logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 28 Agustus 2003 Berita Utama  
Line

Ratusan Histeris Lihat Mars

  • Kaca Planetarium Pecah
PLANET MARS: Planet Mars yang diambil gambarnya di Planetarium Hubble Space Telescope Nasa, AS. (43)

JAKARTA-Ratusan pengunjung Planetarium Jakarta yang tak kebagian tiket gratis untuk melihat penampakan planet Mars, semalam histeris. Banyak pengunjung pingsan dan tergencet karena ngotot masuk ingin melihat penampakan planet itu. Beberapa kaca pecah karena desakan orang-orang itu hingga melukai beberapa lainnya.

Sejak sekitar pukul 20.45 kemarin, suasana di pelataran Planetarium di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jalan Cikini Raya, mulai tidak terkendali. Pasalnya, pengelola hanya menyediakan sekitar 1.200 tiket gratis bagi pengunjung, sejak sekitar pukul 15.00.

Padahal antrean orang sudah terlihat sejak sekitar pukul 16.00, meskipun tempat itu baru buka pada pukul 20.00. Mereka yang tidak kebagian tiket itu langsung histeris dan menyerbu masuk ke dalam gedung, memasuki tempat teropong di lantai II dan III.

Namun, ketika masuk ke lantai tersebut, pengunjung yang tidak sabar itu berjejal-jejal memaksakan diri masuk. Akibatnya, lorong yang hanya terbuat dari kaca dan tripleks dan berukuran 3-7 meter di lantai II dan III jebol dan kacanya pecah berantakan.

Dua polisi yang bertugas dibantu enam satpam Planetarium Jakarta tidak bisa mengendalikan situasi. Akhirnya, pihak keamanan dari Polsek Menteng dimintai bantuan untuk menenangkan situasi.

Terdengar teriakan histeris dan tangisan anak-anak dan sejumlah pelajar SD dan SLTP yang tak kuat berdesak-desakan tersebut. Wajah dan tubuh mereka penuh dengan keringat, selain itu terlihat raut-raut wajah yang memendan kekecewaan.

Beragam komentar dari pengunjung Planetarium. Ada yang merasa puas dan kecewa. Puas karena berhasil masuk dan melihat Mars, bahkan ada yang puas melihatnya walau hanya seberkas sinar sebesar pulpen tumpul.

Yang kecewa adalah mereka yang tidak kebagian tiket gratis dan tidak bisa masuk. Yang bisa masuk pun ternyata merasa tidak puas karena ternyata tidak seperti dibayangkan. "Ya...cuma segitu doang," kata seorang pengunjung.

Suasana serupa terlihat di kompleks Observatorium Peneropongan Bintang Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung, semalam. Ratusan orang tertahan di luar pintu gerbang utama kompleks itu karena pihak Bosscha membatasi jumlah pengunjung yang akan melihat penampakan Mars melalui teropong.

Pasar Malam

Fenomena Mars purnama juga menjadikan Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung, bagai pasar malam. Ribuan orang memadati kawasan itu. Belum lagi yang tertahan di luar.

Jalur Bandung-Lembang yang berjarak 15 km macet total sejauh 7,5 km semenjak pintu masuk ke Observatorium Bosccha di mulut Jalan Peneropongan Bintang dari arah Bandung.

Ke arah luar sedikit dari jalan tersebut, sepanjang 5 km bahu jalan menjadi arena parkir banyak mobil.

Masyarakat sekitar membuka jasa parkir dadakan. Sejak pukul 19.00, petugas keamanan memortal Jalan Peneropongan Bintang, pintu masuk ke Bosscha.

Meski begitu, ada yang memaksakan diri masuk ke kawasan Bosscha yang berjarak 1,5 km dari mulut jalan tersebut. Buntutnya, ketegangan sempat muncul. "Saya sudah bilang, Anda tidak boleh masuk," kata seorang polisi.

Menurut petugas keamanan Rachmat, massa yang berkumpul di kawasan Observatorium Bosscha sudah mencapai 3 ribu orang. Sementara tiket masuk dari tiga sesi yang disediakan untuk melihat Mars melalui layar lebar (pukul 19.00-21.00, 21.00-23.00, dan 23.00-01.00) untuk maksimal 800 orang. "Terus-terang kami tidak menyangka atas kondisi ini," katanya.

Apalagi, pengunjung yang datang dari arah Bandung terus mengalir tidak henti-henti. Karena itu, petugas keamanan menyarankan agar pengunjung membatalkan niatnya masuk Bosscha pada malam itu dan menggunakan kesempatan berikutnya.

Pihak Bosscha membuka kesempatan untuk umum selama tiga hari dari tanggal 27-29 Agustus. Untuk masuk ke Bosscha dan menikmati fenomena alam yang terjadi 60 ribu tahun sekali itu, pengunjung dikutip biaya Rp 10 ribu. Untuk melihat Mars dalam posisi yang sangat dekat dengan Bumi setar 55,8 juta km itu, disediakan monitor layar lebar dari sebuah proyektor.

Banyak pengunjung menggelar tenda berserta peralatan lainnya dan "amunisi" selama bermalam di sana. Melihat secara lebih detail Mars di kawasan Bosccha memang menjadikan daya tarik tersendiri. Dibanding melihat dari rumah dengan mengarahkan penglihatan ke timur, akan terlihat bintang dengan pancaran yang sangat kuat.

"Marsnya kelihatan. Bulat gitu. Warnanya seperti warna lampu sign kendaraan," kata seorang pengunjung yang baru turun dari Observatorium Bosscha.

Mengenai peralatan di Planetarium, pengelola menyiapkan tiga teropong. Teropong pertama bernama Kode. Teropong ini akan memuat gambar yang di-relay langsung ke sebuah monitor berukuran 34 inci.

Teropong kedua bernama Vixen. Teropong ini berdiameter 10 cm, panjang fokus 1 meter dan memiliki kemampuan pembesaran gambar 20 kali lebih besar. Teropong ketiga adalah Takahasi. "Teropong ini memiliki diameter 10 cm, panjang fokus 1 meter. Teropong ini mampu membesarkan gambar sebanyak 40 kali," kata staf astronomi Planetarium, M Hidayat.

Dia mengatakan, pengunjung akan diberikan kesempatan menyaksikan fenomena Mars hingga pukul 24.00. Masing-masing diberikan kesempatan menggunakan teropong selama 1 menit. "Agar tertib, mereka akan dibagikan kupon," jelasnya.

Di Bossscha disediakan enam teropong, lima di antaranya disediakan untuk umum, sedangkan satu teropong lagi khusus untuk para peneliti/ pengamat astronomi. Pengelola memberi kesempatan kepada warga melihat penampakan Mars hingga 29 Agustus, sejak malam hingga dini hari. Kepala Observatorium Bosscha Lembang Moedji Raharto mengatakan, fenomena penampakan Mars kali ini tergolong paling unik, dibanding dengan penampakan lainnya yang berlangsung rutin setiap dua tahun sekali.

Mars saat ini berjarak cukup dekat dengan Bumi, yaitu sekitar 55,8 juta kilometer, dibanding dengan jarak sebelumnya, sejauh 101 juta kilometer. "Fenomena ini akan terjadi lagi 205 tahun mendatang, atau pada tahun 2208. Sebelumnya, pernah terjadi ribuan tahun lalu," jelasnya.

Semalam, langit di atas Lembang, Kabupaten Bandung cukup cerah, sehingga penampakan Mars bisa terlihat jelas, berada di sebelah timur, setinggi sekitar 45 derajat. (dwi, dtc,ant-13i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA