logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 12 Agustus 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Dua Tahun Warga Tersiksa Bau Busuk

  • Diduga Berasal dari Pabrik Karet

BOJA- Warga di empat dukuh Desa Campurejo, Kecamatan Boja, Kendal, yaitu Dukuh Kedungdowo, Kenteng, Kalilengko, dan Nglorok, sejak sekitar dua tahun terakhir mengeluh. Sebab, bau busuk menebar di lingkungan mereka.

Mereka menduga polusi udara itu berasal dari pabrik pengolahan karet, PT Raberindo Pratama (PT RP), di sekitar empat dukuh itu.

''Bau dari pengolahan karet membuat sebagian besar warga setiap hari tersiksa. Sebab, bau itu busuk menyengat. Saking menyengat, jika menghirup terlalu lama kepala bisa pening,'' kata warga yang tidak ingin identitasnya disebutkan.

Sejumlah warga mengatakan hal senada, Setiap hari mereka tersiksa. Biasanya bau busuk muncul saat PT RP berproduksi. Aromanya berbagai ragam, misalnya seperti bau terasi busuk, ikan busuk, bahkan melebihi ''aroma'' kotoran manusia.

Suara Merdeka menjelang malam kemarin (Sabtu, 9/8) membuktikan hal itu. ''Warga yang hendak makan pasti mengurungkan niat bila muncul bau tersebut. Selain menimbulkan pusing, juga membuat mual-mual teramat sangat. Ketika karet mentah dari luar daerah tiba dan dibongkar, baunya seperti kotoran manusia,'' kata warga lain.

Dia menuturkan jika seorang warga punya hajat, mantu atau sunatan misalnya, para tamu yang datang dari luar dukuh hampir pasti mengira bau muncul dari air comberan dan bangkai.

Terpaksa Mengungsi

''Kami terpaksa memberikan penjelasan. Namun kenyataan ini membuat warga sangat malu. Lantaran takut mengganggu kesehatan, saya mengungsikan anak saya yang masih balita ke rumah mertua yang jauh dari pabrik sekaligus sekolah di sana.''

Dia menuturkan beberapa waktu lalu seorang warga, Sarwo Edi (52), meninggal akibat sesak napas.

''Sebelum meninggal dan sakit dia mengajak warga berunding dengan PT RP. Yang kami tahu, Pak Sarwo sebelumnya tidak pernah sakit napas. Apakah sakitnya berkait dengan bau busuk, saya tidak dapat memastikan. Yang jelas selama bekerja di pabrik yang berada persis di samping perusahaan PT RP, Pak Sarwo selalu mengeluh tidak tahan bau pemrosesan karet.''

Sementara itu, manajemen PT RP belum dapat diminta klarifikasi. (G15- 84g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA