logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 30 Agustus 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Bantuan Beras Dianggap Tak Adil

  • Petani Jagung Merasa Diabaikan

GROBOGAN - Darsono (40), petani jagung di Gabus, Grobogan, mengaku iri pada sesama petani yang mendapat bantuan 30 kg beras/kepala keluarga (KK) dari pemerintah. Sebab, yang dibantu hanya petani padi yang tanamannya puso akibat kekeringan.

Petani jagung atau palawija yang rugi lebih besar akibat kekeringan tidak memperoleh bantuan sedikit pun.

''Terus terang kami iri. Sebab, tidak semua petani yang menderita kerugian akibat kekeringan menerima bantuan beras dari pemerintah. Ini tidak adil,'' kata dia, kemarin.

Dia mengatakan hal itu setelah mengetahui korban kekeringan di Kecamatan Pulokulon, Gabus, Grobogan, Geyer, dan Ngaringan diberi bantu beras oleh pemerintah sebanyak 100 ton. Bahkan, sebanyak 362 KK di Desa Keyongan dan Suwatu Kecamatan Gabus mendapat bantuan 30 kg/KK. Mereka dibantu karena tanaman padi seluas 764 hektare puso, Juli lalu akibat kekeringan.

Bantuan kekeringan ke Gabus sebanyak 10,9 ton. Bantuan itu kemarin diserahkan Bupati H Agus Supriyanto SE.

Darsono mengatakan, di daerah Gabus didapati sekitar 200 hektare tanaman jagung mati kekeringan. Tanaman itu puso ketika berumur satu bulan. Bahkan, petani rata-rata sudah mengeluarkan biaya tanam cukup besar dibanding petani padi. Namun entah karena apa mereka tidak diperhatikan.

''Kami akan protes ke Pemkab, karena pemerintah tidak objektif dalam memberikan bantuan. Sebab, sama-sama korban kekeringan tidak mendapatkan bantuan seperti halnya petani padi,'' katanya.

Dimintakan ke Menko

Wakil Bupati Grobogan H Bambang Pudjiono SH mengatakan, bantuan beras dari pemerintah untuk korban kekeringan itu hanya dikhususkan untuk petani yang tanaman padinya puso. Karenanya petani palawija seperti jagung, kedelai, kacang hijau dan lainnya tidak mendapatkan. Namun, dia bersama Bupati berusaha meminta bantuan ke Menko Kesra lewat Gubernur Jateng untuk para petani palawija.

Menurut Bambang, berdasarkan laporan petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) periode Juli lalu, tanaman padi yang kondisinya rusak ringan, sedang dan berat di lima daerah kecamatan itu mencapai 4.561 hektare. Tanaman seluas itu tidak puso, tetapi terancam mati karena kekurangan air. Namun, dia mengakui dari jumlah tersebut yang didapati puso sekitar 764 hektare. ''Yang puso itulah yang sekarang ini dibantu beras oleh pemerintah,'' jelasnya.

Wakil bupati mengatakan, petani umumnya melaporkan ke Pemkab, bahwa tanaman padi 4.561 hektare di lima daerah kecamatan itu mati semua karena tak mendapatkan air.

''Maka, belum sampai masa panen tanaman tersebut dibabat pemiliknya untuk pakan sapi. Bahkan, tidak sedikit yang diganti tanaman jagung. Itu pun pertumbuhannya dilaporkan kurang bagus lantaran kekeringan''. (A23-63g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA