logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 14 Juni 2003 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Satu Kuintal Singkong Dibayar Rp 1.300

  • Kehidupan Buruh ''Peret'' di Kedunggede

SEKITAR dua puluh perempuan duduk berjajar pada dhingklik (bangku kecil dari kayu), menghadap jalan raya Purwokerto-Bandung. Di depannya, bertumpuk puluhan kuintal singkong yang siap dikupas.

Dengan berteduh di bawah atap rumbia, tangan-tangan mereka begitu cekatan mengupas satu per satu ribuan singkong itu. Tak jarang dari mulut mereka, muncul guyonan ala ibu-ibu di pedesaan.

Mereka memang hanya jadi buruh kupas singkong. Namun, mereka harus mencukupi makan, biaya sekolah dan kebutuhan keluarga lainnya. Goyonan itu pun kadang kebablasan sampai urusan pribadi. Itu sebagian aktivitas perempuan warga Desa Kedunggede, Kecamatan Lumbir, Banyumas yang puluhan tahun telah mereka lakoni.

Mereka yang rata-rata telah berusia separo baya itu bekerja pada para pengepul singkong. Dengan bersenjatakan peret, alat pengupas singkong berbentuk katapel dan di tengahnya dipasang pisau, mereka melakukan pekerjaan itu mulai pukul 06.00.

Kapan rampungnya? Tergantung pasokan singkong yang didatangkan pengepul. Kalau pasokan berlimpah, sampai magrib, bahkan malam pun dilakoni meret. Atau tergantung pada kemauan mereka, meski pasokan banyak, kalau merasa cukup lelah, mereka memilih untuk istirahat.

''Sistemnya borongan. Singkong yang bagus dan besar, dibayar Rp 1.300/kuintal/orang. Kalau singkongnya jelek, hanya Rp 750,'' kata Endang Lestari, seorang pengupas.

Sehari setiap pekerja mampu menyelesaikan 10 kuintal singkong. Kalau jumlah dan kualitas singkong yang dikupas setiap hari sebanyak itu, penghasilan sehari mencapai Rp 13.000.

Namun, kenyataan tidaklah demikian. Hal tersebut tergantung pada kemampuan pengepul dalam memasok singkong. Salah satu pengepul, Sururi, mengemukakan, sehari bisa mendatangkan sampai 10-20 ton singkong. Kalau sedang seret, pasokannya sedikit.

Ketela itu didatangkan dari sejumlah kabupaten di wilayah Jateng bagian barat dan selatan. Seperti Banyumas, Cilacap, Tegal, Pekalongan, Kebumen dan Purworejo. Singkong tersebut setelah dikupas, lalu dikirim ke beberapa pabrik aci/tapioka yang banyak berdiri di Cilacap bagian barat.

Seorang pengupas, Siti, mengemukakan, pekerjaan itu tidak mengikat. Bila pasokan sedang sepi, mereka melakukan aktivitas lain, pergi ke hutan mencari kayu bakar. (Jamal Al Ashari- 17k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA