logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 11 Juli 2003 Sala  
Line

Waspadai Tawaran PPJTKI ke Jepang

KOTA - Masyarakat diminta mewaspadai agen maupun Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PPJTKI) yang menawarkan lapangan pekerjaan di Jepang. Sebab, Pemerintah Jepang melarang warga negara asing bekerja di sana sesuai dengan surat pemberitahuan dari Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) No B.024/P2TKLN/PP/I/2002.

"Mengingat kebijakan tersebut, Indonesia tidak pernah memberi rekomendasi kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jepang untuk melegalisasi job order dari Jepang," jelas Mulyadi, Steering Committee Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (Kopbumi) Region Jateng-DIY dalam siaran pers yang dikirimkan kepada Suara Merdeka, Rabu (9/7) kemarin.

Dia menjelaskan, pemerintah melalui Depnakertrans telah menegaskan, tidak ada PPJTKI atau agen-agennya yang diberi rekomendasi untuk menempatkan TKI di Jepang.

Namun, pemerintah mengadakan kerja sama dengan IMM Jepang menyelenggarakan program pelatihan kerja atau magang ke negara Matahari Terbit itu. Kesempatan itu hanya untuk pemuda yang memenuhi persyaratan sesuai dengan yang telah ditetapkan IMM Jepang.

"Program ini diselenggarakan Dirjen Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri bekerja sama dengan IMM. Lebih lengkapnya, masyarakat dapat menanyakan langsung kepada Direktorat Bina Latihan Kerja Dirjen Latpendagri atau Depnakertrans. Ini harus diketahui warga agar tidak menambah panjang daftar korban yang ingin bekerja di luar negeri."

Secara terpisah, Ana Setyawati, Direktur Utama PT Amandaru Gempita Solo, salah satu agen penyalur jasa impresariat (di bidang entertainment dan olahraga) yang sering mengirimkan tenaga kerja ke Jepang membenarkan, Pemerintah Jepang tidak pernah mempekerjakan tenaga kerja asing di negaranya.

"Setahu saya, Jepang itu memakai sistem magang. Itu pun khusus bagi pemuda, tidak untuk perempuan. Kalau untuk perusahaan atau industri, tidak ada yang mempekerjakan tenaga kerja asing."

Karena ketentuan itulah, perusahaan yang dia pimpin hanya menawarkan pekerjaan sebagai penyanyi, penari, atau atlet untuk dipekerjakan di Jepang. "Kami telah mendapatkan izin dari Departemen Pariwisata hanya untuk jasa impresariat saja."

Lamanya bekerja di Jepang, jelas dia, bergantung pada pesanan yang diajukan peminta, yakni antara 3 - 6 bulan dengan gaji minimal Rp 3 juta.

Sementara itu, penyalur tenaga kerja ke Jepang lainnya, PT Cahaya Prima Lestari Solo juga menegaskan, perusahaan itu hanya bergerak di bidang entertainment.

"Perusahaan kami tidak mengerahkan tenaga kerja untuk industri, tapi khusus untuk jasa hiburan seperti penyanyi dan penari."

Kalau mengirimkan tenaga kerja industri ke luar negeri, perusahaan itu mengirimkannya ke Korea. "Kalau Jepang, ya hanya untuk entertainment. Ada sih, untuk tenaga kerja industri, tapi ke Korea," jelas salah seorang karyawan. (G13-17n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA