logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 12 Agustus 2003 Berita Utama  
Line

Bahan Peledak Marriott 180 Kg

  • Hasil DNA Benarkan Potongan Tubuh Asmar
PEMBELI KIJANG: Seorang petugas kepolisian memperlihatkan sketsa dua wajah, yang diduga sebagai pembeli mobil Toyota Kijang biru metalik B 7462 ZN. Mobil buatan tahun 1986 tersebut digunakan sebagai pengangkut bom, dan ditemukan hancur tak berbentuk di lobi Hotel JW Marriott, saat terjadi ledakan bom 5 Agustus lalu. (43)

JAKARTA - Bahan peledak yang digunakan untuk mengebom Hotel JW Marriott, Jakarta, diperkirakan seberat 150 hingga 180 kg dengan campuran bahan low dan high explosive.

"Ada sekitar tiga kemasan yang semuanya terdiri atas bahan plastik berisikan bahan-bahan peledak. Tiap kemasan seberat 50-60 kg. Bahan peledak itu dimasukkan ke dalam dua jerigen plastik dan satu lagi ke dalam galon Aqua," papar Kepala Pusat Labfor Mabes Polri Brigjen Pol Dudon Setiaputra di Mabes Polri Jakarta, Senin (11/8).

"Labfor tidak bisa menentukan berapa banyak komposisi campuran low dan high explosive. Itu kan mereka yang tahu. Tetapi yang bisa kami ketahui, beratnya sekitar 150-180 kg," ujarnya.

Dia menjelaskan, campuran high explosive antara lain terdiri atas TNT, HMX dan RDX. "Tidak terdapat C4 dalam bahan peledak itu. Yang jelas ini masih di bawah bom Bali," tegasnya.

Sketsa Baru

Mabes Polri kembali merilis sketsa baru pembeli mobil Kijang biru metalik B 7462 ZN yang dibeli dari Soni. Pembeli itu dua orang, bukan satu orang seperti berita sebelumnya.

Hal itu dikatakan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Komjen Pol Erwin Mappaseng dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (11/8). Menurut Erwin, dua sketsa pembeli mobil Kijang tersebut memiliki ciri sebagai berikut. Sketsa sebelah kiri: badan kekar pendek, tinggi 160 cm, kulit sawo matang, rambut lurus sedang rapi, muka agak kotak, tidak berkumis dan berjenggot, kalau jalan melenggang seperti koboi, dialek Sumatera bagian selatan, usia 30 tahun.

Sedangkan ciri sketsa kanan: lebih banyak diam saat bertemu dengan saksi, merupakan pria yang mengambil mobil, usia 30 tahun, agak kurus, tinggi 168 cm, kulit putih, rambut ikal pendek, hidung dan mata biasa, tidak berjenggot dan berkumis, dialek Sumatera (dialek Melayu), saat membeli berpakaian rapi dan berjaket.

Bila ada yang mengenal atau mengetahui keberadaan dua orang ini, Mappaseng mengharapkan masyarakat bisa menelpon ke (021) 5234444 atau (021) 7218309. Ia melanjutkan, belum diketahui di mana kedua pembeli itu tinggal.

"Saat mengaku kepada saksi, mereka tinggal di daerah Cililitan. Tapi, muter-muter penjelasannya,'' ucapnya.

Kronologi Pembelian

Menurut Mappaseng, kronologis pembelian mobil Kijang tersebut pertama pada 20 Juli 2003. Dua orang datang menemui Soni guna membeli mobil Kijang biru yang sebelumnya telah diiklankan di harian Pos Kota. Mereka datang dengan mengendarai sepeda motor. Soni menawarkan mobil tersebut dengan harga Rp 28 juta.

Harga tersebut meski sudah ditawar, namun tetap tidak turun, yakni Rp 28 juta. Akhirnya salah satu dari mereka mengatakan akan memberitahu bos terlebih dahulu dan kemudian pulang. Kemudian keesokan harinya (21/7/2003), ada yang menelepon Soni dan menanyakan kembali harga mobil tersebut.

Setelah tawar menawar disepakati, mobil tersebut dijual dengan harga Rp 26 juta. Lalu, seorang datang menemui Soni dan mobil pun akhirnya dilepas dengan harga Rp 25.700.000.

Hasil DNA

Dari hasil uji DNA dan beberapa ciri-ciri khusus potongan kepala dan tangan dipastikan potongan tubuh dalam mobil Kijang biru metalik B-7462-ZN adalah milik Asmar Latinsani, yang diduga sebagai pelaku pengebomam.

Hal itu dikuatkan keterangan para saksi dan keluarganya. "Identifikasi dari potongan tubuh itu menunjukkan bahwa dia adalah Asmar Latinsani,'' kata Kepala Reserse dan Kriminal Mabes Polri Komjen Pol Erwin Mappaseng dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (11/8).

Ciri khusus yang diketahui oleh para saksi, seperti tahi lalat di leher dan pitak di kepala, semua cocok. Gigi geraham bawah nomor dua yang menurut saksi ada tambalan, ternyata setelah dicek dokter gigi juga benar. Lalu, ciri rambut dan jari jempol kaki yang lebih panjang, dibenarkan oleh keluarganya.

Erwin menjelaskan, proses identifikasi DNA dengan mengambil sampel DNA keluarganya di Bengkulu. Pihaknya mengirimkan tim dokter kepolisian ke sana.

Erwin enggan menegaskan bahwa Asmar adalah tersangka bom Hotel JW Marriott, walaupun hasil DNA menguatkan dia ada di dalam mobil itu.

"Belum pasti dia yang membawa bom, bisa jadi ada orang lain yang membawa mobil itu sebelum Asmar. Tetapi saksi seorang satpam Hotel Marriott menyatakan dia tidak melihat orang lain keluar dari mobil. Dia hanya melihat satu orang dalam mobil itu," papar Erwin.

Sejumlah Nama

Di Bandung, Kapolri Jenderal Polisi Da'i Bachtiar mengemukakan, kepolisian sudah mengantongi sejumlah nama yang ditengarai sebagai anggota komplotan pelaku peledakan di Hotel JW Marriott. Petugas kini sedang dikerahkan ke sejumlah tempat yang dicurigai, untuk menangkap mereka.

Kapolri kepada wartawan usai melantik siswa perwira tinggi di Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri Lembang, Bandung, Senin (11/8) menolak menjelaskan lebih lanjut soal penyelidikan yang dilakukan itu. "Yang jelas, kami sudah mendapatkan daftar nama-nama yang dicurigai terlibat dalam aksi pengeboman itu. Informasi tentang keberadaan mereka sedang dalam proses penyelidikan lebih mendalam," katanya.

Soal nama Asmar Latinsani, Kapolri mengakui, dia merupakan korban yang juga dicurigai sebagai pelaku. Kepolisian masih terus mencari informasi tambahan mengenai jaringan dan organisasi yang diikutinya. "Di antara mereka ada yang sudah ditangkap. Kami juga sudah mempunyai daftar nama-nama orang yang diperkirakan terlibat dalam pengeboman tersebut," ungkapnya.

Tentang informasi yang dilansir Menlu Australia Alexander Downer bahwa sudah ada informasi lewat e-mail soal rencana peledakan itu sejak 2 bulan yang lalu, Kapolri menegaskan, sampai saat ini pihaknya belum pernah melihat dan menerima e-mail yang disebutkan Downer.

"Kalau ada informasi-informasi seperti itu, tentu akan kami gunakan untuk penyelidikan lebih lanjut. Tetapi sampai saat ini kami belum melihat dan menerima e-mail itu," katanya.

Doa Bersama

Sedikitnya 200 orang dari berbagai agama berkumpul di lobi Hotel JW Marriott, Jakarta, Senin. Mereka mengadakan doa bersama bagi para korban bom di hotel tersebut.

Doa keprihatinan itu dipimpin lima pemuka agama yang ada di Indonesia, yakni Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Prosesi doa berlangsung sekitar 30 menit di lobi hotel yang terlihat masih berantakan akibat ledakan.

Suasana haru tampak mewarnai prosesi doa. Terutama saat para pemuka agama yang tampil memimpin acara doa menyampaikan kepedihan hati yang disuarakan secara tenang namun tegas.

Peserta doa bersama terlihat menitikkan air mata ketika pemuka agama mengajak semua yang hadir mengenang korban yang kebanyakan dari rakyat kecil.

Hadirin juga mengutuk tindakan yang dianggap sebagai teror itu, tidak saja bagi masyarakat Jakarta atau Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat dunia.

Sejumlah tokoh masyarakat, kalangan diplomat dan Gubernur DKI Jakarta, terlihat hadir di antara peserta doa bersama itu.

Salain itu, terlihat tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid, Dubes AS untuk Indonesia Ralph Boyce, Menteri Pariwisata dan Kebudayaan I Gede Ardika, Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Yanti Sukamdani.

Hadir juga keluarga korban yang tewas akibat ledakan bom pada Selasa pekan lalu itu. Akibat ledakan bom, sedikitnya 11 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Hendardi menilai teror bom yang terjadi di Hotel JW Marriott, 5 Agustus lalu, menunjukkan lemahnya aparat intelijen dan keamanan, sehingga pejabat tertinggi di dua bidang tersebut harus mengundurkan diri.

''Ini membuktikan kegagalan pihak intelijen dan keamanan dalam tugasnya untuk mengendus, mengungkap jaringan terorisme dan sekaligus memberikan jaminan keamanan kepada publik,'' kata dia dalam siaran pers PBHI.

Menurutnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono dan Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar tidak cukup hanya meminta maaf kepada publik atas teror beruntun yang terjadi di wilayah Indonesia. (bu,ant, dtc,G3-29k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA