
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Sala |
Tiga Pendekar Lukis Pamerkan KaryanyaKENTINGAN- Sepanjang perjalanan Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jateng di Surakarta (TBS) di Kentingan, Jebres, Solo, mungkin baru kali ini ada pameran tak begitu mementingkan jumlah penonton, apalagi ada pembeli lukisan. Karena bagi tiga pendekar lukis yang berpameran, I Gusti Nengah Nurata, Asri Nugroho, dan H Harjiman, yang memberi tajuk ''3 Figures'' untuk pameran mereka, hal itu bukan ukuran kesuksesan pameran. ''Sukses pameran kami bukan ditentukan oleh ukuran macam itu, melainkan bagaimana kami benar-benar bisa memberikan apresiasi dan dialog dengan para penikmat pameran. Kami sangat menghindari pameran berformat pasar,'' kata I Gusti Nengah Nurata, dosen Jurusan Seni Rupa STSI Solo, kemarin. Dia bersama Asri Nugroho sedang bertugas menunggui pameran di dua ruang galeri itu. Adapun H Harjiman pulang ke Yogya karena tak bertugas memasuki hari ketiga setelah pembukaan (24/8). Saat itu hanya satu-dua pengunjung menyaksikan pameran. Pemilik Nurata Paint Art Studio itu menyatakan terdorong pameran di TBS dengan banyak karya yang bervariasi. Sebelumnya, hanya dua kali dan dia hanya menyertakan sebuah lukisan karena diajak sejumlah pelukis lain berpameran di situ. Dia bersemangat ikut berpameran karena ada ikatan batin dan kesamaan pandang dari figur-figur yang berlatar belakang spiritual berbeda-beda. ''Coba Anda perhatikan, mana ada pameran lahir dari komitmen seperti ini? Saya pribadi menyuguhkan nuansa Hindu, Mas Asri dari Kristen, dan Mas Harjiman menyuguhkan khazanah muslim. Ini sungguh hebat, khususnya pesan moral yang terkandung dalam lukisan itu,'' kata Nurata, panggilan akrab dia. Banyak Nyamuk Karena visi, misi, dan kualitas lukisan didasari komitmen yang sama untuk mementingkan pemahaman dan apresiasi daripada kepentingan ekonomis dan kemeriahan, kata Asri, mereka berpameran di TBS. Bahkan, bagi Nurata, kegiatan di TBS itu dari sisi lain setengah dipaksakan. Karena, di dua ruang itu banyak sekali nyamuk beterbangan dan kotorannya bisa menodai keindahan lukisan. Karena itulah sekitar 100 lukisan yang digelar pada 24 Agustus-15 September lebih baik tak dikunjungi begitu banyak orang hingga mirip pasar. Atau, sehari-hari disibukkan oleh aktivitas tawar-menawar seperti pasar ketika para kolektor atau peminat pameran lain yang biasanya berorientasi ke nilai ekonomis berdatangan. Untuk menjaga lukisan yang dipajang selalu bersih dan terawat, selama pameran dua ruang itu disemprot obat antinyamuk dua kali sehari. Yakni, sebelum ruang dibuka pukul 09.00 dan ketika ditutup untuk pengunjung pukul 21.00. (Won Poerwono-74g) |