
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Ekonomi |
Bulog Buka Lagi Tender Imbal DagangJAKARTA-Perusahaan Umum (Perum) Bulog mengundang lagi para pengusaha untuk mengikuti tender komoditas imbal dagang dengan Rusia. Pembukaan tender tersebut dilakukan awal bulan September. Demikian kata Direktur Utama Widjanarko Puspoyo di kantornya, kemarin. Menurut dia, nilai imbal dagang tersebut sebesar 30 juta dolar AS untuk pengiriman hingga Desember 2003. Komoditas yang diminati Rusia antara lain kakao, karet, rotan, dan teh. Pengiriman komoditas senilai 15 juta dolar AS yang merupakan pembayaran kedua, lanjut dia, telah siap direalisasi 30 Agustus ini. Dengan demikian ditambah pembayaran pertama 26 juta dolar AS, Bulog telah membayar 46 juta dolar AS. Sementara itu Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini MS Soewandi mengatakan Indonesia dan Pakistan tengah menjajaki imbal dagang komoditas unggulan masing-masing negara, terutama yang masuk kategori tekstil dan produk tekstil, misalnya katun, serta poduk pertanian. Kemitraan Pakistan, menurut dia, mengharapkan ada kemitraan ekonomi yang dekat dengan Indonesia. Kedua negara akan melakukan imbal dagang untuk meningkatkan perdagangan. Sebelumnya, Rini mengunjungi Pakistan dan India untuk menjajaki perdagangan dan kerja sama ekonomi. ''Cotton yarn dari Pakistan cukup bagus dan bisa dijadikan bahan baku yang dibutuhkan industri tekstil dan produk tekstil nasional. Sebaliknya, Pakistan membutuhkan polyester dari Indonesia untuk industri tekstilnya,'' ujarnya. Selain itu, kata dia, Pakistan membutuhkan pakaian jadi dan sepatu dari Indonesia karena industri sepatu di sana belum berkembang sebagaimana Indonesia. Selain komoditas manufaktur, negara itu menawarkan produk pertanian, antara lain gula dan beras. Namun Indonesia tidak bersedia mengimpor beras dari sana karena jenisnya tidak sesuai dengan selera konsumen di sini. ''Kita mungkin akan impor gula dari Pakistan, tetapi tidak akan impor beras karena tidak cocok dengan konsumen Indonesia,'' tandasnya. Atas dasar keinginan kemitraan ekonomi yang lebih dekat, tutur dia, Indonesia meminta Pakistan menurunkan tarif minyak kelapa sawitnya karena komoditas itu termasuk unggulan yang ingin diimbaldagangkan Indonesia.(tri-53) |