
| Jumat, 20 Juni 2003 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
2.140 Jiwa Eksodan Bakal Jadi Beban
KEBUMEN - Sampai akhir Mei di Kebumen terdapat 536 kepala keluarga (KK) atau 2.140 jiwa eksodan pulang dari berbagai provinsi. Dari jumlah itu baru 168 KK (776 jiwa) direlokasi di Desa Tanggulangin Kecamatan Klirong. Lokasi resetlement atau penempatan kembali di kawasan pantai Desa Tanggulangin itu diharapkan menampung 400 KK. Sisanya, direncanakan ditransmigrasikan ke luar Jawa, dikembalikan ke lokasi asal, serta menunggu bantuan pusat atau daerah. Kepala Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kebumen Drs H Marzuni, kamarin menungkapkan, pihaknya telah mengajukan anggaran ke pusat Rp 6 miliar untuk menunjang masa depan para eksodan. Dana itu untuk menambah modal, pelatihan dan memandirikan para eksodan. "Namun, belum ada persetujuan dari pusat. Kami baru saja dari Jakarta mengurus proposal itu. Tanpa bantuan berbagai pihak, eksodan bakal menjadi beban daerah," ujar Marzuni. Dia menjelaskan perincian para eksodan yang tiba di Kebumen. Paling banyak dari Provinsi Aceh 434 KK, Kalbar 31 KK, Maluku 27 KK, eks Timtim 7 KK, Kalteng 10 KK, Sulteng 10 KK, dan Papua 17 KK. Ada Kesepakatan Menyinggung kebijakan transmigrasi sebagai solusi kepadatan penduduk ataupun eksodan, Marzuni mengakui saat ini berbeda dari model dahulu. Pihaknya telah melakukan beberapa kali penjajakan ke Provinsi Jambi, Riau, Kalsel, dan Kalteng. Namun, untuk melakukan transmigrasi harus ada kesepakatan semacam MOU Pemkab Kebumen dengan daerah tujuan dan diketahui provinsi. "Tanpa diketahui provinsi dan ikut penjajakan, Kebumen tidak bisa mengirim," katanya. Beberapa peluang yang diincar Kebumen di antaranya Jambi. Sebab, di daerah itu ada lahan kelapa sawit dengan sistem PIR. Namun, warga Kebumen harus bersaing dengan beberapa calon transmigran dari luar Jateng. Belum lagi dukungan dana dari APBD. Sebab, biaya transmigrasi sekarang tidak seluruhnya ditanggung pusat, tetapi harus didukung APBD. Padahal dana untuk transmigran tiap KK tidaklah kecil. "Dukungan dana ini yang harus kami upayakan bersama DPRD," jelas Marzuni. Pihaknya menargetkan pada 2003 ini bisa memberangkatkan 15 KK ke Sumsel, kemudian ke Kabupaten Barito Kuala (Kalsel) 30 KK, dan sedang dilakukan kerja sama dengan daerah tujuan khususnya di Sumsel, Riau, dan Jambi. Dia menjelaskan pula, saat ini daerah tujuan lebih selektif menerima transmigran. Mereka diharapkan memiliki keterampilan atau berbekal ijazah tertentu, sehingga sampai di lokasi bisa langsung beradaptasi. Yang menarik, banyak daerah seperti Jambi dan Riau senang menerima transmigran dari Jawa khususnya Kebumen. Namun, mereka meminta agar transmigran punya bekal ijazah SPG atau sarjana pendidikan. "Riau malah menunggu transmigran dari kalangan ulama atau kiai guna membangun daerah di sana," tambah Marzuni.(B3-34k) |