
| Selasa, 12 Agustus 2003 | Berita Utama |
Kapolri: Pimpinan Pesantren di Jateng Tidak Perlu Risau
BANDUNG- Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar mengatakan, pimpinan pondok pesantren di Jawa Tengah tidak perlu terlampau merisaukan adanya penyataan Kapolda Jateng Irjen Didi Widayadi yang menyebutkan Jamaah Islamiyah (JI) telah memasuki pesantren. "Pasalnya, pernyataan Kapolda Jateng tersebut merupakan informasi awal saja yang diperoleh dari sejumlah tersangka, yang nantinya akan diperdalam lebih jauh lagi," ungkapnya seusai acara Penutupan Sespati Reguler V angkatan 2003 di Lembang, Kabupaten Bandung, Senin kemarin. Terlebih lagi, ujar Da'i Bachtiar, Polri tidak memercayai keterangan dari beberapa tersangka yang menyebutkan sejumlah pesantren di Jateng telah disusupi ajaran kelompok JI. Dia mengemukakan, informasi tersebut dapat dikatakan bersifat warning untuk pesantren di Jawa Tengah yang nantinya akan ditindaklanjuti oleh Polri mengenai adanya laporan tersebut. "Karena itu, pimpinan pesantren di Jateng janganlah terlampau merisaukan informasi tersebut," kata Kapolri. Pada bagian lain, Da'i Bachtiar menyebutkan, Polri saat ini masih terkonsentrasi dalam mencari kelompok atau organisasi yang dicurigai terlibat dalam peledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta, seperti berdasarkan informasi yang diperoleh dari beberapa tersangka yang sudah ditangkap serta keterkaitan korban yang sekaligus dicurigai sebagai peledak bom tersebut, Asmar Latinsani, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Umar Husein mengungkapkan, PBB telah memasukkan Jamaah Islamiyah (JI) dalam daftar teroris internasional. Skenario AS tersebut membuat bangsa Indonesia terus dibuntuti soal-soal yang menyangkut JI. ''Sementara itu, tidak ada lagi semangat dari dunia internasional untuk mengejar kebohongan George W Bush. Terutama berkenaan dengan senjata pemusnah yang katanya disembunyikan Irak. Malah Irak sekarang menjadi negara jajahan, jelas itu bertentangan dengan undang-undang dasar,'' paparnya seusai menghadiri Kongres MMI II di Asrama Haji Donohudan, kemarin. Dirinya mengaku sangat keberatan penggunaan istilah JI. Alasannya, hal itu merupakan istilah teologi di dalam Islam yang harus dibangun, ditumbuhkembangkan, dan bukan menjadi sebuah bagian terorisme internasional. Persoalan ini harus didudukkan pada proporsi yang benar agar generasi mendatang tidak dicap sebagai teroris karena mereka adalah JI.
''Kita yang hadir ini adalah JI. Dua tiga orang berkumpul adalah JI, tapi jangan dikaitkan dengan bom. Urusan membunuh orang, itu dosa besar.''(dwi,G10,ant-29j) | |||||