
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Semarang & sekitarnya |
Anaknya Sering Diejek TemannyaStatus Lusi Berimbas pada KeluargaUNGARAN- Dijadikannya Lusi sebagai tersangka dalam kasus penculikan Woro Anara, ternyata berimbas pada keluarganya, terutama anak-anaknya, yakni Nur Shella (10) dan Achmad Gea (8). Mereka yang saat ini duduk di kelas V dan III SD Duren 2 Bandungan, sering diejek temannya dengan julukan anak penculik. ''Sebelum tidur, anak-anak bercerita bahwa ada temannya yang menyatakan hal itu (sebagai anak seorang penculik-Red). Saya sedih mendengar hal itu,'' kata Lusi sambil sesekali mengusap air matanya. Sebagai seorang ibu, Lusi menyatakan tidak tega melihat anaknya diperlakukan demikian. Namun, karena teman-teman anaknya tidak tahu permasalahannya, dia hanya mengatakan kepada anaknya bahwa berita tersebut tidak benar. ''Saya bilang kepada anak saya kalau berita itu bohong dan kalian harus bersabar,'' ujar dia kepada Suara Merdeka, Selasa (26/8). Selain itu, dia juga berjanji sebentar lagi kasus ini akan selesai dan tidak perlu takut lagi jika diejek teman-temannya itu. Selain berdampak pada anaknya, bapaknya pun ikut-ikutan terkena imbasnya. Tetangganya banyak yang menanyakan kepada bapaknya, bagaimana dia terlibat dalam kasus ini. ''Untung, Bapak memahami setelah saya jelaskan.'' Bobby, suami Lusi, terlihat lebih banyak berdiam. Dia selalu menemani istrinya saat menceritakan semua persoalan kepada wartawan. Yang mengharukan Bobby adalah ketika Shella, anaknya yang pertama, bersedia menjadi saksi dalam kasus ibunya itu. ''Saya mau menjadi saksi dan ikut ke kantor polisi. Mama jangan takut, nanti Shella akan menjawab pertanyaan polisi,'' kata Boby menirukan ucapan anak perempuannya itu. Alasan anaknya ikut bersaksi, menurut Lusi, karena sebelum kejadian Woro pernah datang ke rumahnya di Bandungan dan tidur satu kamar dengan kedua anaknya itu. Karena itu, tidak heran kalau anaknya akan membela ibunya. (H4-84k) |