logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 12 Agustus 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Nikmati Hari Tua di Panti Jompo

MATAHARI condong ke timur. Beberapa wanita tua mengenakan daster bersantai di beranda Panti Werda Usia Bethany, Bala Keselamatan, di Jalan Musi Raya 4-6 Semarang. Seekor anjing setia menemani mereka.

Sementara itu, di ruangan panti beberapa perempuan tua terlelap dalam tidur siang. ''Saya tinggal di sini sudah cukup lama, mungkin sekitar 2,5 tahun,'' ujar Usgiani (78), asal Rembang.

Bagi Usgiani, tinggal di panti itu merupakan pilihan hidup. Sebab, dia kini tak mempunyai keluarga lagi. Selain itu, sakit kaki membuat perempuan beramput putih itu kesulitan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. ''Dulu saya yang meminta dibawa ke mari.''

Lain dari Oei (71). Wanita asal Magelang itu merasa terpaksa tinggal di panti karena keluarganya kerepotan. ''Saya ingin tinggal dengan anak saya,'' tutur dia.

Oei menyatakan ingin bertemu anak satu-satunya. ''Sudah enam bulan ini saya tidak bertemu dia. Saya kangen sekali.'' Di panti itulah Usgiani bersama 69 penghuni lain menggantungkan diri pada pengelola panti. ''Di sini semua kebutuhan kami diurusi. Saya sudah menyerahkan hidup saya kepada Bapak dan Ibu,'' ujar Usgiani pasrah.

Saat ditanya mengenai kegiatan mereka sehari-hari, Usgiani menuturkan tak mempunyai aktivitas apa pun, kecuali makan, tidur, dan bersantai. ''Ya, mau disuruh apa? Saya sudah tak mampu lagi,'' katanya.

Kerepotan

Pemimpin panti Mayor BK Daniel Merpati mengatakan, biasanya mereka dibawa ke panti karena keluarganya kerepotan. Selain itu ada juga yang tak mempunyai keluarga.

Kini, para penghuni panti itu dirawat oleh 23 suster dibantu 14 karyawan. Setiap dua minggu sekali dokter memeriksa kesehatan mereka. Jika ada yang sakit, dokter akan memberikan obat. ''Penghuni panti juga rutin beribadah di gereja.''

Panti itu sudah ada sejak 10 April 1904. Awalnya itu bukan panti jompo, melainkan panti karya untuk menampung tunakarya dan tunawisma.

''Mereka diberi pekerjaan membuat tali dari sabut. Tak hanya itu. Ada juga yang diberi pekerjaan beternak sapi,'' ujar Daniel.

Selain diberi pekerjaan, mereka diberi makanan, pakaian, dan disuruh tinggal di panti secara cuma-cuma. ''Mereka makin lama makin tua. Ada yang menikah dan punya anak. Akhirnya anak mereka harus sekolah, maka di kawasan itu didirikan sekolah Bala Keselamatan.'' (Aris Mulyawan-84g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA