
| Sabtu, 30 Agustus 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
Salak Lokal MadukaraDaripada Dibuang, Dibuat JenangKECAMATAN Madukara identik dengan buah salak lokal dan salak pondoh lumut. Hampir sebagian besar kebun milik penduduk setempat ditanami dua jenis buah bersisik itu. Salak lokal Madukara dikenal dengan nama Salak Blitar. Sehingga selama ini masyarakat salah sangka, salak lokal itu dikira dari Blitar, Jatim. Asal-usul nama tersebut, karena sesungguhnya salak jenis itu kali pertama dikembangkan di Blitar. Yaitu nama sebuah desa di kecamatan setempat. Adapun Salak pondoh, dulu bibitnya diambil dari Muntilan, Kabupaten Magelang. Setelah di Banjarnegara, jenis itu dikembangkan menjadi salak pondoh lumut, yang bercita rasa lebih manis dibandingkan dengan salak pondoh asli. Harga salak pondoh lumut pada hari-hari biasa berkisar Rp 4.000 - Rp 5.000 ribu/kg. Namun ketika panen, jatuh sampai Rp 2.500/Kg. Lebih ironis lagi nasib salak lokal. Pada hari-hari biasa bisa Rp 1.000 - 1.200/Kg. Namun, ketika panen hanya terjual di bawah Rp 800/kg. Fluktuasi harga yang tak menentu itu membuat prihatin ibu-ibu PKK Kecamatan Maduraka. Sejak itu mulai digagas, bagaimana memberikan nilai tambah pada buah yang kini kian tersaingi buah impor yang lain. Dibuat Jenang Buah salak lokal pernah dicoba dibuat criping atau sirup, tapi hasilnya belum memuaskan. Setelah diuji coba selama beberapa bulan, pilihan jatuh pada pembuatan jenang salak. ''Pembuatan jenang salak dimulai Juni 2003. Awalnya sekadar coba-coba, di sela-sela kegiatan ibu-ibu PKK sekecamatan ini,'' kata Camat Madukara Wiwit Winarso S Sos. Kemudian dikembangkan menjadi industri rumah tangga. Salah satu perajin jenang salak yang sudah mampu menembus pasar luar kota, yaitu Azizah WWS di Desa Bantarwaru. ''Kebetulan salah seoarang pengusaha adalah Ketua Tim Penggerak PKK yang juga istri saya,'' kata dia. Azizah mengungkapkan, bahan baku pembuatan jenang buah salak lokal yaitu tepung beras ketan (sebagai perekat), gula pasir atau gula merah, dan santan kelapa. Setelah dimasak, semua bahan itu dicampur kemudian diblender hingga liat. ''Salak yang dibuat jenang dari kualitas dua atau tiga. Kualitas lebih baik tetap dipasarkan berupa buah,'' ujarnya. Menurut penuturan Wiwit, ciri khas jenang salak Madukara terletak pada cita rasa asem bercampur manis. Hal itu yang membedakan antara jenang salak dengan jenang lain, asal Kudus atau Garut, Jabar. Pembuatan makanan itu dikerjakan di rumahnya Desa Bantarwaru, dibantu sepuluh pekerja yang semua wanita. Tenaga bagian memasak diupah Rp 15.000/hari, sedangkan tenaga bagian pembungkus diupah Rp 5.000 selama empat jam. ''Kami masih menerapkan menajemen sederhana. Tenaga kerja dibayar sesuai dengan jam kerja,'' tambah Wiwit. (Tjeffi Hidayat-49s) |