logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 2 Juli 2003 Internasional  
Line

Perlu Waktu Lama untuk Tumpas Gerilyawan Irak

  • Serdadu AS Diserang Lagi

BAGDAD - Sejumlah serdadu Amerika terluka dalam dua serangan terpisah di Bagdad, Selasa kemarin. Sementara, sebuah ledakan di masjid di kota Falluja menewaskan paling sedikit enam warga Irak.

Beberapa jam sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Donals Rumsfeld menyangkal bahwa tentara Amerika di Irak kini menghadapi serangan gerilya ala Vietnam dari para pengikut setia Saddam Hussein.

Tetapi, menurut kantor berita Reuters semalam, dia mengingatkan tentara AS di negara itu bahwa diperlukan waktu yang lama untuk menumpas perlawanan bersenjata model gerilya tersebut.

Sebuah kendaraan militer US Army (AD AS) meledak tidak jauh dari Universitas al-Mustansiriyah di pusat kota Bagdad, kemarin. Seorang saksi mata mengatakan, empat tentara AS yang terbakar sangat parah, ditarik keluar dari kendaraan mereka yang terbakar setelah meledak.

Belum diketahui mengapa kendaraan militer Amerika itu meledak. Ada yang mengatakan, sebuah mobil Irak yang mungkin dimuati bom ditabrakkan ke kendaraan tersebut. Yang lain menyebutkan, sebuah granat yang digerakkan roket menghantam kendaraan AS itu.

Pagi harinya, seorang serdadu AS terluka ketika konvoi kendaraan militer negara adi kuasa itu ditembaki dekat Bandara Internasional Bagdad, ungkap sumber militer Amerika.

Ledakan Amunisi

Sementara itu, puluhan orang tewas terbakar dalam ledakan akhir pekan di sebuah gudang amunisi AD Irak di kota Haditha, sebelah baratlaut Bagdad, kata seorang dokter rumah sakit setempat.

''Mustahil memberikan angka pasti tentang jumlah korban tewas, karena mayat-mayat yang hangus telah menjadi arang. Atap gudang itu runtuh menimpa mereka. Jumlahnya pasti puluhan,'' kata dr Najnediman al-Ami.

Sebelumnya, seorang pejabat militer AS hanya memberikan konfirmasi, ada korban tewas dalam ledakan di sebuah gudang munisi di Haditha, 260 kilometer sebelah baratlaut Bagdad.

Sersan Satu AS Patrick Compton mengatakan kepada AFP, semua korban dalam ledakan yang terjadi Sabtu itu adalah orang Irak. ''Tidak ada korban di pihak warga AS,'' katanya.

Warga setempat mengatakan, korban tewas sedikitnya 30 orang dan puluhan lain terluka. Menurut mereka, pasukan AS menangkap sejumlah penjarah setelah ledakan itu, dan menyerahkan mereka kepada polisi Irak.

Penduduk menyatakan, para penjarah mendatangi gudang amunisi militer yang meledak tersebut, untuk mengambil selongsong peluru meriam yang bisa mereka jual.

Belum diketahui apa yang menyebabkan ledakan itu. ''Para penjarah itu tidak tahu apa pun tentang senjata. Yang ereka pikirkan hanyalah mencari penghasilan haram,'' kata Ibrahim Hussein, seorang warga Haditha, kepada Reuters.

Gubernur Dipecat

Gubernur Sementara Najaf, Abu Haidar Abdul Munim (yang diangkat oleh AS), dipecat dan ditahan oleh pasukan koalisi Senin lalu, atas tuduhan penculikan dan korupsi, kata seorang pejabat tinggi koalisi.

Munim saat ini ditahan di Najaf dan akan disidangkan di sebuah pengadilan Irak sesuai dengan hukum Irak.

Deputi gubernur, Haidar Mahdi Mattar al-Mayali, akan mengambil alih tugas gubernur sementara itu di Najaf, kota suci muslim Syiah di Irak selatan, sampai majelis beranggotakan 22 orang memilih seseorang untuk menggantikan gubernur yang ditangkap itu.

Sebanyak 61 orang, termasuk para pengawal pribadi Abdul Munim, juga ditahan dan akan diselidiki atas tuduhan-tuduhan yang sama.

Munim menghadapi tuduhan-tuduhan mencakup penculikan dan penyanderaan, menekan pegawai pemerintah untuk melaksanakan kejahatan finansial, penyerangan seorang pejabat bank, dan pencurian dana.(ed-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA