
| Jumat, 20 Juni 2003 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Petani Gelar Aksi KulturalYOGYAKARTA - Masa kejayaan petani sirna ketika modernisasi merambah pedesaan. Pepatah gemah ripah loh jinawi, subur makmur tuwuh kang sarwa tinandur tinggal pepatah yang tak pernah terwujud. Tanah yang subur kini rusak akibat pupuk kimia dan racun pestisida serta limbah praktik politik kekuasaan yang kotor. Kondisi tersebut membuat kaum petani terpuruk di lembah kesengsaraan dan bertambah parah ketika harga hasil pertanian jatuh ke jurang yang paling dalam. Dalam suasana menderita ini, kaum petani hanya bisa bertanya seberapa besar kesalahan negeri ini sehingga petani ibarat tikus mati di lumbung? Kegelisahan kaum petani tersebut diekspresikan melalui happening art Jathilan, Rabu lalu (18/6). Aksi kultural itu dimainkan oleh kelompok kesenian Jathilan Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun Magelang di halaman Taman Budaya Bulaksumur Yogyakarta. Aksi protes kaum petani Magelang itu merupakan bentuk ungkapan penderitaan kaum petani. Tanah subur yang mereka dambakan, kini hilang ditelan kekejaman zaman. Harga hasil pertanian yang mereka harapkan bisa mengangkat kesejahteraan kaum petani, kini sudah tidak ada lagi. Aksi kultural yang dimainkan puluhan petani, menarik perhatian masyarakat dan mahasiswa. Dengan pakaian kesenian tradisional, mereka memainkan kesenian tersebut secara fasih dan apik sehingga wajar apabila happening art tersebut menyita perhatian masyarakat yang melewati. Selama beraksi, mereka tidak berteriak-teriak apalagi berorasi. Aksi unjukrasa petani yang diekspresikan lewat kesenian tradisional. (sgt-81s) |