
| Selasa, 12 Agustus 2003 | Surat Pembaca |
Para Eksekutif Muda, Ayo Nongkrong di Cafe
Edisi Minggu 3 Agustus lalu, Suara Merdeka menulis liputan merebaknya tren nongkrong di cafe mal dari kalangan remaja dan eksekutif muda. Melalui deskripsi dan gaya bahasa yang sangat menarik, penulisnya berusaha membawa pembaca ke dalam pengalamannya saat meliput tren tersebut. Dikisahkan dia secara kebetulan bertemu dengan koleganya bernama Danny, seorang public relation sebuah hotel di cafe Mal Ciputra pada hari dan jam kerja. Suasana di tempat kerja Danny membosankan dan dia berusaha refreshing. Bukan kebetulan kalau para kolega mengenal saya sebagai Dani (walaupun ejaannya tidak serupa dengan Danny yang ada di artikel, namun bunyinya sama). Bukan kebetulan kalau beberapa waktu lalu saya pernah bekerja di sebuah hotel sebagai public relation officer. Bukan pula merupakan kebetulan kalau saya mengenal penulisnya di pameran foto. Dengan segala "kebetulan" dan "bukan kebetulan" , artikel tersebut telah menyebabkan orang-orang yang mengenal saya menjadi bertanya-tanya apakah tokoh Danny di artikel tersebut adalah saya. Dengan sedikit rasa geram, saya jawab bukan saya. Mungkin nama dan pekerjaan tokoh tersebut sama dengan nama dan pekerjaan saya dulu. Namun dalam konfirmasi penulisnya kepada saya, tokoh Danny adalah rekan dia saat kuliah dan kini sebagai public relation sebuah hotel di Jakarta yang berlibur di Semarang. Aneh memang, karena konfirmasi tersebut sedikit kontradiktif dengan isi artikel yang menyebutkan Danny meneguk cappucino untuk yang terakhir kali sebelum kembali bekerja ke kantornya, di Jakarta? Bagaimana dengan liburannya di Semarang. Pun pada artikel tersebut tidak tergambarkan suasana atau percakapan yang umumnya terjadi ketika orang-orang normal bertemu dengan teman lamanya. Rasanya tidak mungkin saya meminta penulis mengkonfirmasi ulang pada rubrik yang sama edisi berikutnya. Suara Pembaca adalah satu-satunya media yang saya rasa dapat menampung konfirmasi saya ini. Semoga rekan tempat saya bekerja dulu atau dari tugas pada hari dan jam kerja untuk mencari refreshing di luar kantor. Saya rasa, secara kebetulan pula penulis artikel tersebut membaca surat saya ini. Dani
***
Kukun di Mana Kau?
Saya dan isteri beberapa waktu lalu ke Bulakamba Brebes menengok cucu. Di masjid Agung Tegal kami bertemu dengan empat anak yang juga akan shalat, seorang di antaranya bernama Kukun. Pulang dari Bulakamba juga naik Kaligung. Dalam kereta api sangat berdesakan dan saya kecopetan termasuk alamat Kukun yang saya janjikan akan saya beri sesuatu . Kepada para pembaca mungkin tahu/kenal anak tersebut mohon bantuannya memberitahukan hal ini (keempat anak tersebut sudah membawa alamat kami). Saya harapkan salah seorang dari mereka berkirim surat terlebih dulu ke Semarang, setelah itu baru saya dapat mengirimkan sesuatu kepada mereka. HM Wastar Sandimihardja BA
***
Apa yang Kau Cari, Wakil Rakyat Wonogiri ?
Di depan gedung DPRD Wonogiri hari-hari ini terpampang spanduk, antara lain bertuliskan "Selamat Datang Wakil Rakyat, Kami Tunggu Oleh-olehnya - OMS", juga "Selamat Datang Wakil Rakyat, Semoga Makin Laras & Sejahtera-OMS". Isi spanduk itu ditujukan kepada para anggota DPRD Wonogiri sepulang dari studi banding mereka selama 4 hari ke Batam dan mampir Singapura. Isi spanduk merupakan semonan, sekaligus kritik bagi anggota Dewan. Saya setuju isi kiritikan tersebut, karena wakil rakyat Wonogiri tersebut nampak kurang memiliki kepekaan nurani. Mereka berpiknikria dan seolah tidak hirau atas kesulitan saudara-saudara kita di daerah minus Wonogiri yang dilanda kekeringan dan kekurangan air. Menurut saya, alangkah mulianya bila para wakil rakyat melakukan upaya untuk membantu saudara-saudara kita yang kekurangan air tersebut. Pepatah mengatakan: "Bagaikan Pohon Lupa akan akarnya". Selebihnya, mereka harus sudi membeberkan hasil apa saja yang diperoleh dari ngelencer, piknik yang menghambur-hamburkan uang rakyat. Kami tunggu dan semoga Tuhan memberikan petunjuk yang terbaik. Semoga pula kinerja anggota Dewan Wonogiri makin mumpuni dan bertanggung jawab, mempunyai jiwa Credible and self Instrospection, tentunya. HR Budhie Haryono ***
Polisi Melindungi Rakyat
Rumah kami dibongkar pencuri di siang hari, pada 5 Agustus 2003 sekitar 10.15-12.00 dan baru diketahui saat isteri pulang dari mengajar di SLTP. Kamar berserakan dan dalam kondisi panik dan dia menelepon saya yang sedang bekerja di Semarang. Sesampai di rumah, sudah banyak tetangga, dibantu Satpol PP Kabupaten Semarang untuk mengamankan sementara TKP. Tapi anehnya polisi yang dihubungi tidak ada yang datang. Padahal jarak kantor polisi dan perumahan kami hanya berjarak kuranglebih 2 Km. Seandainya petugas Kepolisian datang maka saksi yang melihat pencuri dan TKP masih belum berubah, bisa sebagai bahan penyelidikan. Yang kami sesalkan kenapa petugas tidak hadir hanya karena yang melapor bukan korban. Bagaimana bisa melapor bila korban masih di luar kota atau dalam keadaan teraniaya, apakah tetangga atau orang yang melihat kejadian tidak dipercaya bisa melapor. Kepada yang berwenang, kalau memang aturan seperti itu yaitu yang melapor harus korban sendiri, tolong ditinjau kembali. Karena korban di luar kota/dianiaya tidak mungkin bisa datang melapor dan ini tentu akan menghambat penyelidikan. Seandainya petugas tanggap dan segera datang di TKP maka kemungkinan pelacakan akan lebih mudah, karena saksi-saksi dan bukti masih ada. Bagaimana bisa menangkap yang besar kalau yang kecil-kecil prosedur melapornya susah. Bagaimana Polisi sebagai pelindung rakyat, kalau ada kejadian kejahatan, datang ke TKP saja tidak mau. Kami ucapkan banyak terima kasih pada para tetangga dan Satpol PP yang dengan cepat dan tanggap memberikan bantuan pada keluarga saya sekaligus mengamankan sementara rumah saya. Buat pembaca hati-hati kalau ada orang yang sangat mencurigakan (tidak kita kenal) berada di lingkungan kita terutama di siang hari sekitar jam 10.00-12.00 dengan dalih apapun, segera saja hubungi tetangga terdekat. Itulah pengalaman pahit kami yang baru saja kami alami, jangan sampai terulang pada para pembaca. Prawoto
***
Klik Fuji Film Mana Janjimu
Sudah tiga tahun saya menunggu. Saya dikecewakan atas pelayanan pimpinan Graha Padma Semarang, Bapak Benyamin yang telah menghilangkan film-film dokumen saya. Padahal dia sudah berjanji dan bersedia mengganti serta bertanggung jawab. Tapi mana, sampai sekarang tidak ada reaksi dan pertanggungjawaban. Bagaimana Pak Benyamin dengan janji dan tanggung jawab yang akan Bapak berikan. Bagaimana pengelola Fuji Film Klik ? Titin D |