
| Selasa, 12 Agustus 2003 | Berita Utama |
Tingkat Hunian Hotel Tak BerubahJAKARTA - Tingkat hunian hotel-hotel di Jakarta pascaledakan bom di Hotel JW Marriott, Jakarta, tidak mengalami perubahan yang berarti atau stagnan, yaitu sekitar 45 persen. Hal itu dikatakan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yanti Sukamdani, usai acara doa bersama di depan Hotel JW Marriott, kemarin. Menurutnya, angka 45 persen itu belum mencapai target yang seharusnya, melebihi 50 persen. ''Tanpa peristiwa Marriott, tingkat hunian hotel seharusnya sudah naik di atas 50 persen, karena pada bulan-bulan seperti ini tingkat hunian hotel sedang berada di puncaknya,'' katanya. Dia mengatakan, dampak dari travel warning yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Australia belum memengaruhi tingkat hunian hotel. Karena peringatan seperti ini sudah lama diberikan sebelum peristiwa Marriott terjadi. Tingkat hunian hotel, kata dia, didominasi oleh pengunjung asing yang akan melakukan aktivitas bisnis di Jakarta. ''Toh mereka tetap harus datang ke Jakarta,'' katanya seraya menambahkan, bahwa memang ada pengunjung asing yang membatalkan pemesanan kamar, tapi jumlahnya tidak terlalu besar. Ketika peristiwa bom Bali terjadi, lanjutnya, tingkat hunian hotel di Jakarta tidak terlalu berpengaruh. Justru ketika wabah SARS menyerang kawasan Asia, tingkat hunian hotel mengalami penurunan sampai 35 persen, kemudian sempat naik sampai 45 persen. Namun, dengan kejadian bom tersebut, target 50 persen sulit tercapai. Menurut Yanti, langkah-langkah yang ditempuh PHRI saat ini di antaranya adalah menetapkan keamanan di hotel-hotel dan gedung perkantoran, koordinasi dengan petugas keamanan dan kepolisian, dan melakukan tindakan preventif dengan melakukan pelatihan bagi karyawan-karyawan hotel dalam hal keamanan. (tri-29) |