
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Semarang & sekitarnya |
28 Itik Diduga Keracunan Limbah
UNGARAN - Warga Kelurahan Gedang Anak, Kecamatan Ungaran, kembali mempermasalahkan limbah pabrik PT Batam Textil Industri. Sebelumnya, sekitar Mei silam, warga juga mengeluhkan bau limbah pabrik tekstil tersebut yang cukup menyengat. Kali ini, Senin (25/8), yang dikeluhkan tidak hanya bau limbah, namun air limbah pabrik itu diduga meracuni 28 ekor itik milik Yarkoni dan Ngatman (keduanya warga RT 5 RW 1, Kelurahgan Gedang Anak-Red). Akibatnya ke-28 ekor itik itu kelenger dan lumpuh. Sebelum mati, ke-28 ekor itik itu disembelih pemiliknya. "Kami sudah memelihara itik itu selama setahun lebih. Kami menuntut pabrik untuk memberi ganti rugi," kata Yarkoni dan Ngatman. Lebih jauh Yarkoni menjelaskan, seperti biasanya dia menggembala 100 itik miliknya di kuburan dekat rumahnya. Namun karena airnya habis, dia kemudian menggiring ke sebelah timur rumahnya, di dekat areal persawahan. Kebetulan air di saluran dekat sawah itu merupakan salah satu jalur pembuangan limbah pabrik tekstil tersebut. "Tak lama kemudian banyak itik yang lemas, namun belum sampai mati. Daripada tidak tertolong, saat itu juga saya sembelih. Saya sudah melaporkan kejadian ini ke Kelurahan Gedang Anak." Ucok Sutrisno S, salah satu karyawan yang menangani limbah PT Batamtex membenarkan adanya kejadian itu. Tapi, lanjut dia, saat tiba di tempat kejadian, bebek-bebek tersebut belum mati. "Saat tiba di sana, bebek itu belum mati. Bebek itu mati karena disembelih," ujar dia. Setelah kejadian itu pihaknya akan meneliti penyebabnya, apakah disebabkan oleh limbah atau karena hal lain. Saat ini dia sudah mengirimkan contoh air yang diberikan penduduk untuk diteliti lebih lanjut di Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) di Semarang. "Di samping itu, kami juga membawa dua itik yang belum mati." Rencananya dua ekor bebek tersebut akan diteliti untuk diketahui penyebab kelumpuhannya. PT Batamtex, kata dia, akan menanggung kerugian 28 itik meski matinya kerena disembelih. "Kami tetap akan memberikan ganti rugi. Bagaimanapun, mereka juga warga kami yang wajib mendapat perhatian," tandas dia. (H4-84n) |