logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 28 Agustus 2003 Ekonomi  
Line

1 September EDI Diberlakukan di Pelabuhan Tanjung Emas

SEMARANG-Ditjen Bea dan Cukai akan memberlakukan sistem Electronic Data Interchange (EDI) di Pelabuhan Tanjung Emas per 1 September 2003. Demikian diungkapkan oleh Misrikan, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Forwarder dan Ekspedisi (Gafeksi)/Indonesian Forwarders Association (Infa) Tanjung Emas Semarang, kemarin.

''Dengan sistem itu seluruh pengurusan surat-surat dokumentasi dilakukan secara elektronik dari masing-masing kantor importir atau Perusahaan Pengurusan Jasa Kepelabuhanan (PPJK),'' jelas dia.

Dia mengatakan, rencana pemberlakuan sistem EDI sudah diperoleh dari Ditjen Bea dan Cukai awal Agustus lalu. Dua pelabuhan yang sudah memberlakukan sistem EDI penuh adalah Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya.

''Lewat sistem itu, pengurusan surat-surat ekspor-impor bisa lebih cepat sehingga menghemat waktu,'' tambah dia.

Pemberlakuan sistem itu, lanjut dia, akan memberi manfaat bagi pelaku importasi barang, terutama mempermudah pengurusan pengeluaran barang dari pelabuhan. Sebelumnya pengurusan pengeluaran barang dari pelabuhan harus menyerahkan dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setelah membayar di bank yang ditunjuk.

Namun, dia mengakui, saat ini belum semua pelaku kegiatan usaha di pelabuhan, terutama para forwader, siap atas pemberlakuan sistem EDI. Meski biaya hardware (perangkat keras komputer) cukup terjangkau, yakni sekitar Rp 15 juta/unit, implementasinya di lapangan sulit karena berkait dengan instansi lain.

''Instansi itu antara lain pajak dan perbankan sehingga secara keseluruhan prosesnya bergantung pada kinerja instansi terkait,'' jelasnya.

Dispensasi

Untuk itu, kata dia, DPC Gafeksi Cabang Tanjung Emas sudah mengajukan dispensasi kepada Ditjen Bea dan Cukai untuk menunda terlebih dahulu pelaksanaan sistem tersebut. ''Paling tidak memberi waktu, sehingga para anggota DPC Gafeksi yang berjumlah sekitar 140 perusahaan bisa mempersiapkan diri,'' ujarnya.

Selain itu, pihaknya sudah mengajukan surat permohonan keringanan biaya instal software EDI enable dan pelatihan yang semula ditetapkan Rp 2 juta/unit. ''Permohonan itu sudah disetujui dan biaya tersebut tidak dikenakan penuh. Jadi, kita tinggal membeli hardware-nya,'' tegasnya.

Jika sistem EDI diterapkan, kata dia, pemerintah dan konsumen akan diuntungkan karena terjadi efisiensi di berbagai lini bisnis.

Mengenai potensi ekspor-impor Pelabuhan Tanjung Emas akhir-akhir ini, Misrikan menilai cukup menggembirakan. Sepanjang semester pertama tahun ini, rata-rata per bulan mencapai 28 ribu Twenty Equal Units(Teus)/kontainer ukuran 20 feet). Jumlah itu meningkat sekitar 20% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Volume tersebut, menurut dia, terbagi atas ekspor sebesar 16 ribu teus dan impor 12 ribu teus. Volume ekspor-impor terbesar terjadi pada Maret 2003 yang mencapai 29 ribu teus, karena selain merupakan siklus tahunan ada peningkatan nilai perdagangan dari Jateng pada bulan itu.

Arus lalu lintas kontainer ekspor berisi berbagai jenis barang dari Jateng, antara lain mebel, garmen, dan kerajinan. (G2-53i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA