
| Jumat, 20 Juni 2003 | Ekonomi |
Gula Impor Terancam Tak Bisa DidistribusikanSEMARANG-Sebanyak 4.000 ton gula impor milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Solo yang hingga kini masih dalam proses impor diperkirakan tidak bisa didistribusikan di wilayah Jateng, karena Juni sembilan pabrik gula (PG) di provinsi ini akan melepas 14.000 ton hasil gilingnya. Bachtiar Kepala Perum Bulog Divisi Regional Jateng mengungkapkan hingga kemarin Gubernur Jateng dan Menperindag belum memberikan dispensasi pembongkaran gula impor milik PTPN IX yang datang melewati limit izin impor di Pelabuhan Tanjung Emas, yakni paling lambat 10 Juni 2003. ''Saya kira 4.000 ton gula impor milik PTPN IX itu bisa dialihkan pendistribusiannya ke provinsi lain, karena selain sudah lewat batas waktu izin impor, PG-PG di Jateng sudah mulai giling,'' tutur dia di kantornya, kemarin. Menurut dia, jika gula itu dipaksakan masuk pasar Jateng dikhawatirkan mengganggu harga gula petani, sebab Juni ini 9 PG yang memasuki musim giling akan memasok gula ke pasar 14.000 ton. Dia menambahkan di gudang Bulog Divisi Regional Jateng saat ini masih tersimpan stok gula impor sebanyak 6,64 ton sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jateng pada 10 hari sisa bulan ini sekitar 10.000 ton. ''Kebutuhan gula Jateng sebesar 30.000/bulan meliputi 27.000 ton untuk konsumsi masyarakat dan 3.000 ton untuk industri,'' tambahnya. Sisa Penyaluran Gula impor yang saat ini ada di gudang Bulog Divisi Regional Jateng itu, lanjut dia, merupakan sisa penyaluran yang hingga kemarin terealisasi 36.758 ton. Total penerimaan gula impor di Jateng hingga 10 Juni 43.398 ton, yakni dari importir PTPN dan PT Rajawali Nasional Indonesia (RNI) 30.485 ton yang dibongkar dari empat kapal di Pelabuhan Tanjung Emas, serta 12.912 ton bantuan distribusi dari DKI Jakarta yang diangkut lewat darat. ''Gula impor sebanyak 4.000 ton milik PTPN sangat kecil kemungkinan bisa masuk Jateng, karena pasok gula lokal akan terus meningkat seiring dengan puncak musim giling PG di Jateng tahun ini dengan perkiraan total produksi 150.000 ton,'' tuturnya. Pantauan di Pelabuhan Tanjung Emas hingga kemarin menunjukkan kapal pengangkut 4.000 ton gula milik PTPN IX dari Thailand itu belum merapat di dermaga menunggu dispensasi pembongkaran muatan dari Gubernur Jateng serta Menperindag. Sebelumnya, Direktur Operasional PTPN IX Sudarmawan menjelaskan pihaknya mendapatkan izin impor gula impor sebanyak 10.200 ton itu dengan jadwal masuk ke Jateng lewat Pelabuhan Tanjung Emas pada 25 Mei 2003. Namun hingga batas akhir izin impor pada 10 Juni gula impor yang sudah tiba di pelabuhan baru 6.200 ton sehingga masih kurang 4.000 ton. Akibat keterlambatan itu, kata dia, PTPN IX mengajukan izin ke Menperindag dan Pemerintah Provinsi Jateng agar memberikan toleransi untuk memasukkan gula impor tersebut. Namun, hingga kemarin belum diperoleh konfirmasi apakah izin tersebut diperoleh atau tidak. Sudarmawan hingga semalam belum bisa dimintai konfirmasinya. Beberapa nomor teleponnya yang dihubungi tidak aktif. (G2-53) |