logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 28 Agustus 2003 Sala  
Line

Merana di Balik Pagar Seng

BENTENG Vastenburg, mungkin banyak wong Solo yang telah mendengar nama bangunan kuno itu. Meski bersejarah, jangan berharap bisa melihatnya sebagai tempat tujuan wisata layaknya Benteng Vredenburg di Yogyakarta. Selain kondisinya memprihatinkan, tempat itu kini jadi milik perorangan.

Bangunan sisa kolonial Belanda itu berdiri dengan megahnya di pusat Kota Solo, di balik pagar seng yang entah berapa lama mengitarinya. Dindingnya yang kokoh, meski termakan usia, seakan berbicara betapa banyak sejarah yang telah dilaluinya. Dindingnya mungkin sudah lapuk ditumbuhi tanaman liar dan lumut. Catnya pun bahkan sudah tak terlihat lagi, menampakkan bahwa tak pernah ada tangan manusia yang merawat. Di sekeliling tempat itu terdapat parit selebar dua meter yang bagian dalamnya ditumbuhi tanaman liar. Sementara itu ilalang yang tingginya hampir sama dengan orang dewasa menutupi sebagian tembok benteng.

Di sekeliling bangunan yang luasnya tak kurang dari 3 ha itu terdapat bangunan benteng inti yang di dalamnya terdiri atas gerbang berloteng (bertingkat-Red) dan dua bangunan yang mungkin dulu digunakan untuk kantor. Di sebelah barat, terdapat sepasang ringin kurung yang sudah jelas tak terawat.

Kurator Museum Radya Pustaka Drs Mufti Raharjo mengatakan, bangunan itu dibangun sekitar pertengahan abad XVIII pada masa pemerintahan Paku Buwono III oleh kolonial Belanda. ''Sejarahnya ada di Serat Sri Radya Laksana yang menceritakan bahwa saat itu Keraton menyerah pada Belanda. Lantas Pemerintah Kompeni mendirikan benteng tepat di depan Keraton untuk mengawasi gerak-geriknya,'' ujar dia.

Bunker

Di tempat itulah kekuatan pasukan Belanda dipusatkan. Konon juga ada semacam bunker bawah tanah yang cukup luas di bawah benteng. Bunker tersebut digunakan untuk penjara para tahanan.

Hal itulah yang membuat tempat itu tak dimungkinkan jika dijadikan hotel atau pusat perbelanjaan. Menurut penuturan Mufti, ruang bawah tanahnya bisa ambrol atau terpaksa menjadi tempat pijakan vondasi bagi bangunan baru. ''Bangunan itu hampir sama dengan Benteng Vredenburg di Yogya, tapi sangat beda jauh karena Vredenburg sudah dikonservasi dan dipreservasi, sedangkan Vastenburg diperhatikan saja tidak,'' ungkap dia.

Ia menuturkan, kawasan itu sangat potensial untuk dikembangkan menjadi atraksi wisata. Misalnya parit yang mengelilingi tempat itu bisa jadi tempat praon gethek layaknya di Spanyol. Bangunannya bisa dikonservasi dengan tidak mengubah bentuk intinya. Dia memisalkan hal itu seperti pemugaran Dalem Wuryaningratan yang kini jadi museum batik, namun tetap tak mengubah ciri khasnya.

Ia sangat menyesalkan jika pengambil keputusan di Solo tak buru-buru mengambil langkah untuk mempedulikan nasib bangunan-bangunan kuno. Tak kurang dari 70 bangunan di Solo memerlukan perlindungan perda dari kerusakan. Orang-orang yang memegang tampuk kepemimpinan, lanjut dia, sangat kurang serius menangani nasib bangunan kuno yang perlu diselamatkan. Hal itu terlihat dari kekuatan hukum yang baru sebatas SK Wali Kota untuk melindunginya.

''Saya rasa Solo sudah memerlukan perda dan bukan hanya SK Wali Kota untuk melindungi benda cagar. Sudah saatnya perlindungan itu diperdakan,'' tegas dia. (Evie Kusnindya-74n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA