logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 28 Agustus 2003 Budaya  
Line

Pesta Sastra Internasional (1)

Di Manakah Ujung Derita, O Bafana!

BERITA atau apa pun namanya, ternyata punya tanah air di mana-mana. Itu bisa dibuktikan dalam perhelatan Pesta Sastra (Internasional) Utan Kayu 2003 di Taman Budaya Surakarta, 25-26 Agustus. Antara lain melibatkan A Mustofa Bisri (Indonesia), Adriaan van Dis (Belanda), Ahmad Tohari (Indonesia) Changa Hickinson (Saint Martin), Chitra Gajadin (Belanda), Timur Sinar Suprana (Indonesia) dan Sello Duiker (Afrika Selatan) acara bertajuk Iman! atau Faith! itu memang menguarkan berbagai tema-tema penderitaan yang dialami oleh manusia dari berbagai negeri.

Ahmad Tohari yang tampil pada hari pertama (25/1), misalnya, membeberkan teks-teks yang berkait dengan kekejaman tentara terhadap orang-orang yang disangka sebagai komunis. Karena terlalu realistis menggambarkan arogansi kekuasaan, teks itu ''dimutilasi'' (dihilangkan) oleh penerbit, sehingga baru muncul dalam Ronggeng Dukuh Paruk versi terbaru. Tak terlalu penting membahas cara Tohari membaca, yang jelas suara penderitaan Rasus, Darsinah, dan orang-orang yang tak bisa menolak siksaan tentara itu, terwartakan dari mulut pengarangnya sendiri.

Suara kesakitan anak-anak jalanan di Afrika Selatan juga muncul dalam nada yang getir dari novelis Sello Duiker. Pria energik yang sangat terlibat dengan kehidupan anak-anak jalanan itu menceritakan penderitaan Bafana, perempuan kecil sembilan tahunan yang harus melayani nafsu seksual orang-orang dewasa. Kegetiran itu lebih menajam ketika kisah itu dihadirkan dari sudut pandang Azure, bocah kecil yang beranjak menapak kehidupan sebagai laki-laki remaja.

Sello membacakan secara ''biasa'' novel itu. Namun karena di layar putih (yang membentang di belakang) muncul terjemahan naskah tersebut dalam bahasa Indonesia yang getir, sehingga, saya pun bergumam, ''Bafana! Bafana! Di manakah ujung derita?''

Luka Suriname

Dan, kabar dari Suriname? Chitra Gajadin (perempuan keturunan India yang lahir Suriname dan besar di Den Hag) itu rupa-rupanya juga tak bisa membebaskan dari suara sang derita yang meraung-raung di puisi-puisinnya. Dalam sajak ''Bersamamu Negerimu Meratap'', misalnya, dia bilang, ''Negerimu kaubiarkan tertutup/ di bawah selimut cinta/ kau bermimpi dalam tidur/nyenyak/ (di) sebuah negeri lain/.

Chitra yang senantiasa merindukan negeri sejati rupa-rupanya merasakan tekanan-tekanan yang mengharu biru. Dia tak pernah punya rumah. Karena itu dalam ''Ada dan Tiada'' dia menulis, ''Cahaya yang bermain berayun-ayun/ kau dan aku ingin/ ada dan tiada/ jauh di depan mata/ memukul kehampaan pada gua//.

Mengapa segala derita mengalir tanpa bisa dibendung? Raudal Tanjung Banua bisa menjawab pertanyaan itu. Ketika membacakan sajak ''Gaun untuk Ibu'', misalnya, dia mendikotomikan peran ''kepriaan'' dan ''keperempuanan'' dalam garis yang terjal. Sang ayah, dalam teks itu, bisa memberikan apa saja (termasuk gaun), tetapi dia juga berhak mengatur penampilan sang ibu. Sang ibu memang tampil cantik, tetapi dia dipaksa mengikuti kontruksi pikiran Ayah.

Penderitaan, kehilangan, dan kehancuran adab hidup juga muncul dalam sajak-sajak Raudal yang lain. Dan karena dia membaca sajak ''Sirih Pinang'' dalam cara-cara ''purba'' (melarat-larat bak orang berkaba), kesakitan sebagai orang yang kehilangan menghunjam ke hati para pendengarnya.

''Aduh! Aduh! Derita (aku lirikmu) sungguh lebih tajam dari parang, Raudal!'' gumam saya seperti desis luka yang tertahan.

Lalu, apakah tak ada tawa atau kegembiraan yang meledak-ledak dalam acara yang dikelola oleh penyair Sitok Srengenge, Goenawan Mohammad (TUK), Murtidjono (TBS), Juliana Wilson (Lontar), Winternachten, dan Australia Indonesia Institute itu?

Oo...Gus Mus yang tampil pada hari kedua (26/8) tentu meledek bangsa ini dengan nyinyir dan penuh canda lewat sajak ''Rasanya Baru Kemarin''. Namun, teks yang berkisah tentang ''kemerdekaan'', ''bokong'', dan ''Inul'' itu justru mengiris-iris hati. Canga memang lincah menyanyi saat membacakan sajak-sajak pemberontakan. Namun, karena dia bilang, ''korupsi jadi konstitusi'' dan ''suap menyuap dan pencoleng tanpa hukuman'', akhirnya sajak-sajak yang disenandungkan pun hadir ke jiwa penonton sebagai sebuah kegetiran.

Adrian juga setali tiga uang. Dia ''merengek-rengek'' ketika menggambarkan penderitaan ''Mr Java''. Timur? Aduh! Di luar dugaan penyair yang suka membaca ''sajak cinta'' ini juga menonjok-nonjok penonton dengan ''kecemasan'', ''kelaparan'', ''umur bangsa yang hampir habis'', dan ''angin'' yang memorak-porandakan segala yang bernama ''kehidupan''.

Dan saya? Aduh, saya yang tak berani tampil lucu, hanya membacakan penderitaan seksual bangsa ini ketika menghadapi represi kekuasaan yang sok mengatur cara menggoyangkan pantat dan memaknai keindahan percumbuan.

Saya justru bisa tertawa saat Denise Jannah (Suriname) melantunkan lagu-lagu jaz yang digubah dari puisi para penyair Belanda dan Suriname. Saya bisa tertawa ketika Jannah bilang, ''Saya punya saudara di Suriname. Namanya Legimin. Dia titip salam pada orang-orang Jawa.''

Namun, saya kemudian sangat sedih, karena puisi, cerpen, dan novel masih menjadi tanah air bagi penderitaan. (Triyanto Triwikromo/bersambung-79)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA