
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Jawa Tengah - Banyumas |
821 Warga Terserang Penyakit Diare
CILACAP - Dampak musim kemarau di Cilacap juga berpengaruh terhadap tingkat kesehatan masyarakat. Terutama menyangkut munculnya berbagai penyakit musiman, seperti diare, tipus, kolera dan penyakit kulit. Selain itu, masalah konsumsi makanan yang menurun (gizi buruk) dan pola hidup yang tidak sehat. Dari catatan Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) setempat, sampai awal Agustus lalu warga yang terkena diare mencapai 821 orang. Dari jumlah itu, Kepala Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) dr Suprihadiono mengatakan, paling banyak dialami anak-anak yaitu 367 kasus, sisanya merata untuk usia remaja dan dewasa. Data tersebut baru sebatas laporan 10 Pukesmas dari 35 unit Puksemas yang ada di seluruh Kabupaten. Kebanyakan kasus itu dialami warga di daerah dataran rendah yang selama ini rawan masalah kesehatan dan pangan. Daerah yang terkena dampak kesehatan, ujarnya, tidak jauh berbeda dengan daerah yang lahan pertaniannya terkena puso (data Dinas Pertanian) atau daerah/desa yang kesulitan air bersih (data Bagian Sosial). Batas Normal Daerah-daerah itu meliputi Kecamatan Kawunganten, Bantarsari, Gandrungmangu, Patimuan, Sidareja, Cipari, Kedungreja, dan sebagian Jeruklegi. Dan dua kecamatan di wilayah Cilacap timur, seperti Kecamatan Nusawungu dan Binangun. Kepala DKKS dr Suprihadiono didampingi Kasudin Pelayanan Pengembangan Kesehatan dr Maria Chilfati kepada Suara Merdeka kemarin nenjelaskan, saat musim kemarau/kekeringan kecenderungan penyakit yang muncul ada dua jenis. Golongan pertama, kategori penyakit saluran pencernaan (Gastroentritis) seputar penyakit perut seperti diare, muntaber, dan tipus. Kedua, kategori fisik yaitu penyakit kulit (Scabies) seperti gatal-gatal. ''Namun sejauh ini untuk kasus tersebut masih dalam batas normal. Belum kita temukan adanya kejadian luar biasa (KLB) sampai menyebabkan kematian. Ini karena tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan mulai meningkat serta antisipasi dini dari dinas dan instansi terkait,'' ujar Prihadiono. Lebih lanjut Kepala DKKS mengemukakan, daerah yang rawan pangan mempunyai kecenderungan tingkat pemasukan gizi ke dalam tubuh setiap orang berkurang, akibatnya daya tahan tubuh mereka menurun. Maria menambahkan, dari hasil penelitian DKKS, dari kurang lebih 1,7 juta penduduk Cilacap ternyata masih ada sekitar 34,4% yang belum menikmati air bersih. Kebanyakan berada di wilayah desa/daerah dataran rendah, sedang 65,6% yang menikmati terpusat di kota. (yud-20s) |