logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 28 Agustus 2003 Jawa Tengah - Pantura  
Line

"Jangan Malu Sebut Kajen"

KAJEN- Memiliki hari jadi bagi daerah seperti Kabupaten Perkalongan sangat besar manfaatnya. Khususnya bagi generasi penerus, bisa mengetahui sejarah daerah asalnya. Pada giliranya nanti, mampu menumbuhkan sense of belonging, sebagai modal dasar membangun daerah.

''Sebab itu, ada baiknya sejarah berdirinya Kabupaten Pekalongan diajarkan di sekolah sebagai muatan lokal,'' kata H Rico M Room, mantan Kabag Humas Pemkab Pekalongan, kemarin.

Dia yang ikut membidani penelitian sejarah berdirinya daerah santri itu mengatakan, tanpa bantuan dari semua lapisan masyarakat terutama para alim ulama, mustahil hari jadi Pekalongan bisa ditemukan.

Kota Kajen sebagai ibu kota kabupaten, menurutnya, harus dipacu perkembanganya agar mampu menjadi pusat pemerintahan sebagaimana layaknya daerah lain. Hal itu mengingat sebelum dijadikan ibu kota kabupaten, kota kecamatan itu belum banyak diketahui orang.

Bahkan, menurut Rico, yang kini menjabat sebagai Kasubdin Pasar di Dipenda, Desa Pekajangan Kedungwuni justru lebih dikenal di daerah Yogya. Hal itu karena banyak pemuda Pekajangan yang menuntut ilmu di Kota Pelajar itu. Itu terjadi sekitar tahun 1960, sebelum ibu kota Kabupaten Pekalongan hijrah ke Kajen.

Untuk memopulerkan nama Kajen, dia berpendapat, masyarakat melalui berbagai kegiatan bisa mengedepankan nama ibu kota itu daripada nama Kabupaten Pekalongan. Selain itu, setiap mengenalkan diri di luar daerah, seperti warga yang bekerja di Jakarta atau menjadi TKI di luar negeri, jika ditanya asalnya diharapkan menyebut dari Kajen. Dengan demikian, nama Kajen bisa cepat dikenal orang.

''Selama ini kebanyakan warga bila ditanya asalnya menyebut dari Pekalongan, untuk menyebut asal Kajen banyak yang malu,'' kilahnya. (Syam Dakrita-80k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA