
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Ekonomi |
Yakinkan Konsumen lewat Suku Cadang dan BengkelANDI (30), pengojek yang setiap hari mangkal di kawasan Kesatrian, Jatingaleh, sudah lama punya keinginan mengganti sepeda motornya. Ia meminati motor baru sebagai pengganti motor Jepang yang dia beli tahun 1994. Hitung punya hitung jika membeli motor sejenis uang yang dimiliki jelas kurang. Paling tidak harus menyediakan Rp 10 juta lebih. Atas saran rekannya sesama tukang ojek, Andi melirik motor buatan Cina yang populer disebut mocin seharga Rp 7,5 juta. Namun, ia masih ragu, padahal uang penjualan motor tua ditambah simpanan sebenarnya cukup untuk membeli mocin baru. ''Saya ragu karena katanya mocin ringkih, mudah rusak, dan onderdilnya tidak tersedia,'' ungkap dia. Memang, konsumen sepeda motor meyakini produk Jepang yang rata-rata lebih mahal dari produk Cina, Korea, dan Taiwan kualitasnya lebih baik. Para konsumen lebih menyukai produk Jepang karena spare part atau suku cadang dan dealer serta bengkel-bengkelnya tersedia cukup banyak. Dengan banyak dealer atau bengkel resmi setiap kerusakan bisa dijamin penggantian suku cadangnya. Berbeda dari motor produk-produk Cina, Korea, dan Taiwan yang dianggap masih baru dan belum teruji kualitasnya, kendati konon di negara masing-masing kualitasnya tak diragukan lagi. Namun, pertimbangan utama mengapa konsumen di Jateng masih ragu-ragu memiliki kendaraan bermotor buatan ketiga negara itu adalah karena keterbatasan dealer dan bengkel resmi. Pengguna sepeda motor merek selain merek Jepang tampak masih dibayangi rasa was-was tidak mendapatkan jaminan ketersediaan suku cadang bila motornya rusak. Benarkah demikian? Agung Kurniawan, Manager Sanex Indo Motor Gemilang Semarang, menyatakan anggapan itu tidak benar. Tidak semua produsen motor cina menyepelekan soal servis dan penyediaan suku cadang. ''Sejak diluncurkan beberapa tahun lalu, dukungan servis dan suku cadang Sanex selalu kami perhatikan,'' tegas dia. Namun, dia mengakui persepsi masyarakat terhadap motor cina kurang bagus meski sudah lima tahun lebih beredar di Indonesia. Hal senada diungkapkan oleh Manager Pusat Penjualan Motor Cina Semarang Lianto Prasetyo. ''Tidak semua mocin jelek. Konsumen hanya perlu kehati-hatian ekstra jika memilih merek. Pilihlah yang didukung oleh perusahaan dan pabrik yang tangguh,'' saran dia. Langkah lebih maju diterapkan oleh PT Triangle Motorindo, perusahaan yang memproduksi sepeda motor Viar dalam meyakinkan konsumennya. Perusahaan yang di Jateng berproduksi di Kawasan Industri Terboyo itu akan bersaing dengan cara melakukan alih teknologi. Perusahaan otomotif yang menggunakan mesin Taiwan itu menargetkan pengalihan teknologi dimulai tahun 2005. ''Setelah ada pengalihan teknologi, semua komponen Viar diproduksi di dalam negeri. Kandungan bahan baku dalam negeri juga diperbanyak,'' jelas Akwan, Marketing Director PT Triangle Motorindo. Dia mengatakan selama ini pabrikan motor Viar berupaya memberikan informasi kepada konsumen bahwa produknya berbeda dari mocin karena berasal dari Taiwan. Meski demikian diakui konsumen sudah telanjur fanatik pada motor Jepang. Tak hanya itu, sebagian besar konsumen juga sudah apriori terhadap motor selain merek Jepang. Akibatnya, setiap ada merek motor yang bukan dari Jepang mereka sulit menerima.(53) |