logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 20 Juni 2003 Berita Utama  
Line

Temukan Emas 1 Kg di Terminal

SEMARANG- Saeri (65), warga RT 3 / RW 4 Penggaron Kidul, Pedurungan, Semarang, ketika itu sedang sibuk mencangkul lahan kosong di kawasan Terminal Penggaron. Tiba-tiba cangkulnya membentur benda keras berwarna kuning.

Setelah diteliti, ternyata benda itu adalah emas seberat 1 kg, bernomor 999, dan bertuliskan "London", Kisah yang dialami Saeri memang terjadi Sabtu (14/6), namun sampai sekarang masih menjadi buah bibir masyarakat di sekitar terminal. Lahan kosong tersebut berada di sebelah utara pos peristirahatan sopir.

Semula Saeri tak mengira bahwa benda itu adalah emas. "Di antara padas, saya melihat ada batangan berwarna kuning seperti grenjeng rokok. Saya dongkel-dongkel, lalu saya ambil," ujarnya kepada Suara Merdeka di rumahnya, semalam.

Penasaran akan benda aneh itu, dia membersihkannya dengan air minum yang dibawanya dari rumah. "Bentuknya persegi panjang, selebar tiga jari tangan dan sepanjang telapak tangan," tambahnya, sembari memeragakan ukuran emas dengan telapak tangannya.

Saeri lalu memangil temannya, Djumadi (45), warga RT 1/ RW 5 Penggaron Kidul yang ketika itu sedang mencangkul di dekatnya. "Saya tak tahu apakah barang bagus atau jelek. Saya juga tak mudheng apakah itu emas atau tidak".

Djumadi segera menghampiri Saeri. Untuk membuktikan keaslian emas, dia menjilatnya. "Kalau rasanya amis atau asin, itu tembaga. Tapi waktu saya jilat tidak ada rasanya, berarti emas murni," ungkapnya.

Emas batangan itu bertuliskan bahasa asing yang tidak diketahuinya. Tapi di baliknya bertuliskan "London" dan dibawahnya tertera 1 kg.

Dari Mimpi

Apakah Saeri punya firasat bakal "mencangkul" emas? Di bawah temaram cahaya 10 watt di rumahnya, ia menerawang langit-langit ruang tamu, seolah mengingat kejadian sebelum mendapat anugrah tersebut.

Seminggu sebelumnya, dia memang bermimpi bertemu temannya yang sudah meninggal. Dalam mimpi itu, dia melihat temannya mengenakan berbagai perhiasan yang terbuat dari emas.

"Teman saya perempuan, saya lupa namanya. Kemudian saya bilang, mbok perhiasan itu saya pinjam. Ternyata dia mengizinkan," tutur lelaki berputra empat itu. Tetapi dia tidak menghiraukan mimpinya. "Saya ini nggak ngerti apa-apa".

Kini emas bernilai sejarah itu telah dijualnyai. Meski demikian dia tidak mengaku berapa hasil penjualannya. "Pokoknya saya minta tolong pada saudara saya yang biasa menjualkan emas. Yang penting saya tinggal terima. Saya tidak tahu di mana menjualnya," jelasnya.

Menurut Djumadi, emasnya telah dijual tetangga Saeri. Meski demikian dia tidak mengetahui persis berapa hasil penjualannya. "Mungkin mencapai Rp 80 juta. Yang saya tahu Pak Saeri mendapat uang sebesar Rp 40 juta dari penjualan emas tersebut".

Merasa ikut menyaksikan dan membuktikan keasilan emas tersebut, Djumadi kemudian meminta bagian dari hasil penjualan emas kepada Saeri. "Saya hanya diberi uang tutup mulut sebesar Rp 150 ribu saja."

Petugas keamanan terminal, Mukharom, mengatakan penemuan itu anugrah dari Allah. "Kalau tahu di situ ada emas, tentu saya melarang siapa saja mencangkul di sana," tandasnya.

Mukharom mengaku menyuruh Saeri mencangkul di kawasan terminal. "Saya kasihan, karena Pak Saeri nganggur. Makanya dia saya suruh menanam pisang di sana," tandasnya. (ars-48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA