
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Semarang & sekitarnya |
Petani Wolo Panen Semangka Tanpa Biji
PETANI Desa Wolo, Kecamatan Penawangan, pantas bersyukur. Sebab, ketika 140 desa di Grobogan dilanda kekeringan, mereka justru panen semangka tanpa biji dari program diversifikasi tanam 2003. Bahkan, hasil panen kali ini mengejutkan para petani di daerah lain, karena seperempat bahu bisa menghasilkan pendapatan kotor Rp 11 juta. Biaya tanam dan perawatan Rp 3,5 juta dan pengembalian ke APBD II 2003 untuk setiap kelompok tani Rp 1 juta - Rp 2 juta. Suprojo (40), petani Wolo mengatakan, pengembalian ke APBD II dipatok Rp 20 juta. Namun, uang sebanyak itu ditanggung beberapa petani. Pengembalian itu dinilai ringan karena tanaman di areal seluas 10.000 hektare berhasil dipanen dengan maksimal. Setiap hektare menghasilkan 5 - 6 ton. Harganya pun menjanjikan. Mereka diharuskan mengembalikan dana APBD II karena tanaman seluas itu merupakan tanaman percontohan yang dipancing dengan anggaran APBD II 2003 Rp 85 juta. Diharapkan melalui lahan percontohan itu petani Wolo dan sekitarnya mampu mengembangkan tanaman buah tahun depan. Dengan begitu, saat musim kering tiba, lahan pertanian mereka tidak dibiarkan bera. Sebaliknya, dimanfaatkan untuk menanam tanaman produktif yang menguntungkan, misalnya semangka tanpa biji. Suprojo mengatakan, hasil yang didapat dari semangka itu jauh lebih bagus dibandingkan dengan panen Februari lalu. Sebab, hasilnya mampu menutup utang pupuk tanaman padi yang belum lunas pada musim tanam sebelumnya. Selebihnya untuk memenuhi kebutuhan hidup pada musim kering. Bahkan, para petani dapat menutup biaya sekolah anak-anak mereka yang masuk SD, SLTP, dan SMU/SMK tahun pelajaran 2003-2004 dengan panen buah itu. ''Kami benar-benar bersyukur. Tanaman ini bebas dari gangguan hama, selamat dari dampak kekeringan, dan selamat dari iklim pancaroba sehingga berhasil dipanen dengan bagus,'' katanya. Sudono (45), juga petani dari Wolo, Penawangan, yang ikut menanam semangka mengemukakan pendapat yang sama. Hasil panen buah itu, kata dia, luar biasa karena sepanjang hidupnya, baru kali ini mendapatkan hasil besar dari jerih payahnya sebagai petani. Ini karena satu kali panen hasilnya dapat digunakan untuk menutup beban usaha tani pada musim sebelumnya dan kebutuhan lain. Bahkan, masih dapat disisakan untuk modal tanam padi pada musim tanam Oktober-Maret mendatang. Tak Perlu Jual Sapi Biasanya, kata dia, setiap musim tanam padi tiba, petani ramai-ramai menjual sapi, kambing, dan emas-emasan yang didapat saat panen padi atau jagung pada musim panen sebelumnya. Sebab, memang itulah modal satu-satunya yang mereka miliki. Namun, tahun ini tidak seperti itu karena petani Wolo dan sekitarnya masih mempunyai sisa keuntungan dari panen semangka. ''Kalau Juli lalu hujan deras dipastikan tanaman itu hancur. Sebab, semangka sama dengan tembakau, tidak tahan air. Maka, sekali diguyur hujan dipastikan hasilnya tidak maksimal,'' katanya. Dia mengusulkan demplot atau percontohan seperti itu dikembangkan di 140 desa yang dilanda kekeringan. Terutama yang tidak jauh dari sumber air seperti sendang, belik, atau pengairan. Dengan demikian, saat tanaman tersebut perlu dikocor, petani tidak kesulitan mendapatkan air. Namun areal persawahan atau tegalan yang betul-betul kering hendaknya tidak dipaksakan untuk ditanami dengan tanaman perkebunan. Sebab, dipastikan tanaman tersebut tidak akan berhasil, mengingat air untuk ngocor sulit didapatkan. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Kehutanan, dan Perkebunan Ir Edhie Sudaryanto mengakui uji coba tanaman semangka tanpa biji berhasil dipanen dengan bagus. Selain petani untung besar, di pasaran barang tersebut laku keras. Karena itu, begitu panen langsung diborong tengkulak dari Sragen, kemudian dikemas dan dipasarkan ke Surabaya, Semarang, dan Jakarta dengan harga lebih tinggi 20-30%. Keberhasilan panen semangka itu juga dilihat oleh Ketua Dewan Septa Yuardi (FPDI-P) dan wakilnya, Drs H Supomo dari FPG. Ia menyambut baik pengembangan demplot seperti itu. . (HA Syamsul Huda-63c) |