logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 28 Agustus 2003 Semarang & sekitarnya  
Line

Ratusan Anak Nelayan Nunggak SPP

SEMARANG- Ratusan anak nelayan di Tambaklorok, Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara, tak mampu membayar uang sumbangan pengembangan pendidikan (SPP). Penghasilan orang tua mereka sudah beberapa bulan ini tidak cukup untuk membayar uang sekolah. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang terpaksa keluar dari sekolah (drop out).

Ahmad Fadoli (35), nelayan Tambaklorok, kemarin mengungkapkan, sejak harga solar naik awal tahun ini, kehidupan para nelayan semakin sulit. Apalagi hasil tangkapan dan harga jual ikan makin merosot.

''Jangankan untuk membayar sekolah, cukup untuk makan sehari saja sudah bagus,'' kata dia di sela-sela membersihkan jaring.

Di bawah terik matahari pada jam sekolah siang kemarin, beberapa anak nelayan bermain-main di atas perahu. Sebagian lagi bermain di Pantai Tambaklorok.

''Sudah sebulan ini saya tidak masuk sekolah karena nunggak SPP setahun,'' kata salah seorang anak, sambil terus bermain.

Bantuan Pelindo

Untuk membantu nelayan, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Cabang Tanjung Emas menyerahkan bantuan Rp 30 juta. Bantuan diserahkan oleh General Manager PT Pelindo III Drs H Supenan MM di halaman SD tersebut.

Bantuan tersebut akan digunakan untuk merehabilitasi gedung sekolah dan biaya operasional. Dari pengamatan Suara Merdeka, sekolah tersebut memang memprihatinkan. Lantainya masih berupa tanah, sementara bangunannya baru setengah jadi atau belum dipelester.

Fadoli menuturkan, setiap kali melaut, satu perahu paling tidak membutuhkan 30 liter solar atau nelayan harus mengeluarkan modal Rp 50.000. Setiap sekali berangkat dua-tiga orang. Hasilnya, bila sudah dibagi rata setelah dikurangi pengeluaran, satu orang hanya mendapatkan Rp 20.000.

''Paling banter Rp 30.000. Itu pun kalau tangkapan banyak dan harganya bisa tinggi. Soalnya, sekarang harga ikan juga sangat rendah. Misalnya udang yang dulu bisa dijual Rp 150.000 per kilogram kini hanya laku Rp 70.000 per kilogram,'' kata Fadoli.

Kini pun dia dan sebagian besar nelayan kesulitan membayar biaya sekolah. ''Ada yang memilih anaknya tidak sekolah daripada tidak bisa makan.''

Anwar (40) juga mengalami nasib serupa. Nelayan yang memiliki dua anak ini tak mampu lagi membayar biaya sekolah anaknya. Ia sudah berusaha mengurangi biaya produksi dengan mengganti bahan bakar perahu dari solar menjadi minyak tanah.(G2-63c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA