logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 12 Agustus 2003 Sala  
Line

Atasi Sampah di Boyolali (1)

Dipadatkan agar Tidak Menimbulkan Pencemaran Lingkungan

Pemkab Boyolali terus berupaya menciptakan kebersihan. Salah satunya melakukan gerakan kebersihan di lingkungan dinas/jawatan serta lingkungan masyarakat, juga masalah klasik yaitu sampah. Untuk mengetahui sejauh mana upaya yang digalakkan mengatasi sampah itu, berikut laporan Suti Harjoyo dalam dua seri.

SUASANA yang bersih, nyaman, dan indah menjadi harapan masyarakat. Lingkungan yang menawan dan berseri-seri akan menjadi lingkungan sehat.

Karena itu, ada pepatah yang menyebutkan kebersihan bagian dari iman. Upaya menciptakan suasana yang bersih senantiasa digalakkan Pemkab Boyolali. Antara lain melalui lomba antarRT, RW, dan instansi. Bahkan pada 1995-an Kabupaten Boyolali mampu merebut piala Adipura Kencana atau lambang kebersihan untuk kategori kota kecil.

Mantan Bupati Boyolali HM Hasbi mencetuskan slogan ''Boyolali Tersenyum'', kepanjangan dari Tertib, Elok, Rapi, Sehat, Nyaman, Untuk Masyarakat.

Gairah membersihkan kawasan kota pada waktu itu memang tinggi. Setiap Jumat semua karyawan instansi dan jawatan dikerahkan turun ke jalan untuk melakukan gerakan kebersihan. Karena itu, ada istilah Jumat bersih. Dengan kata lain, Jumat merupakan hari yang bernuansa membersihkan lingkungan.

Angkut Sampah

Meski perebutan piala Adipura pada masa reformasi ini tidak ada lagi, Pemkab Boyolali tidak patah semangat. Upaya menciptakan kebersihan selalu digalakkan, baik melalui komunitas masyarakat maupun dinas/jawatan.

Kepala Subdinas Kebersihan, Pertamanan dan Kebakaran Ir Rahmat Hadi Santosa MSi kemarin mengatakan, upaya kebersihan dilakukan dengan berbagai macam. Antara lain melalui petugas kebersihan yang setiap hari mempunyai tanggung ja

wab menyapu atau membersihkan jalan di kawasan kota. Mereka juga mengangkut kotoran kuda yang kering atau basah.

Selain itu, setiap hari ada empat mobil mengangkut kotoran atau sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Rata-rata produksi sampah di kawasan kota Boyolali 50 m3/hari. Menjelang lebaran produksi sampah meningkat tajam. Sebagian besar produksi sampah dihasilkan dari rumah tangga.

Petugas kebersihan, lanjut Rahmat, mempunyai tugas dan tanggung jawab mengangkut dari TPS ke TPA. TPS merupakan kotak sampah di pinggiran jalan, perkantoran, perkampungan, dan tempat lain. Sampah yang dibuang atau dipadatkan di TPA selanjutnya dipadatkan dengan alat berat. Hal itu untuk menghilangkan pencemaran, di samping sebagai proses pembuatan pupuk kompos.

Setelah beberapa minggu dipadatkan, sampah bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Namun, sejauh itu pihaknya belum melakukan upaya tersebut. Karena itu, pada tahun ini akan diajukan anggaran untuk memproses sampah di TPA menjadi pupuk kompos.

Dia mengatakan, salah satu kendala adalah penumpukan sampah bila terguyur hujan. Sampah akan busuk, sehingga menimbulkan pencemaran karena bau yang menyengat. Hal itu tentu menimbulkan komplain dari masyarakat.

Agar masyarakat tidak mengadu, pihaknya segera bertindak cepat dengan cara menyemprot. Selanjutnya, pengangkutan sampah ke TPA. Dengan demikian, kebersihan kawasan kota selalu terjaga dan masyarakat tidak mengeluh. (14s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA