
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Berita Utama |
Pemilu 2004Pemilu Tak Kondusif Dilaksanakan di AcehJAKARTA- Pemilu 2004 tidak kondusif dilaksanakan di Aceh, sebab dalam situasi masyarakat yang ketakutan penggunaan hak pilih tidak bisa dilakukan secara bebas. ''Rakyat Aceh rentan dimanipulasi dalam penggunaan hak pilihnya,'' kata Ketua Umum Partai Persatuan Oposisi Rakyat Dita Indah Sari di Kantor Komnas HAM, kemarin. Menurutnya, pemilu hanya menjadi legitimasi pelaksanaan darurat militer. ''Kesannya berhasil, tapi sebenarnya gagal. Yang harus dilakukan adalah pelaksanaan jajak pendapat untuk mengetahui keinginan rakyat Aceh,'' papar Dita. Sedangkan kegagalan operasi darurat militer juga bisa dilihat dari pengungsian rakyat Aceh ke luar Indonesia, yaitu ke Malaysia beberapa waktu lalu. ''Itu menandakan Aceh tidak aman buat rakyatnya sendiri. Hal ini membuktikan juga 100 hari operasi militer dengan tugas utama mengambil hati rakyat Aceh gagal dilaksanakan,'' ungkapnya. Ia juga menyoroti UNHCR di Malaysia yang seharusnya memfasilitasi warga Aceh yang mengungsi. Sebab tanggung jawab ada pada mereka. UNHCR, katanya, seharusnya memutuskan negara ketiga yang bisa menampung pengungsi Aceh itu. Operasi Militer Sementara itu, Yusuf Lakaseng, ketua Solidaritas Gerakan untuk Aceh menilai kegagalan operasi militer bisa dilihat dari meningkatnya jumlah penduduk miskin di Aceh pada masa sebelum operasi dilakukan. Pada 2001 jumlah penduduk miskin di Aceh ada 1,2 juta jiwa dari total 4,2 juta jiwa. Pada 2002 jumlahnya meningkat menjadi 1,4 juta jiwa. Tapi, tambah Yusuf yang mengutip data dari media lokal di Aceh, pada 2003 yang baru memasuki bulan kedelapan dan operasi militer selama 100 hari, peningkatannya mencapai 1,6 juta jiwa dari total 4,1.(bn-69) |