logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 28 Mei 2003 Sala  
Line

Tugu Lilin Lambang Kebangkitan Nasional

TANGGAL 20 Mei merupakan Hari Kebangkitan Nasional. Itu tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia dan juga bagi Kota Surakarta. Mengapa? Karena pada tahun 1933 di Solo dibangun sebuah monumen lambang kebangkitan dan kesatuan untuk memperingati 25 tahun pergerakan bangsa Indonesia yang dipelopori Boedi Oetomo, 20 Mei 1908.

Monumen itu sangat sederhana, yang kelak lebih dikenal dengan sebutan Tugu Lilin. Bentuk dasar bangunan persegi empat berlapis dengan bulatan memanjang ke atas mirip sebuah lilin dibagian tengah. Di ujung atas ada lambang api menyala sebagai lambang semangat kebangunan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Menurut sejarah, Boedi Oetomo yang diketuai Pangeran Woerjaningrat diserahi tugas membangun monumen sejarah pergerakan. Pada awalnya beberapa kali kegiatan itu diusaha di beberapa kota seperti Surabaya, Jakarta, dan Semarang. Namun selalu gagal.

Pangeran Woerjaningrat, yang juga Ketua Neutraal Onderwijs atau sekarang lebih dikenal sebagai Yayasan Perguruan Murni di Solo, mempunyai gagasan membangun monumen di tanah milik yayasan yang diketuainya. Dia pun meminta izin bangunan dari Keraton Kasunanan Surakarta. Dengan alasan, tanah itu berada di wilayah kekuasaan Keraton Surakarta.

Namun tampaknya rencana pendirian monumen tercium pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pemerintah kolonial melalui Gubernur Jenderal di Jakarta berusaha menggagalkan rencana itu dengan mengundang Paku Buwono X, Raja Surakarta.

Dengan maksud, sang raja mau mencabut izin pembangunan monumen. Sebab, jika monumen itu berdiri dan menggugah semangat persatuan dan kesatuan, jelas membahayakan pemerintah kolonial. Paku Buwono X mengetahui maksud pendirian monumen itu sebagai wujud kebangunan dan kesatuan bangsa Indonesia. Karena itulah dia tak menanggapi kemauan pemerintah kolonial.

Kompromis

Rencana pembangunan monumen pun dilanjutkan. Ada tiga rancang bangun pada waktu itu. Akhirnya desain Ir Soetedjo yang terpilih, karena isi dan maksud dalam desain tersebut sesuai dengan cita-cita dan cocok dengan realitas saat itu. Pelaksanaan pembangunan monumen dipercayakan pada RM Sosrosaputro.

Direncanakan, setelah pembangunan tugu rampung akan diresmikan dengan upacara kenegaraan, bertepatan dengan Kongres Boedi Oetomo sekaligus Konferensi Perserikatan Partai Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) di Solo.

Pemerintah kolonial menganggap pembangunan monumen pergerakan nasional itu ilegal. Pemerintah pun berupaya menghalangi. Akibatnya, timbul pertentangan pendapat antara pemerintah kolonial dan kaum pergerakan.

Setelah berdebat sengit tercapai kesepakatan. Yakni, rencana tulisan di monumen harus diganti. Semula direncanakan tulisan ''Tugu Peringatan Pergerakan Kebangsaan Indonesia 25 Tahoen''. Tulisan di tugu yang merupakan hasil kompromi itu sekarang tak ada lagi. Sebab, sesuai dengan perubahan zaman tulisan itu diubah.

Namun sekarang tulisan sebagaimana direncanakan sebelum peresmian, yaitu ''Peringatan Pergerakan Kebangsaan Indonesia 1908-1933", masih jelas terpateri di monumen itu.

Ada ceritera menarik di balik pembangunan monumen itu. Yakni, batu bata dikumpulkan dari Keraton Surakarta, bekas Keraton Kartosuro dan Kerajaan Pajang, serta memakai tanah dari Gunung Lawu.

Soetardjo Tjokrosisworo, yang menjabat Juru Penerangan Pembangunan Tugu Lilin, ketika berkeliling ke beberapa pulau di Indonesia membawa pulang dari pulau-pulau yang dia kunjungi. Tanah itu dijadikan satu sebagai fondasi bangunan monumental tersebut.(Sri Wahjoedi-17g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA