
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Olahraga |
Saatnya Karate Jawa Tengah Membentuk PPOPSETELAH para karateka junior Jateng meraih sukses di Piala Mendagri X pada 4-10 Agustus lalu di GOR Tumenggung Abdul Jamal, Batam, potensi daerah ini pada cabang karate semakin tampak jelas. Bila dihitung dari perolehan medali atlet-atlet Jateng, mestinya tim yang dipimpin oleh Hartono, selaku bidang pembina Pengda FORKI itu, bisa menjadi juara umum. Sayang taktik dan strategi yang diterapkan sedikit keliru. Tim itu pun hanya meraih dua emas dan sekian perak, plus perunggu. Jika perolehan itu digabung dengan dua medali emas yang dikantongi Candra Saputra dan Kartika, yang kebetulan kali ini ''dititipkan'' kepada PB Inkai, tentu prestasi anak-anak itu bisa melambungkan nama Jateng ke posisi juara umum. Persoalannya sekarang, mengapa baru sekarang muncul bibit-bibit tersebut? Tampaknya itu tak lepas dari kondisi guyub yang terjadi di komunitas olahraga karate di Jawa Tengah saat ini. Apalagi Ketua Harian Pengda Bambang Raya Saputra menerapkan pola pembinaan yang berbasis pada perguruan. Artinya, perguruan karate yang berjumlah puluhan itu harus di-wongke, sehingga mereka memiliki kebanggaan dalam membela nama Jateng. Perguruan sentris atau keberpihakan kepada salah satu perguruan tidak lagi terlihat di kepengurusan Pengda FORKI dua periode terakhir. Ini tentu menjadi modal untuk menggairahkan denyut nadi pembinaan di tingkat paling bawah, yakni klub atau perguruan. Inkai, Lemkari, Wadoki, Gojukai, Kyokushinkai, Kei Shin Kan dan perguruan lainnya, kini sudah mampu mengorbit ke tingkat nasional. Jika tidak salah dengar, rencananya dua karateka junior Jateng, Puspita Triana G dan Kartika Ekawati, akan diberangkatkan ke Kejuaraan Dunia yang digelar akhir November di Prancis. Jika benar, hal itu tentu sangat membanggakan masyarakat karateka di daerah ini. Paling tidak, kondisi yang diciptakan PB Forki itu akan mampu membangunkan perguruan yang masih tertidur dari pembinaan. PPOP Karate Berkaca dari hasil yang sangat menyenangkan tersebut, kita juga harus berpikir tentang masa depan anak-anak tingkat pra-junior dan junior. Mau dikemanakan mereka? Jawabnya, tentu saja harus diprogram, diciptakan, dan dibentuk untuk menjadi juara di tingkat senior. Hal ini pun sudah diantisipasi oleh Pengda. Kita memang tidak boleh lengah terhadap perkembangan dan peningkatan prestasi para atlet. Bagi seorang pembina olahraga, kondisi ini pasti akan mendapat perhatian serius, termasuk para pelatih di tingkat klub/perguruan. Seiring dengan kesuksesan tersebut, ada satu tahapan yang tidak boleh tertinggal, yaitu proses kesinambungan dalam pembibitan dan pembinaan atlet. Karena itu, tidak salah jika Pengda FORKI harus berani mengusulkan kepada KONI Jateng untuk membangun sebuah basis pembinaan terpusat bagi kalangan karateka pelajar, yakni sebuah Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP), seperti yang dilakukan sejumlah cabang potensial. Mengapa harus PPOP? Kita harus tahu, PB FORKI merencanakan pembentukan basis pembinaan usia dini. Jadi, PPOP yang saya usulkan ini merupakan proses adaptasi terhadap program yang dilakukan di pusat. Ini penting agar Jateng terus mengacu pada pola pembinaan pusat dan tidak tertinggal dari daerah-daerah lain. Mungkin ada sedikit perbedaan antara karate dan cabang-cabang yang lain, khsusnya menyangkut teknis. Seperti kita ketahui, FORKI terdiri atas berbagai perguruan, yang tentunya mempunyai ciri khas (jurus) masing-masing. Namun, semua itu toh bisa diatasi jika sudah berada dalam satu wadah karate secara olahraga. Justru inilah pentingnya PPOP tersebut. sebab di sana nanti, para karateka usia dini yang berasal dari berbagai perguruan itu bisa menyamakan persepsi tentang bentuk teknik yang pas jika mengikuti kejuaraan. Paling tidak, lewat PPOP ini akan tercetak karateka yang bukan hanya berkualitas teknik yang baik, melainkan juga berwawasan kebersamaan dan fanatisme daerah yang kuat, dalam mendukung program penciptaan prestasi olahraga optimal bagi provinsi ini. Pembentukan PPOP, seperti yang lazim terjadi di beberapa cabang, sebenarnya tidak terlalu memakan biaya, asalkan dipikul bersama-sama. Misalnya, sumber dana yang kita harapkan datang dari KONI Jateng itu didukung perguruan-perguruan, ditambah usaha dari Pengda Forki. Jadi, pendanaan tidak hanya dibebankan di pundak KONI Jateng. Aktivitas, kreativitas, dan inovasi masyarakat karate dalam proses pembinaan di PPOP tetap menjadi tanggung jawab bersama. Kalau Bambang Raya menyebutkan, keberhasilan anak-anak junior adalah sukses yang sangat membanggakan, tetapi juga tantangan, itu benar. Untuk menjawab tantangan tersebut, tentu saja harus dicari cara dan jalannya. Nah, jawabannya sudah pasti PPOP. (Drs Hananto Prasetyo SH, pemegang Dan IV Kyokushinkai, mantan juara nasional-22i) |