
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Ekonomi |
Pemain Lama Bangkit, Banyak Motor Cina LenyapINDUSTRI motor beberapa tahun terakhir berkembang pesat, terutama oleh kehadiran motor cina. Di tengah-tengah persaingan antarproduk Jepang, seperti Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki yang sudah memiliki pangsa pasar luas di Jateng, produk-produk asal Cina terus mengalir mencari pasar baru. Bahkan, kemudian Korea dan Taiwan ikut pula meramaikan pasar motor baru lewat produk andalannya. Bagaimana peta persaingan dan pasar motor di Semarang, berikut laporan wartawan Suara Merdeka Arie Widiarto. PASAR motor berkembang amat pesat di Semarang. Paling tidak dapat dilihat pada makin banyak dealer baru. Selain itu, hampir tiap pekan digelar pameran di pusat-pusat perbelanjaan. ''Bisa dikatakan, pameran motor paling sering, bahkan tidak pernah kosong,'' kata Andre, staf pengelola Plasa Simpanglima. Persaingan model sekaligus perang harga terlihat di stan-stan pameran dan iklan di media massa. Produsen berlomba-lomba menarik minat konsumen, antara lain lewat iming-iming hadiah dan diskon pembelian. Kendati keberadaan motor di jalanan kian padat dan menyesakkan, sebagian besar produsen menganggap pasar belum jenuh sehingga mereka bersaing keras memperkenalkan produk beserta keunggulannya. Data Kantor Samsat Kota Semarang menunjukkan, hingga Juni lalu penjualan motor di ibu kota Provinsi Jateng itu hampir 20.000 unit. Jumlah itu meningkat 100% dari tahun lalu yang hanya tercatat 10.000 unit. Selain merek-merek buatan Jepang yang sudah lama dikenal, sejumlah merek buatan Cina dan Taiwan yang kini masih bertahan, antara lain Loncin, Kanzen, KTM, Sanex, dan Viar. Korea di samping bertahan dengan Kymco masih punya Bosowa. Yang paling menarik adalah persaingan harga yang ditawarkan. Beberapa merek menjanjikan produk berkualitas dengan harga bersaing. Produk Jepang, misalnya Honda, Yamaha, dan Suzuki saling bersaing dalam harga dengan selisih sangat ketat. Namun secara umum, harga motor buatan Jepang rata-rata lebih tinggi dari produk Cina, Korea, dan Taiwan. Misalnya motor bebek 100-110 cc ke atas bermesin 4-tak, Honda lewat Karisma dan Supra, Yamaha dengan Jupiter, serta Suzuki dengan Shogun mematok harga standar Rp 11 juta - Rp 12 juta on the road. Bandingkan dengan produk sekelas buatan Cina, seperti Sanex, Tossa, dan Viar yang harganya hanya Rp 8 jutaan. Para pemain lama tetap optimistis, pasar mereka tak tergoyahkan oleh eksistensi pemain baru yang unggul dalam soal harga. Suwito, Marketing Manager PT Astra International HSO Semarang, menuturkan, selama Juli pihaknya memasarkan 15.000 unit motor Honda berbagai jenis. ''Jumlah itu meningkat lebih kurang 30% dari bulan sebelumnya, 12.000 unit,'' ujarnya. Persaingan pasar motor yang ketat saat ini, kata dia, masih belum menggoyahkan Honda sebagai pemimpin pasar. Terbukti, hingga Juni 2003 pangsa pasarnya masih di kisaran 56%. ''Sampai akhir tahun ini, kami menargetkan bisa meningkatkan pangsa menjadi 59% dari total pasar motor di Semarang,'' jelas dia. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyebutkan, tahun lalu penjualan motor mencapai angka 2 juta atau naik dua kali dari tahun sebelumnya. Tahun ini secara nasional diperkirakan menjadi naik menjadi 2,5 juta unit. Motor jenis bebek mendominasi pasar hingga 90%. Sisanya 10%, diisi oleh jenis sport dan motor besar. ''Di Jateng juga didominasi motor jenis bebek dan persentasenya hampir sama dengan pasar secara nasional,'' ungkap Soewito. Peluang Besar Memang, peluang pasar motor bebek sangat besar dan menggiurkan. Tidak mengherankan bila Yamaha yang pernah terpuruk sejak awal tahun ini menggebrak pasar lewat promosi besar-besaran terhadap produk barunya. Hasilnya, hingga semester pertama tahun ini, Yamaha mampu meningkatkan pangsa pasarnya pada posisi kedua secara nasional. Bahkan, pada semester kedua diperkirakan angka penjualannya masih akan meningkat lebih kurang 25%. ''Target kami, meningkatkan posisi ke peringkat dua dengan penambahan share sampai 20%,'' jelas Vincen, General Manager PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), pada evaluasi kerja dealer di Hotel Grand Candi Semarang, awal Agustus lalu. Untuk merealisasi harapan tersebut, Yamaha tak main-main. Investasi fasilitas manufaktur dan pendukung terus dikembangkan, antara lain fasilitas produksi 300.000 m2, lebih dari 4.400 teknisi dan staf terlatih, tiga jalur perakitan yang beroperasi 24 jam, serta kapasitas produksi lebih dari 1.600 unit motor per hari. Produsen motor lain juga tak kalah optimistis. Suzuki misalnya, tahun ini berencana meningkatkan produksi dari 300.000 unit menjadi 500.000 unit. Angka itu mengacu pada total penjualan tahun ini yang diperkirakan 2,5 juta unit. Untuk mendongkrak angka penjualan, Suzuki meluncurkan produk terbarunya, motor bebek 4 tak merek Smash. ''Respons terhadap Smash cukup bagus setelah Shogun dapat mendobrak pasar,'' ujar seorang marketing Indomobil, dealer motor Suzuki. Namun, dia tidak bersedia menyebut angka penjualannya. Keyakinan serupa juga diungkapkan oleh pemain lama yang cukup lama ''tidur'', yakni Kawasaki. PT Kawasaki Motor Indonesia tahun ini menargetken penjualan motor semua kelas sebanyak 55.000 unit. Target itu naik lebih kurang 20% dibandingkan dengan tahun lalu yang terealisasi 45.000 unit. ''Peningkatan target dilandasi oleh pertumbuhan penjualan motor di Tanah Air, yang tahun ini diperkirakan 40% atau menjadi 2,5 juta unit,'' kata Rusmin Setiawan, Assistant Manager Marketing and Sales Department didampingi General Manager Kawasaki Jateng Harry Wongsoredjo. Di Jateng, tahun ini mereka menargetkan penjualan 3.000 unit. Pada Juni lalu, target penjualan 250 unit terlampaui. Rusmin mengungkapkan, meski dari sisi perkembangan ekonomi para pebisnis motor tidak begitu optimistis, dari sisi perkembangan penjualan kendaraan justru sebaliknya. Apalagi pangsa pasar kendaraan bermotor saat ini relatif besar. Dari total jumlah penduduk Indonesia, lebih kurang 220 juta jiwa, baru ada kendaraan baru 15 juta unit. ''Pasar kami perkirakan akan terus berkembang. Pada 2005, kami menargetkan pangsa pasar 5% atau naik dari saat ini lebih kurang 2%,'' ungkapnya. PT Kawasaki Motor Indonesia saat ini memiliki pabrik di Jakarta dengan kapasitas produksi 80.000 unit per tahun. Produksi terdiri atas 9 jenis dan andalannya juga di kelas bebek. ''Pada kelas bebek, persentasenya mencapai 80%, sedangkan 20% untuk motor sport,'' jelas Rusmin. Jaringan yang dimiliki saat ini terdiri atas 280 unit sales dan services serta 6.000 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia. Keberadaan jaringan tersebut diharapkan mendukung upaya pencapaian target penjualan tahun ini. Kebangkitan motor-motor jepang selaku pemain lama itu, langsung menggoyahkan motor cina yang merajai pasar dua tiga tahun lalu melalui harga miringnya. Belum ada data resmi, tetapi kini tak sedikit merek-merek motor cina yang hilang dari peredaran. ''Memang, hanya ada beberapa merek yang tetap eksis sampai sekarang,'' ungkap Lianto Prasetyo, Manager Pusat Penjualan Motor Cina Semarang.(53j) |