga mendapat sorotan masyarakat? Sejumlah bupati/wali kota, kadinas, kepala badan bersama institusi lain di bawah Pemprov Jawa Tengah terlihat khidmat mendengarkan wejangan dan materi tentang program 100 hari oleh Gubernur-Wagub dan Kapala Bappeda Prof Dr Miyasto. Antusias para pejabat itu untuk mendukung pelaksanaan program yang menjadi janji Gubernur dan Wagub saat mencalonkan diri. Berbagai persoalan dari perencanaan pembangunan, pendidikan, kekeringan sampai pemberantasan penyakit masyarakat dijelaskan secara gamblang oleh Gubernur. Dalam waktu 100 hari, diharapkan berbagai program yang dimaksudkan bisa dijalankan, sehingga bisa memacu pelaksanaan program pembangunan 2004-2008. Dia menjelaskan, kelebihan program tersebut karena bukan lahir dari pikiran spontan, melainkan kajian dan pikiran matang. Dengan demikian bukan untuk mengobral janji, karena merupakan rencana yang telah mempertimbangkan kemampuan sumber daya di Jawa Tengah. Upaya pertama yang harus dilakukan dalam menjalankan program itu, peningkatan profesionalisme para pelaku pemerintahan. Lima tahun ke depan, tidak boleh ada pegawai yang hafalan. Artinya, apa yang dilakukan lima tahun lalu tidak seharusnya menjadi konsep yang sama pada lima tahun ke depan. "Kami menuntut kualitas pegawai yang profesional, sebab tantangan ke depan lebih berat," ujarnya. Dengan demikian, program itu sebagai upaya semaksimal mungkin mengimplementasikan pembangunan yang lebih baru dan lebih cepat menjawab persoalan di masyarakat. Selain itu bernilai strategis tinggi, lebih kuat dalam pengawasan dan pengendalian serta menjadi format kebijakan pembangunan pada tahun-tahun mendatang. Di antaranya, meliputi konsolidasi pascapilgub, penyusunan renstra, peningkatan kualitas sarana pendidikan dan kesehatan, penanganan kekeringan, dan peminimalan potensi banjir, pendistribusian sembilan bahan pokok, peningkatan kualitas infrastruktur, dan percepatan program pemberdayaan ekonomi rakyat. "Seluruh program ini bisa dikatakan sebagai program akselerasi," jelas Gubernur. Dia mengatakan, program akselerasi dimaksudkan sebagai pelaksanaan program yang berkualitas tinggi, mempertajam semua program yang ada, dan bekerja menjadi pelayan masyarakat yang mandiri. Dia mencontohkan pada dua triwulan ke depan, tidak boleh lagi ada kunjungan kerja ke luar negeri baik oleh dinas, badan maupun lainnya bila kurang memiliki hasil bagi pembangunan Jateng. "Karena itu kalau saya teliti, terkait dengan negara tujuan, materi kunjungan diketahui hanya akan menghasilkan nglencer, ya lebih baik dibatalkan. Jadi,semua program harus jelas dan bersentuhan langsung dengan pembangunan dan keperpihakan terhadap rakyat," paparnya disambut tepuk tangan para pejabat di wilayah Pemprov itu. Dalam menjalankan program, pemerintah lebih memperketat pengawasan baik di lapangan maupun perencanaan. Memperketat kontrol sebagai langkah menghindari ketidakjelasan pelaksanaan berbagai program, sehingga pembangunan bisa tepat sasaran dan tepat guna. Bukan Lampu Aladin Program 100 hari bukan program yang akan mengatasi segala masalah. Bukan pula lampu aladin yang tinggal meminta selesai segalanya. Dengan demikian, masyarakat jangan beranggapan program ini dapat menuntaskan segala persoalan di Jawa Tengah. Program itu sebuah strategi untuk membangkitkan semangat rakyat dalam membangun, meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Pemprov Jateng. Harapannya, tentu akan memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan program yang dilaksanakan secara rutin. Seperti dalam penanganan penyakit masyarakat, misalnya perjudian, Gubernur mengajak semua lapisan masyarakat ikut berperan dan memikirkannya. Sebab tanpa dukungan masyarakat, sulit bagi pemerintah memberantasnya. Apalagi, ada sebagian masyarakat yang menjadi tenaga kerja pada kegiatan tersebut. Dia menekankan, tidak mungkin berdaya saing jika tidak profesional, atau bekerja sekadar rutinitas tanpa ada inovasi, kreasi, dan keinginan mewujudkan masa depan yang lebih baik. Dalam menjalankan program itu, tidak sedikit tantangan yang bakal dihadapi Gubernur. Pemprov mengaku telah mempersiapkan berbagai hal yang dapat mendukung kesuksesan program. Nah, bagaimana realisasinya, saat ini masyarakat tengah menunggu.(Hasan Hamid, Muhammad Burhan-64j) |