
| Kamis, 28 Agustus 2003 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Tak Ada Nasi, Gaplek pun JadiKEKERINGAN yang melanda Gunungkidul tampaknya semakin parah. Kecuali kekurangan air bersih, masyarakat juga mulai kekurangan bahan pangan. Beberapa waktu terakhir ini mereka mengonsumsi gaplek dan sega aking (nasi basi dikeringkan). Gaplek adalah ketela pohon yang dikeringkan sebagai bahan thiwul, sedangkan sega aking yaitu sisa nasi yang dijemur lantas dimasak lagi. Kondisi seperti itu terlihat di Panggang Gunungkidul. Mbah Sawi (70) misalnya, karena beras langka, dia memanen ketela yang tak seberapa kemudian dijemur kira-kira lima hari hingga seminggu menjadi gaplek. Setelah itu, gaplek diolah dan dimasak menjadi thiwul, makanan tradisional yang sudah sangat jarang ditemui. Sambil menggendong cucunya, dia juga menjemur sisa nasi yang sudah kering. Sesudah tidak basi karena terkena sinar matahari, nasi tersebut dimasak lagi dicampur dengan parutan kelapa. Rasanya memang tidak seperti nasi baru, tapi cukup untuk mengisi perut. "Sakniki kula boten kiat malih kados riyin, nggih namung semanten gaplek saking kebon," ujarnya ketika ditemui Suara Merdeka baru-baru ini di rumahnya yang terbuat dari gedhek, anyaman bambu dan kayu. Dia tak mampu lagi seperti dulu memanen terlalu banyak ketela. "Badan saya tak lagi kuat menyangga tenggok berisi umbi." Perempuan renta itu hanya duduk sambil menggendong cucu menunggui sega aking-nya agar tidak dimakan ayam. Dia memegang sebilah bambu kecil panjang untuk mengusir ayam. Karena bahan pangan pokok mulai susah didapat, terpaksa gaplek yang dulu dijual sekarang untuk konsumsi sendiri. Jika anak dan cucunya kangen dan menengoknya, hanya makanan itu pula yang bisa dia sediakan. Harga Turun Di sepanjang jalan dari Parangtritis, Bantul menuju Panggang, Gunungkidul terlihat masyarakat sekitar mengupas, mencuci, lantas menjemur ketela pohon. Itulah satu-satunya makanan pokok mereka jika kemarau makin panjang dan tak ada panen beras. Ditemui di tengah ladang gersang, Ny Sugiah (40), mengungkapkan kegetiran hatinya. Sembari mengupas ketela, dia mengatakan, harga gaplek saat ini turun drastis, karena panen tak begitu baik. Pada tahun lalu harga masih Rp 500/kg dan gaplek basah bahkan pernah mencapai Rp 800. "Sekarang harga terus turun. Sudah dua hari ini lumayan stabil, bisa Rp 250/kg basah dan Rp 300/kg kering, mungkin bisa turun lagi," katanya. Kebun ketelanya kini sekali panen menghasilkan tiga kuintal, pada tahun lalu bisa untung lima kuintal. Jumlah sebesar itu tak sepadan dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan mulai dari mengolah tanah, menanam bibit, memanen, dan membuat menjadi gaplek. Satu kuintal saja hanya Rp 25.000. Bayangkan, dalam sekali panen dia hanya memperoleh uang Rp 75.000 dengan catatan semua dijual. Belum lagi dikurangi untuk konsumsi keluarga, suami, dan lima anak. "Lain dengan tahun lalu, harga gaplek masih cukup tinggi sehingga masih ada sedikit sisa uang untuk keperluan lain. Sekarang petani sedikit panen, karena musim hujan pendek dan agaknya kemarau akan makin panjang," ujarnya lirih. Namun, dia masih menyimpan harapan semoga hujan segera turun, sehingga tanaman tumbuh subur. Pasalnya, mereka memang sangat bergantung pada curahan air hujan. Di tengah kegetirannya, dia dan Mbah Sawi masih menyisakan harapan, esok pasti lebih baik.(Agung PW-42e) |