
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Berita Utama |
"Dua Sukhoi Ini Benar-benar Baru"
MADIUN- Sesuai jadwal susulan, pesawat cargo Antonov yang mengangkut dua pesawat tempur Sukhoi Su-27 SK pesanan Indonesia, dari rencana empat pesawat dan satu helikopter Mi-35, Rabu (27/8) pukul 07.31 WIB mendarat dengan mulus di Lanud Iswahyudi, setelah sebelumnya sempat melakukan dua kali putaran. Disaksikan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KSAU Marsekal Chappy Hakim, dan Pangkoops TNI AU Marsekal Muda Teddy Sumarno, pesawat Antonov dengan pilot Igor Yevgeny tersebut mendarat. Bahkan panglima dengan didampingi Ketua Tim dari Rusia Igor Ruzevanov sempat melakukan peninjauan ke dalam badan pesawat untuk melihat pesawat tempur yang banyak diramaikan itu sebelum diturunkan. Saat menunggu datangnya pesawat berbadan besar Antonov ternyata mempunyai ketegangan tersendiri. Namun ketegangan itu mencair begitu mengetahui pesawat Hercules dengan pilot Marsekal Chappy Hakim yang mengangkut rombongan Panglima TNI mendarat mulus. Menurut Jenderal Endriartono Sutarto, pembelian empat pesawat Sukhoi dan dua helikopter Mi-35 sebenarnya sudah terencana lama, yaitu sejak 1997. "Sebenarnya kami tidak membeli pesawat tersebut, tapi kami menjual komoditas yang ada di Tanah Air, dan kebetulan Rusia mau membeli serta membayarnya dengan pesawat," kata dia. Namun rencana lama tersebut terhenti karena adanya kriris ekonomi. Bahkan pesawat yang sebenarnya sudah dipesan Indonesia sebanyak 12 buah akhirnya oleh Rusia dijual ke India yang memang membutuhkan, dan memang sudah sejak lama memesannya. Sedangkan yang sekarang ada di Lanud Iswahyudi, sebenarnya dulu merupakan pesanan India. "Karena itu, mengapa bisa cepat dikirim pesawat yang kita beli ini. Kalau ada yang meragukan masalah ini silakan saja. Tapi perlu saya tegaskan, pesawat yang datang ini benar-benar baru bukan bekas," kata Endiartono Sutarto. Dalam kesempatan tersebut, Panglima yang didampingi KSAU, Pangkoops II, Staf Ahli Bulog Gerungdna, dan Sekertaris Dephan Supriyadi, menegaskan kembali bahwa transaksi yang ada adalah Indonesia menjual komoditas, dan Rusia sebagai pembeli membayarnya dengan pesawat. "Kalau DPR masih mempermasalahkan, silahkan saja. Tapi TNI sudah terikat dengan jadual yang ada, apalagi Indonesia juga sudah dua kali melakukan pembatalan pembelian Sukhoi," katanya. Ia mengakui, empat pesawat Sukhoi yang dipesannya memang belum cukup untuk mendukung kekuatan udara, tapi itu diharapkan dapat sebagai titik awal, apalagi pilot dan teknisi serta mekaniknya sudah disiapkan dan dilatih di Rusia. "Kami juga menjaga agar jangan sampai peralatan militer didikte untuk tidak digunakan, seperti yang terjadi pada pesawat terbang yang kita beli dari negara lain," katanya. Sementara itu KSAU Marsekal Chappy Hakim mengatakan, keberadaan empat Sukhoi dan dua helikopter buatan Rusia itu belum masuk alat utama sistem persenjataan (Alutsista) karena baru ada empat. Tapi nantinya kalau sudah satu skadron baru masuk kategori tersebut. Nantinya juga akan ditempatkan di Makassar sebagai home base-nya menggantikan A-4 yang ada sekarang. Panglima Endriartono menambahkan, empat pesawat tersebut belum dilengkapi dengan persenjataan. TNI-AU sendiri sudah menyiapkan enam pilot khusus untuk menerbangkan Sukhoi tersebut, masing-masing Mayor Pnb.Arif Mustofa dan Kapten Pnb M Hanafie, keduanya dari Skadron 03. Mayor Pnb Andi Heru, Mayor Pnb Andi Kustoro, dan Kapten Pnb Endik Triwidanto dari skadron 11 serta Mayor Pnb Palito Sitorus dari skadron 14. Semua skuadron tersebut bermarkas di Lanud Hasannudin Makassar. "Mereka akan kembali 9 September mendatang, sekaligus mempersiapkan diri karena nantinya mereka juga akan mendidik generasi berikutnya untuk menangani pesawat Sukhoi yang akan ditambah menjadi satu skuadron (12 pesawat-Red)." Proses penurunan pesawat dan suku cadangnya memakan waktu cukup lama. Bahkan pesawat TS 2702 (Tempur Strategis Sukhoi SU27K dengan nomor regristrasi 02) yang berada di depan baru bisa turun pukul 11.50, dan peaawat kedua yang berada di belakangnya, TS 2701 turun pukul 14.00 lebih. Keduanya dalam keadaan tanpa sayap depan dan sayap belakang (horisontal stabilizier) dan vertikal stabilizer (sirip tegak di bagian ekor). Bagian ekor (exhaust nozzel) ditutup dengan bahan semacam kain berwarna hijau dan di bagian hidung (radome= tempat radar) ditutup dengan bahan warna oranye. Turun dari badan pesawat Antonov berlangsung sangat lambat tapi berjalan mulus. Begitu roda depan mendarat di Lanud Iswahyudi, senyum kebanggaan para crew maupun jajaran Landu Iswahyudi mengembang, karena kini Indonesia benar-benar memiliki Sukhoi dalam arti sebenarnya. Menurut Kadispentak Lanud Iswahyudi Mayor Sus Drs Bintang Yudiarta, datangnya dua pesawat Sukhoi Su-30 ada sedikit keterlambatan. Sedianya pesawat cargo yang mengangkut rakitan pesawat buatan Rusia itu dijadwalkan tiba Selasa pagi (26/8), namun karena ada kendala teknis di mana Mayor Bintang sendiri tidak menjelaskan secara rinci penyebabnya, akhirnya baru tiba Rabu pagi (27/8). Dari beberapa sumber diperoleh informasi bahwa dua pesawat Sukhoi Su-30 itu masih standart dan sama persis yang dibeli Pemerintah Malaysia. Hanya saja jumlah yang dibeli negara tetangga lebih banyak, yaitu 18 armada dengan kode Su-30 MK. Sementara Indonesia hanya dua buah Su-30 dan dua buah Su-27. "Dua pesawat itu memang seharusnya dimodifikasi agar kondisi pesawat yang dimiliki Indonesia berbeda dengan yang dimiliki negara lain. Alasannya, apabila tidak ada modifikasi maka kalau ada pertempuran, misalnya dengan negara lain yang memiliki pesawat sejenis, mereka akan tahu kelemahan pesawat terbang kita karena masih standart," ujar pengamat militer Salim Said yang ditemui beberapa waktu lalu. Kalau pesawat tersebut datang di Lanud Iswahyudi dalam bentuk rakitan, itupun tidak beda jauh dengan pesawat F-5E/F Tiger juga diterima dari Amerika Serikat masih harus dirakit lagi. Secara teknis, pesawat Sukhoi tipe Su-27 memiliki keunggulan di udara, sedang Su-30 selain bisa berperan dalam pertempuran juga pengeboman, dan memiliki peran darat. Penyerahan kepada pihak TNI sudah dilakukan beberapa waktu lalu di pabrik Sukhoi Rusia di mana waktu itu beberapa petinggi TNI dan TNI-AU juga hadir dalam acara tersebut.(jo-69) DATA TEKNISSukhoi Su 27SK (versi ekspor Su-27) Panjang : 21,94 meter Lebar : 14,7 meter Tinggi : 5,93 meter Mesin : 2 Lyulka Engine Design Bureau (NPO saturn) AL-31F masing-masing seberat 12.550 kg Kecepatan maksimal : 2.500 kph Kecepatan jelajah : 1.350 kph Berat : 22.500-30.000 kg (berat kosong 16.000 kg) Batas ketinggian : 18.000 meter Pilot : 1 Daya jelajah : pada ketinggian 4.000 km = 2.287 mil, pada 1.400 km=851 mil Manuver vertikal : 19.800 meter per menit (sekitar 300 meter/detik) Kapasitas bahan bakar : 6.350 kg Sensor radar : Flash Dance Radar, Infrared Search and Track (IRST), TV Sensor, radar warning Receiver (RWR), ballistic Bombsight Sistem pengisian bahan bakar : darat (non-reinjeksi) Sukhoi Su-30Mk: (MK=kode standart ekspor, produksi 1993) Panjang : 21,94 meter Lebar : 14,7 meter Tinggi : 6,36 meter Berat : 26.000 - 34.000 kg Kursi pilot : 2 (dikenal sebagai "Little John Room" karena tempat duduknya yang bertoilet) Kecepatan maksimal : 2.125 kph Batas ketinggian : 17.500 meter Daya jelajah : pada ketinggian 3.000 km = 1.846 mil, ketinggian 5.400 km = 3.231 mil. Amunisi : 1 meriam 30 mm GSh-30-1, 8.000 kg misil dan bom Siket rudal : 12 katup (bisa ditingkatkan jadi 14) Misil : misil jarak jauh Kh-59M, misil anti-radiasi Kh-31P, misil udara ke permukaan Kh-29T Sistem pengisian bahan bakar : baik di darat maupun di udara (reinjeksi). SU-30MK lebih unggul dari Su-27SK karena sensor inframerah yang bisa dipindah-pindahkan ke sisi kanan dan kiri langit-langit pesawat, mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara. Intrumen kokpit dan sistem penerbangan lebih canggih, dua kursi pilot, ekor pesawat lebih besar dan mampu mengkoordinasi penyerangan udara pesawat Sukhoi lainnya. Negara Pemakai
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||