
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
Rencana Pengadaan Taksi Masih Kajian AwalPURWOKERTO-Rencana pengadaan taksi di Purwokerto masih dalam tahap kajian awal, belum menjadi keputusan. Pemkab baru mengumpulkan informasi dari semua kalangan masyarakat. Apakah angkutan umum itu sudah dibutuhkan, bagaimana peluang usahanya dan apa dampak yang mungkin timbul. Hal itu dijelaskan oleh Kepala Dinas Perhubungan dan LLAJ (Dishub LLAJ) Kabupaten Banyumas Drs Heru Santoso, kemarin. Menurutnya, taksi merupakan salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan angkutan umum pada malam hari di Kota Kripik itu. Angkutan kota (angkota) beroperasi mulai pukul 06.00 sampai 17.00. Penambahan waktu operasional sulit dilakukan, karena ada kesepakatan tak tertulis antara Koperasi Angkota dan tukang becak. Yaitu, angkota beroperasi dari pagi sampai pukul 17.00, setelah itu giliran tukang becak mencari nafkah. Kalau menambah jam operasi angkota, awaknya akan kelelahan. Untuk mengadakan angkutan jenis baru akan berdampak pada yang sudah ada, seperti becak dan ojek. Karena itu, dipilih taksi yang memiliki pangsa pasar sendiri, masyarakat kelas menengah ke atas. Heru mengaku masih mencari format terbaik dalam pengoperasian kendaraan itu. Mungkin siang hanya melayani panggilan, dari rumah penumpang ke tujuan. Malam baru mencari penumpang di jalan, atau mangkal di tempat tertentu. ''Semua masih dipelajari,'' ujarnya. Pro dan Kontra Masalah itu juga telah dibahas Pemkab bersama masyarakat dari berbagai kalangan, baru-baru ini. Dalam pertemuan yang dipimpin Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Asekbang) Banyumas, Suyatno SSos, masih terjadi pro dan kontra di antara hadirin. Yuli, dari Paguyuban Sopir Stasiun Raya (PSSR) Purwokerto meminta anggota paguyubannya direkrut menjadi pengemudi taksi. Pemilik mobil yang beroperasi di tempatnya bekerja juga dilibatkan dalam pengadaan angkutan umum itu. Penumpang KA yang turun di Purwokerto sebagian besar dijemput kerabat. ''Karena itu, sekarang taksi belum layak,'' tandasnya. Pengusaha bus dan travel, Mukimin, berpendapat, rencana itu perlu dikaji dulu karena menyangkut persoalan rawan dan berdampak luas. Antara lain menyangkut calo, kendaraan pelat hitam yang melayani penumpang pada malam hari serta dampak politik. Karsono, dari PHRI Baturraden, mengatakan, dia sepakat ada taksi, karena sudah banyak hotel. Dunia usaha membutuhkan angkutan umum itu. Mantan Ketua DPRD Banyumas H Warsono juga mendukung, karena di kota Purwokerto banyak hotel berbintang. Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Mukseno SH mengatakan, pada dasarnya warga Purwokerto setuju adanya taksi. Hanya bagaimana mengelola dampak yang mungkin timbul. ''Jangan sampai saudara kita yang menjadi tukang becak dan ojek tersingkir, sehingga perlu penataan yang tepat. Pangsa pasar taksi dan becak/ojek berbeda,'' ujarnya. Sebelum menutup pertemuan, Suyatno mengungkapkan, pernah ada pertemuan warga kota di eks pendapa Kota Administratif. Warga mengusulkan perlu ada taksi untuk menghidupkan perekonomian. ''Di surat pembaca media cetak juga ada warga yang mengusulkan serupa,'' katanya. (bd-20k) |