
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Semarang & sekitarnya |
''Mengalami Impotensi Sama dengan Kiamat''SALATIGA - ''Kalau seorang pria mengalami impotensi, itu sama saja dengan kiamat!'' tandas Sri Pudjiastuti SH, dari Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapermas) Provinsi Jateng, Rabu (27/7) di Pemkot Salatiga. Dia mengatakan hal itu saat menjadi pembicara pada acara sosialisasi pemberdayaan anak dan remaja tentang hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi. Kegiatan itu diselenggarakan Bina Program Pemkot bekerja sama dengan BKKBN setempat. Diikuti sekitar 50 siswa-siswi SMU. Hanya saja, impotensi cenderung dialami oleh kaum pria yang sudah lanjut usia atau mereka yang terkena penyakit tertentu. Untuk pria yang masih belia, jumlah penderita impotensi masih cukup sedikit. ''Kalau di antara kalian ini, sudah barang tentu tidak ada yang mengalami impoten,'' tutur Sri Pudjiastuti disambut senyam-senyum pelajar pria. Sebelumnya dia mengatakan, perkembangan teknologi dari luar ke Indonesia sekarang ini sudah tak bisa dibendung lagi. Misalnya dalam dunia teknologi informatika berupa internet yang hampir merambah ke seluruh penjuru dunia. Hanya saja, situs yang disediakan tak semua menyajikan hal-hal yang positif akan tetapi ada pula yang sebaliknya. ''Bila adik-adik menyaksikan situs Ayu Azhari, yang penting jangan dilihat pornonya akan tetapi teknologinya,'' ucapnya. Kalau sebuah situs yang menyajikan gambar-gambar pornonya, sudah barang tentu bentuknya bermacam-macam. Misalnya ada yang dari belakang, dari bawah, maupun sang wanitanya berada di atas. Semua itu jangan dilihat bentuknya, akan tetapi ilmu pengetahuannya. Dalam makalah tertulisnya dijelaskan, dalam era global dibutuhkan manusia dengan wawasan global. Yaitu manusia yang mempunyai sensivitas, empati, pandangan perspektif, bertanggungjawab, mempunyai kemampuan refleksi diri, kooperatif, mampu mengatasi konflik dan berpikir sensitif. Manusia global sendiri memiliki ciri kualitas empowerman. Ciri itu merupakan suatu kualitas daya internal kepribadian individu atau organisasi dalam mewujudkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk memperoleh keunuggulan demi kemajuan di masa depan. ''Manusia berkualitas dan berwawasan global akan dihasilkan oleh generasi muda yang berasal dari anak yang bisa bertumbuh dan berkembang optimal dengan potensi genetik, yang optimal dan lingkungan biopsikososial yang kondusif,'' ingatnya. (A2-76) |