
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
IDI Siap Teliti Kematian DanangBANJARNEGARA - Kalau ada aduan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Banjarnegara siap membantu keluarga korban meneliti penyebab kematian Afthoni Danang Sapto Aji (14 bulan) yang meninggal setelah dianestesi tim dokter RSI menjelang operasi bibir sumbing. ''Tugas organisasi perofesi ini menjaga standardisasi medis pada anggotanya,'' kata Ketua IDI dr H Marifan Jamil MPH yang diminta tanggapan soal kasus balita itu di ruang kerjanya, kemarin. Tanpa aduan pun, kata dia yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), pihaknya secara kedinasan berhak menanyakan pada Direktur RSI dan tim dokter soal yang sebenarnya, apakah tindakan mereka telah lewat prosedur tetap. Alumnus FK Undip itu belum berani menyimpulkan penyebab kematian anak tersebut sebelum menelaah catatan medis pasien tersebut. Untuk mengetahui apakah telah terjadi kesalahan prosedur, diperlukan pemeriksaan oleh Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK). Semua Berisiko ''MKEK hanya ada di kota besar yang memiliki perguruan tinggi/fakultas kedokteran. Namun di sini bisa dibentuk tim semacam itu yang terdiri atas dokter senior yang duduk di kepengurusan IDI,'' ujarnya. Ketika terjadi kasus seperti itu, ingatnya, tidak semua kesalahan dikategorikan malpraktik. Sebab, semua pasien yang sedang ditangani dokter/perawat, apalagi yang akan menjalani operasi, berisiko seperti itu. ''Malpraktik, jika ada unsur kesengajaan. Kalau tak ada unsur kesengajaan, mungkin karena kesalahan prosedur tetap atau kondisi pasien itu,'' katanya. Memang ada seorang pasien yang bisa bertahan ketika dimasukkan imunolog atau obat ke tubuhnya. Namun ada juga pasien yang langsung bereaksi negatif saat dimasuki sesuatu ke tubuhnya. Kemungkinan lain pasien itu punya penyakit tapi tidak atau belum terdeteksi. ''Untuk menghindari kesalahan seperti itu, sebelum melakukan tindakan medis petugas melihat catatan medis pasien sebelumnya,'' katanya. Dari kejadian itu bisa diambil hikmahnya. Sudah saatnya rumah sakit swasta itu meningkatkan layanan dengan mengadakan peralatan medis yang bersifat darurat. Sebab, tugas para petugas medis sering berpacu dengan waktu agar pasien bisa selamat. ''Banjarnegara masih kekurangan dokter spesialis, termasuk ahli anestesi. Tenaga anestesi satu-satunya yang ada di kota ini lulusan ahli madya (diploma 3),'' ujarnya (A9-20c) |