logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 30 Agustus 2003 Budaya  
Line

Ramai-ramai "Membaca" Triyanto

"Sekarang tanggal Tujuh Belas. Berarti saya harus sudah menghadap Ibu. Namun, aneh, kereta ini tak kunjung berhenti. Jadi bagaimana saya bisa menghentikan omelan Ibu tentang rumah yang mau digusur Tibum?"

PENGGALAN teks di atas berasal dari cerpen Triyanto Triwikromo, berjudul "Tujuh Belas Agustus Tanpa Tahun". Mestinya, cerpen yang termaktub dalam dua buku (Children Sharpening the Knives (Anak-anak mengasah Pisau) terbitan Masscom Media 2003, dan Sayap Anjing, Kompas 2003, tersebut beserta beberapa cerpen Triyanto lainnya akan dibedah dalam "Bedah Cerpen dan Tahlil Kebangsaan 17 Agustus Tanpa Tahun" di Auditorium II Kampus III IAIN Walisongo Semarang, Kamis (28/8) lalu.

Sayang, bedah cerpen dan dialog batal dilangsungkan usai serangkaian tampilan. Prie GS yang seyogianya memandu "bedah cerpen" menutup acara begitu Dr Agnes Widanti berbicara singkat mengenai cerpen Triyanto. Padahal penonton terlihat antusias.

"Ruangan di sini terlalu luas dan besar. Ada persoalan audio hingga siapa pun yang berbicara tak akan sampai ke pendengar secara maksimal. Toh agaknya mereka malah senang acara segera diakhiri," ujar Prie GS, tertawa.

Toh meskipun begitu, tampilan malam itu sebenarnya pun sudah sebagai pembicaraan mengenai karya si cerpenis. Ya, aura yang tercipta seolah-olah memang "membaca" Triyanto.

Lihatlah, usai tahlilan bersama sebagai pembuka, tampil Teater Mimbar yang mengusung teatrikalisasi cerpen Triyanto berjudul Godot-Godot dan Godot Godlob. Dan lagi-lagi, ada yang harus disayangkan pada sajian itu. Kalimat-kalimat rawan, konyol yang cenderung absurd pada tokoh-tokoh cerpen tak bisa dihadirkan secara maksimal. Meski setiap kali ada adegan konyol, tawa dan reaksi penonton meledak secara spontan.

Teatrikalisasi cerpen Triyanto yang kedua diusung Teater Asa. Ia memainkan cerpen Sepanjang Waktu dalam Penyaliban-Mu. Cerpen yang ada dalam kumpulan Sayap Anjing itu secara visual cukup menarik. Paling tidak itu terjumpai pada setting yang mengetengahkan salib dan sebuah meja. Adegan seorang tokoh yang disalib dan "dipermak" tiga orang itu pun masih cukup menarik bagi sebagian besar penonton.

Jeda

Usai Teater Asa, Teater Metafisis mengusung musikalisasi sebuah sajak karya Gus Mus; Negeri Bokong. Gus Mus yang diagendakan hadir dan membacakan sajak-sajaknya memang berhalangan.

Sajian itu jadi serupa jeda sebelum Triyanto kembali "dihadirkan" oleh Ali Mufiz, Wakil Gubernur Jateng yang malam itu membaca cerpen Tujuh Belas Agustus Tanpa Tahun. Dalam segala keterbatasan perangkat audio dan pembacaan yang sederhana, Mufiz tampil seolah-olah tanpa beban. Dari mulutnya meluncur kalimat-kalimat banal, lugas, dan tak terlalu penuh idiom (ragam tuturan yang agak berbeda dari kebanyakan cerpen Triyanto-Red).

Lalu tampil Triyanto Triwikromo. Dia hanya membaca sepenggal cerpennya yang berjudul Aku Ular, Surga Terakhirmu. Andai saja tak ada persoalan audio, hampir dipastikan akan muncul reaksi yang riuh dari penonton seperti yang terjadi pada dua sajian sebelumnya.

Apa pasal? Dalam bacaan yang singkat itu, Triyanto membacakan cerpen yang berbicara mengenai sesuatu yang cukup berani seperti tentang kelamin.

Dr Agnes Widanti tampil singkat usai Triyanto. Ucapan singkat aktivis keperempuanan itu seolah-olah ingin mengingatkan kembali apa yang pernah disampaikannya dalam acara Dies Natalis Unika Soegijapranata beberapa waktu lalu mengenai "segi-segi feminisme dan lelaki feminis" yang menurut dia terjumpai pada karya dan sosok Triyanto.

"Mengapa pada cerpen Tujuh Belas Agustus Tanpa Tahun ini Triyanto mengambil tokoh sosok Ibu? Banyak cerpen dia pun mengagungkan figur perempuan. Itu bukti ada segi-segi feminisme pada sebagian besar cerpen Triyanto."

Ya! Singkat memang perkataan Agnes. (Saroni Asikin-79)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA