
| Jumat, 23 Mei 2003 | Tajuk Rencana |
Komitmen BI Menurunkan Suku Bunga- Seusai dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia yang baru, Burhanuddin Abdullah langsung menyatakan tekadnya untuk menurunkan lagi suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Penurunan bunga SBI penting dan menjadi penentu bagi penurunan bunga bank pada umumnya terutama kredit. Dengan demikian, diharapkan menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi. Dalam beberapa bulan terakhir, suku bunga SBI cenderung menurun. Sekarang untuk jangka waktu satu bulan hanya 10,8 %. Burhanuddin optimistis, sangat mungkin turun menjadi di bawah 10 %. Apalagi bila inflasi ditekan terus sampai pada kisaran 7 %, maka bunga riil di bank juga akan bisa diperkecil. Masalah ini relatif sensitif dan tepatlah kiranya bila dijadikan bidikan awal pejabat otoritas moneter yang baru. - Penurunan suku bunga bank perlu dengan cermat dan berhati-hati. Ada keterkaitan erat dengan laju inflasi. Secara teoretis, bila bunga terlalu rendah akan memperkecil minat menyimpan uang di bank. Akhirnya, akumulasi dana terhambat sementara minat berkonsumsi justru meningkat pesat. Orang tak mau memegang uang dan lebih suka membeli barang. Bila sudah demikian, akan terjadi rawan inflasi atau laju inflasi akan kembali meninggi. Kita melihat kerawanan itu tak perlu terlalu dikhawatirkan mengingat gejala penurunan bunga SBI sudah berlangsung relatif lama kendati secara bertahap. Sementara itu fakta lain menunjukkan, inflasi relatif terkendali dan tak terlalu mengkhawatirkan. Adapun nilai rupiah terlihat semakin menguat hingga mencapai level Rp 8.300/dolar AS. - Komitmen Bank Indonesia untuk terus menurunkan suku bunga SBI merupakan kebijakan yang tepat dan memang perlu. Persoalannya, apakah penurunan bunga dapat otomatis diikuti oleh peningkatan kredit yang berarti membaiknya peran intermediasi lembaga perbankan. Justru di sanalah masalahnya. Penurunan suku bunga SBI dan juga tabungan/deposito tak bisa langsung diikuti penurunan bunga kredit secara signifikan atau sebanding dengan penurunan bunga simpanan. Masalahnya bisa terkait dengan inefisiensi yang masih banyak terjadi di perbankan kita atau karena masih banyaknya faktor risiko usaha lantaran pengaruh faktor eksternal baik dalam kaitan politik dalam negeri, politik internasional, ketegangan sosial maupun ketidakpastian hukum yang masih menjadi momok dunia usaha hingga sekarang. - Jadi, belum menjamin segera mendorong pergerakan di sektor riil khususnya produksi barang dan jasa serta ekspor. Minat investasi dan iklim usaha tak hanya ditentukan oleh cost of money seperti ditunjukkan oleh tinggi rendah suku bunga. Meskipun faktor itu juga penting, masih banyak hal lain yang memengaruhi. Misalnya inefisiensi yang diakibatkan oleh keburukan pelayanan birokrasi dan black economy dalam arti luas. Di samping itu, bagaimana kondisi daya beli riil masyarakat juga menentukan. Sejauh ini belum ada peningkatan signifikan, meskipun tingkat konsumsi tetap menjadi faktor pendorong laju pertumbuhan. Kalaupun suku bunga belum menjadi pemicu, setidaknya sudah akan tetap berpengaruh bagi upaya mendorong investasi asal perbankan sendiri tak terlalu bersikap hati-hati. - Gubernur BI yang baru berjanji akan segera memanggil direksi bank-bank besar untuk mencari masukan dan mendiskusikan mengapa penyaluran kredit bank masih seret. Padahal, diyakini hal itu akan terus menjadi kendala bagi pergerakan sektor riil. Dalam konteks inilah, tugas BI tidak cukup hanya menurunkan suku bunga tetapi juga dalam kerangka pembinaan dan pengarahan agar bank-bank dapat segera menjalankan fungsi intermediasinya dengan lebih baik. Memang kewenangan BI sudah tidak seperti dahulu lagi. Namun, tanggung jawab itu tetap melekat padanya. Dengan atau tanpa IMF kita membutuhkan percepatan program restrukturisasi perbankan agar bank-bank bertambah sehat dan mantap, sehingga dapat segera diandalkan sebagai lembaga penyalur kredit. Harus diakui, hasilnya sudah kelihatan namun masih relatif minim. - Selama ini suku bunga SBI menjadi salah satu instrumen untuk memengaruhi pasar uang. Namun selebihnya, termasuk dalam penentuan suku bunga kredit bank, BI tak bisa lagi ikut campur. Mekanisme pasarlah yang bekerja, kendati instrumen tadi tetap efektif untuk menjaga stabilitas pasar uang terutama dalam kaitan suku bunga. Untuk itulah keberanian Bank Sentral terus menekan suku bunga SBI hingga jauh di bawah asumsi RAPBN 2003, yaitu 13 %, akan menjadi langkah awal yang baik dalam menjaga stabilitas moneter. Tanpa intervensi dari luar yang berarti, makin menegakkan independensinya. Kita berharap, BI makin dapat memainkan peran dan fungsinya dengan lebih baik. Masa lalu yang kelabu biarlah menjadi bagian dari proses hitam dalam sejarah. Yang penting jangan terulang kembali. |