logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 28 Agustus 2003 Budaya  
Line

Pencarian Rumah yang (Dulu) Hangat

ADA yang hilang ketika zaman bergeser dari agraris ke industrialis. Apa? Paling tidak, itu ada pada soal keintiman dan kehangatan hubungan antarrumah. Ya, dinamika yang hangat dari satu rumah ke rumah lainnya seolah-olah sirna didesak oleh banyak hal: politis, ekonomis, juga kultur.

Sebuah keluarga terjebak dalam bingkai rumahnya sendiri. Tak ada lagi peristiwa kecil yang mengakrabkan, misalnya, sekadar bertukar bumbu dapur.

Atribut lain yang mengikutinya pun ikut bergeser. Tontonan massal atau hiburan rakyat misalnya, tak pelak mulai jarang tersaji. Padahal, dulu sebuah kampung hampir selalu tak pernah sepi dari tontonan -hiburan yang membuat penduduk saling srawung.

Maka, terciptalah kehidupan yang serbadingin, berjarak, dan pasif. Dinamika sosial menjadi beku. Kalau toh ada aktivitas dinamis, itu pun lebih sebagai sebuah perayaan seremonial -peringatan tujuhbelasan misalnya.

Nah, bersandar dari semangat memaknakan kembali bahwa kita pernah memiliki dinamika sosial yang hangat, Limpad -sebuah media pembelajaran komunitas yang ada di Semarang- akan menggelar ''Pasar malam di Pekarangan Rumah Kita'', Sabtu (30/8).

Berbagai acara digelar, mulai diskusi, sarasehan, ngobrol bebas, sajian kesenian, pameran, dan bazar. Limpad, lewat acara itu, seperti menjanjikan suasana yang serbahangat dan akrab. Acara digelar di pekarangan rumah Hertoto Basuki, Ketua Kadinda Jateng, Jl Durian Raya, Banyumanik, Semarang.

''Acara sehari semalam itu seyogianya dimaknakan sebagai media pembelajaran. Acara yang tak melulu bergerak dalam soal wacana, tapi manifestasi praktisnya. Anda bisa lihat misalnya pada acara Ngobrol Sepasaran Gubernur, itu waktu untuk bicara apa saja secara bebas. Tentu saja berfokus pada isu-isu yang tengah berkembang di masyarakat,'' ujar Koordinator Limpad Adriani Sumampouw Soemantri.

Beragam

Selepas pembukaan pukul 07.00, sarasehan bertajuk ''Dalang dan Kebatinan Jawa'' digelar pukul 10.00. Itu merupakan presentasi dari buku berjudul Dalang, Negara, Masyarakat karya Dr M Jazuli, staf pengajar Unnes, yang diterbitkan Limpad. Buku tersebut merupakan hasil penelitian tahun 1997-1999.

Pertanyaan paling mendasar pada sarasehan itu itu adalah: benarkah greget wayang telah hilang karena para dalang?

Selanjutnya diskusi ''Bilung Kesasar'', buku yang diterbitkan Limpad dari kolom rutin budayawan Darmanto Jatman di harian Kedaulatan Rakyat. Fokus buku itu lebih banyak berbicara mengenai persoalan keseharian dalam hidup.

Berikutnya adalah ngobrol ''Sepasaran Gubernur''. Yakni sebuah acara bebas, perbincangan akrab antara Gubernur Mardiyanto dengan siapa saja yang hadir. Dalam acara itu agaknya Mardiyanto bakal teruji; seberapa jauh dia dekat dengan rakyat? Di sela acara ngobrol akan tampil dua hiburan, yakni Kasidah murid SD di Wonosobo dan sebuah kelompok campursari dari Magelang.

Hingga akhirnya, beberapa tontonan digelar. Seperti performance art Bowo Kajangan. Dia akan mencoba memaknakan bumi, air, dan padi dalam pertunjukannya. Disusul Pidato Kebudayaan dari Ariswara Sutomo, budayawan asal Magelang yang akan berbicara soal ''taksu'' (greget Jawa) yang mulai diliput kabut.

Darmanto Jatman dan Sutanto Mendut, dua sosok yang penting bagi Gubernur Mardiyanto saat ramai persoalan ''Jagad Jawa'' juga tampil. Darmanto akan membacakan puisi tentang rumah dan Borobudur, sedangkan Sutanto menyajikan ritual ''Ondo Kencono'' sebagai dedikasi pada ''saudaranya'' Darmanto Jatman yang pada 16 Agustus lalu berusia 61 tahun.

Sebagai pamungkas adalah pementasan Wayang Dongeng dari Sanggar Seni Paramesthi dengan lakon ''Macan Gareng''. Barangkali memang menarik untuk menyaksikan bagaimana beragam tema dan isu mengemuka dalam sehari di dalam kehangatan sebuah pekarangan rumah.(Saroni Asikin-79)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA