logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 12 Agustus 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Hasil Undian Tamades Dibatalkan

GROBOGAN - Kabag Perekonomian Pemkab Grobogan Ir Moehammad Hidayat, selaku Ketua Badan Pengawas (BP) BPR-BKK, kemarin membatalkan hasil undian hadiah utama Tamades berupa mobil Suzuki Carry Pikup. Sebab, nasabah yang memperoleh hadiah tersebut atas nama BPR-BKK Gabus, bukan perorangan.

BPR-BKK Gabus memang menyimpan dana operasional kantor di Tabungan Masyarakat Desa (Tamades). Hal itu dilakukan karena penggunaan dana tersebut secara mingguan dan bulanan.

Selain itu, bila uang ditabung akan mendapat tambahan bunga sehingga bisa menambah uang untuk operasional kantor tersebut.

Namun, Ketua Badan Pengawas merasa tidak enak dengan nasabah perorangan. Karena itu, dia meminta panitia Tamades BPR-BKK 2003 membatalkan undian hadiah utama yang diraih BPR-BKK Gabus. Pembatalan itu disambut tepuk tangan nasabah yang hadir. ''Nah itu namanya merakyat,'' kata Edy S (35), yang mengaku sebagai nasabah BPR-BKK Tegowanu di lokasi undian.

Setelah dibuatkan berita acara pembatalan, akhirnya panitia mengundi lagi. Setelah itu, yang mendapatkan hadiah utama adalah nomor tabungan dari nasabah BPR-BKK Brati. Menurut rencana, hadiah utama tersebut akan diserahkan kepada penabung yang beruntung itu pada Selasa (12/8).

Nasabah Setia

Dalam penarikan undian Tamades panitia juga menyediakan hadiah tiga sepeda motor, beberapa TV dan kulkas, serta sejumlah sepeda. Panitia juga menyediakan door prize seekor sapi yang diraih penabung asal Kuwu Kradenan.

Sutiyem (85), penduduk Desa Wolo, Kecamatan Penawangan Grobogan, telah 18 tahun menjadi nasabah BPR-BKK. Namun, dia mengaku sama sekali belum pernah mendapatkan hadiah dalam undian Tamades.

''Setiap dilakukan undian Tamades saya menyempatkan datang, tetapi nomor tabungan saya tak pernah nyenggol (keluar dari mesin pengundi),'' kata dia, kemarin.

Meski demikian, nasabah setia itu tetap menyimpan uang hasil panen ke BPR-BKK. Sebab, perbankan milik Pemkab Grobogan tersebut dia kenal sejak 1985, yaitu ketika seorang mantri BPR-BKK Penawangan menawari modal usaha pertanian tanaman pangan.

Dia mengaku menabung uangnya ke BPR karena alasan keamanan. Selain itu, juga untuk mendapatkan bunga. Namun, ujar dia, yang penting adalah keamanannya.

''Bunga banyak kalau tidak aman ya tak ada artinya. Terus terang saya tak pernah menghitung berapa bunganya karena saya kurang pintar dalam soal itu,'' jelasnya. (A23-63e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA