logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 12 Agustus 2003 Berita Utama  
Line

Al-Ghozi Lolos dari Kejaran Militer Filipina

ZAMBOANGA - Fathur Rohman al-Ghozi berhasil melarikan diri dari kejaran aparat keamanan Filipina, kata seorang perwira tinggi militer Filipina di wilayah selatan negeri ini, Senin kemarin.

Al-Ghozi yang menjadi buronan di Filipina karena aksi-aksi teror yang dilakukannya telah meloloskan diri dari kejaran militer, kata Letnan Jenderal Roy Kyamko, pemegang komando unit militer yang dibentuk untuk menangkap Ghozi di wilayah Lanao di Pulau Mindanao.

Pernyataan itu dibuat Kyamko menanggapi berita simpang siur di kalangan pers Manila bahwa Ghozi saat ini telah ditahan kembali atau ada sebagian yang mengatakan dia telah meninggal.

''Unit pasukan telah disebar di seluruh wilayah yang diduga menjadi tempat persembunyian Al-Ghozi,'' kata Kyamko di kota dibagian selatan Filipina itu kepada pers.

''Dia (Ghozi) tak lagi berada di wilayah ini. Kemungkinan dia telah lolos keluar sebelum pasukan pencari tiba ke wilayah ini,'' jelasnya.

Pasukan pelacak telah menyisir wilayah Lanao pekan lalu yang menyebabkan baku tembak antara kelompok separatis Moro, MILF, dengan pasukan pemerintah. Dalam baku tembak itu seorang buron lainnya yang ditahan bersama Ghozi tewas tertembak.

Bantah Berita

Pencarian itu didasari oleh kehawatiran akan terjadinya kembali serangan teroris di Filipina setelah ledakan bom hebat di sebuah hotel bintang lima di Jakarta, 5 Agustus lalu.

Al-Ghozi bersama dua orang anggota kelompok Abu Sayaf lolos dari rumah tahanan polisi di Manila 14 Juli lalu. Peristiwa itu mencoreng muka Presiden Gloria Macapagal Arroyo, yang menjadi pendukung utama kampanye internasional perang antiteroris yang dicanangkan AS.

Ghozi dijatuhi hukuman penjara 17 tahun karena menggunakan bahan peledak secara ilegal yang diantaranya dipakai dalam peristiwa peledakan kereta api pada Desember 2000.

''Al-Ghozi sudah berada di tempat lain dan kami akan terus mengejarnya,'' kata Kyamko tanpa memberikan keterangan lebih lanjut tentang daerah yang dimaksud.

Jenderal itu membantah berita harian The Philippine Star edisi Senin yang mengatakan Al-Ghozi telah tertangkap kembali. Dia juga menyangkal laporan harian The Daily Inquirer bahwa Al-Ghozi telah tewas tertembak pada saat militer melakukan penyergapan.

Salah satu anggota kelompok Abu Sayyaf yang ditahan dan lolos bersama Al-Ghozi, Abdulmukim Idris berhasil ditangkap pekan lalu namun tewas tertembak pada saat dia mencoba merebut senjata salah satu aparat yang menangkapnya.

Cabut Keadaan Pemberontakan

Dari Manila, Presiden Arroyo, kemarin, mencabut negara dalam keadaan pemberontakan yang telah berlangsung 16 hari. Pemberlakuan keadaan darurat tersebut memungkinkan penangkapan tanpa surat perintah penangkapan.

Dia mengatakan, fokus negara itu kini beralih pada ''perang melawan ancaman terorisme'', terutama setelah pelarian Al-Ghozi.

Militer Filipina mengatakan pemberontakan 27 Juli lalu merupakan bagian dari upaya membentuk junta militer untuk memerintah negara berpenduduk 82 juta jiwa tersebut. Pemberontakan itu dilakukan oleh lebih dari 300 tentara elite di Hotel Oakwood di distrik komersial Makati, Manila.

Arroyo bersikeras bahwa dia tidak akan ikut pemilihan presiden pada Mei 2004. Tetapi, sisa masa jabatannya ditandai dengan intrik politik di balik pemberontakan tentara kesembilan dalam 17 tahun terakhir. Sisa masa jabatannya juga diwarnai dengan keprihatinan mengenai perselisihan di tubuh Angkatan Bersenjata Filipina yang punya kekuatan 113.000 tentara.

Pemerintah telah mengatakan pasukan pemberontak yang bersenjata canggih itu mempunyai dukungan keuangan dan logistik yang besar. Namun, sebagian politikus oposan dan kritikus menuding pemerintah menggunakan kebijakan keadaan darurat untuk bertindak keras terhadap para penentangnya.

Sebuah disket komputer milik pemberontak ditemukan di Hotel Oakwood. Dari disket itu terlihat ''luasnya rencana pemberontakan'', yang meliputi pengambilalihan istana presiden, bandara internasional Manila, dan fasilitas militer, kata Letjen Rodolfo Garcia, juru bicara AB Filipina.

Para prajurit pemberontak dipaksa menggunakan opsi pengambilalihan hotel tersebut, ''karena pemerintah dapat mengetahui rencana mereka pada waktu yang tepat'', katanya kepada televisi kemarin.

Kelompok-kelompok bisnis menyambut baik pencabutan kebijakan keadaan darurat tersebut. Kalangan bisnis sebelumnya mengingatkan bahwa keadaan darurat yang berlarut-larut akan menghancurkan kepercayaan investor yang telah dirusak oleh merajalelanya korupsi dan pemberontakan Moro serta kaum komunis.

''Pencabutan kebijakan itu akan mendorong investor dan meyakinkan mereka bahwa segala sesuatu berjalan dengan benar menuju situasi normal,'' kata Guillermo Luz, direktur eksekutif Makati Business Club.

Dakwaan kudeta diajukan terhadap 321 prajurit dan dakwaan pemberontakan dijatuhkan terhadap Ramon Cardenas, seorang anggota kabinet mantan Presiden Joseph Estrada. Cardenas dan Estrada, yang diadili karena melakukan kejahatan ekonomi, membantah terlibat dalam pemberontakan tersebut.(rtr-ben-ant-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA