logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 20 Juni 2003 Berita Utama  
Line

Sepuluh Anggota GAM Tewas

  • 2 Prajurit Asal Blora dan Klaten Gugur

ACEH - Sepuluh anggota kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tewas dalam pertempuran sengit di kawasan Matang Cut, Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara, Kamis.

"Dalam pertempuran itu pula, dua anggota TNI gugur, yakni Serda Budiyanto dan Prada Suwalno dari Batalyon 408 Suhbrasta Sragen," kata juru bicara Komando Operasi (Koops) TNI, Letkol CAJ Ahmad Yani Basuki di Lhokseumawe, Kamis.

Jenazah keduanya sudah dievakuasi ke daerah asalnya. Jenazah Budiyanto dievakuasi ke Blora dan Suwalno ke Klaten.

Dikemukakan, dalam kontak tembak dengan kelompok GAM itu, pasukan TNI berhasil menyita 10 pucuk senjata api laras panjang jenis AK-47, M-16-A1, SS1, dan ratusan amunisi.

Baku tembak tersebut berawal dari informasi masyarakat sehari sebelumnya yang menyebutkan sejumlah anggota GAM akan melewati jalan desa di kawasan itu.

Berdasar informasi itu, pasukan gabungan TNI dari Satuan Gabungan Intelejen (SGI), Para Komando (Parako) dan Yonif 408 bergerak melakukan pengendapan di daerah itu.

"Ketika melihat anggota GAM dengan jumlah kekuatan besar, prajurit TNI kemudian melakukan penghadangan, sehingga terjadi kontak tembak sekitar setengah jam," kata Ahmad Yani.

Ia menjelaskan, sepuluh anggota GAM yang tewas dalam pertempuran di daerah yang berjarak kurang lebih 21 kilometer timur kota Lhokseumawe itu belum diketahui identitasnya.

Selain berhasil menyita sepuluh pucuk senjata beserta ratusan amunisi, prajurit TNI juga menyita sejumlah dokumen penting serta topi baret milik anggota GAM.

Sementara itu, pada hari yang sama, di Desa Lhong Damai, Kabupaten Pidie, pasukan TNI juga berhasil menangkap tiga anggota GAM dan menyita sejumlah barang bukti, antara lain radio HT dan puluhan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang telah dirampas GAM dari masyarakat.

Serahkan Diri

Komandan Operasi GAM Kecamatan Woyla, Aceh Barat, Darman alias Maman (25), pada Selasa (17/6) sekitar pukul 21:30 WIB menyerahkan diri ke aparat keamanan setempat.

Tim Penerangan Korem 012 Teuku Umar, Mayor Inf Bakti Djamaluddin di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Kamis, mengatakan, Darman menyerahkan diri atas kesadaran sendiri, beserta sepucuk senjata AK-47 dan 120 amunisi.

Menurut pengakuan Darman, ia menyerahkan diri karena tidak setuju lagi dengan aktivitas perjuangan GAM yang senantiasa menyengsarakan rakyat dengan cara memeras, menculik, serta membunuh.

Selain itu, perjuangan GAM selama ini tidak lagi murni, melainkan lebih banyak untuk kepentingan pribadi, memperkaya diri dengan cara memeras dan merampok harta benda masyarakat.

Darman mengaku, akan berusaha mengajak rekan-rekan GAM lainnya untuk turun gunung, kemudian menyerahkan diri kepada aparat TNI/Polri.

Mayor Bakti mengemukakan, Komandan Operasi GSA Woyla itu kini masih ditahan di Polres Aceh Barat untuk kepentingan pemeriksaan. Berdasarkan catatan, anggota GAM yang telah menyerahkan diri di Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Selatan hingga kini mencapai 80 orang. Aparat keamanan mengatakan semua anggota GAM yang menyerahkan diri atas kesadaran sendiri akan mendapat perlakuan baik.

Pengawasan Ketat

Untuk mengantisipasi penyusupan anggota GAM ke wilayah Sumatera Utara (Sumut), Polda Sumut melakukan pengawasan ketat di sepanjang perbatasan NAD-Sumut. Hal itu dikemukakan Kapolda Sumut Irjen Edi Sunarno, kemarin di Mabes Polri, Jakarta.

Menurutnya, Polda Sumut sampai saat ini sudah menangkap 34 orang yang diduga anggota GAM dan sebagian besar sudah dikirim ke Polda Aceh untuk diproses lebih lanjut.

"Di samping itu, kita juga melakukan pengamanan di jalan-jalan tikus yang mungkin dilalui oleh mereka yang saat ini sudah ditutup. Di jalan-jalan umum, kita lakukan razia bersama TNI," ungkapnya.

Sejauh ini, lanjut Kapolda Sumut, dalam penangkapan terhadap 34 anggota GAM tersebut tidak ditemukan mereka membawa senjata tajam. Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar menjelaskan, penangkapan yang dilakukan terhadap sejumlah pejabat sipil di NAD yang dilakukan beberapa waktu lalu merupakan bagian dari proses penegakan hukum.

"Siapa pun yang mempunyai kaitan dan bisa dibuktikan termasuk bagian dari GAM tentu akan melewati sautu proses penegakan hukum tertentu. Tetapi sekarang proses ini masih dalam kekuasaan Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD)," ungkapnya.

Diakui Da'i, penangkapan tersebut baru didasarkan pada dugaan bahwa mereka terlibat anggota separatis GAM.

Hassan Tiro

Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan, pimpinan GAM di Stockholm, Swedia, Hassan Tiro tidak hadir memenuhi panggilan Departemen Luar Negeri (Deplu) setempat karena sakit.

"Pada pekan silam, Deplu Swedia telah melakukan pemanggilan terhadap tokoh-tokoh GAM di Swedia," ungkapnya, sesaat setelah menjadi pembicara utama seminar bertajuk "Pers, Mitos dan Realitas" di Hotel Hilton, Jakarta, Kamis.

Hadir dalam pemanggilan itu, Zaini Abdullah, Bachtiar Abdullah, Muzakir dan Malik Mahmud. Sedang Hassan Tiro dikabarkan sakit, sehingga tak dapat hadir dalam pemanggilan itu.

Menko Polkam mengemukakan, meski Hassan Tiro tidak hadir, namun pemerintah Indonesia telah menyampaikan bukti tambahan berupa bukti hukum kegiatan GAM yang dipimpinnya yang tidak saja sebagai organisasi separatis tetapi juga kelompok yang melakukan aksi teror di sejumlah daerah di Indonesia.

Jika bukti-bukti tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku di Swedia, maka pemerintah setempat akan segera memproses hukum Hassan Tiro cs, mengenai keterkaitannya dengan gerakan separatis dan terorisme di Indonesia.

"Demikian berita yang saya terima dari Swedia. Mudah-mudahan ini dapat terus berlanjut," kata Susilo.

Ia menekankan, pemerintah akan tetap memfokuskan diri pada pelaksanaan operasi terpadu di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) agar persoalan Aceh dapat segera diselesaikan.

Seperti diketahui, Indonesia mengirim kembali tim ke Swedia dipimpin Ali Alatas untuk memberikan bukti tambahan kepada Pemerintah Swedia tentang keterkaitan Hassan Tiro dan rekannya dalam gerakan separatis di Aceh.

Bukti-bukti tambahan itu merupakan bukti hukum, tentang kegiatan GAM yang tidak saja sebagai gerakan separatis tetapi juga terorime di beberapa wilayah di Tanah Air, seperti pengeboman Bursa Efek Jakarta (BEJ), Atrium Senen dan Medan. (bu,dwi,ant, G14-29,78e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA