logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 28 Agustus 2003 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Perpustakaan Sekolah Kesulitan Sediakan Buku Bacaan

MENUMBUHKAN kegemaran membaca di kalangan pelajar merupakan tanggung jawab semua pihak, baik guru, masyarakat, maupun pemerintah. Kendala utama bagi pengelola perpustakaan umumnya masih berkutat pada penyediaan buku bacaan. Beberapa sekolah mengakui kesulitan menyediakan buku bacaan umum di luar buku pelajaran.

''Persoalan lain, kepala sekolah kurang memperhatikan betapa penting membudayakan kegemaran membaca,'' ujar seorang guru SLTP di Brebes utara.

Kondisi perpustakaan SLTP 1 Tonjong, misalnya, tak beda dari sebuah gudang barang bekas. Buku di rak, koran lusuh terbitan lama, dan meja baca berdebu. Ruangan 6 x 6 m sangat kumuh. Tembok luar dipenuhi coretan dan lantai kotor.

''Ruang perputakaan ini ditunggui seorang guru, yang bergiliran ketika istirahat. Karena dekat lapangan, banyak debu masuk,'' kata Wakil Kepala SLTP 1 Dra Siti Alqomah.

Siti mengakui sebagian besar buku didrop dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku pengetahuan umum relatif sedikit, sedangkan koran dan majalah tak ada. Di sebuah lemari besar di sudut timur memang ada buku paket sekolah terbuka.

''Buku-buku paket sekolah terbuka masih baru.''

Kesan perhatian yang kurang terhadap perpustakaan itu sangat terasa. Karena itu tak heran jika para siswa saat istirahat memilih bermain bola atau bergerombol bersenda gurau ketimbang memadati perpustakaan.

Di rak buku ada buku agama, bahasa, ilmu sosial, filsafat, ilmu pengetahuan umum, olahraga, seni, dan sastra. Namun semua itu buku pelajaran yang biasa dihadapi siswa di ruang kelas. Buku bacaan umum nyaris tak ada. Padahal, sebagian siswa yang tinggal di pedesaan itu sangat mendambakan bacaan penambah pengalaman.

Kondisi Berbeda

Langkah berbeda dilakukan para mahasiswa yang kuliah di Semarang. Warga Desa Larangan, 20 km arah selatan kota Brebes, itu ternyata berpikiran lebih maju ketimbang pengelola sekolah.

Mereka menghimpun dana secara swadaya dan pada 25 Juli mendirikan Taman Bacaan Kabel. Mereka memperoleh nama itu karena terinspirasi koran dinding yang mereka buat semasa sekolah.

''Kabel merupakan perkumpulan mahasiswa perantau asal Larangan di Semarang. Itu berarti Keluarga Besar Larangan Brebes di Semarang,'' kata Ketua Prana Pradana.

Program mereka bukan contekan dari kegiatan "RCTI Peduli" di Desa Pamedaran, Kecamatan Ketanggungan.

Sebab, sebelum RCTI mendirikan taman bacaan di Pamedaran, para mahasiswa kreatif itu sudah membangun taman bacaan di rumah seorang anggota, di Jalan Tirto 28 Larangan (depan Pasar Larangan).

Berapa buku milik Kabel? Edy Sulistiyanto, pembantu umum, menuturkan saat ini ada 700 judul. Itu meliputi buku kependudukan, umum, cerita, dan majalah.

''Kami memang kekurangan buku cerita anak-anak dan bacaan populer. Jika ada pihak yang ingin membantu kami terima dengan tangan terbuka,'' kata dia.

Apa target mereka melalui program taman bacaan itu? Prana Perdana menyatakan mereka ingin ambil bagian untuk mencerdaskan bangsa. ''Daripada begadang atau tawuran, kami arahkan anak-anak desa agar gemar membaca.''

Mereka berharap wadah itu menjadi wahana pemersatu organisasi kepemudaan di Kabupaten Brebes.

Paling tidak mereka akan dikunjungi anggota organisasi lain untuk tukar pengalaman dan pikiran mengenai upaya peningkatan sumber daya manusia masyarakat Brebes. (Wahidin Soedja-80g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA