
| Jumat, 23 Mei 2003 | Berita Utama |
Persediaan Sembako Menipis
BANDA ACEH- Persediaan sembilan bahan pokok (sembako) untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat di Kota Banda Aceh dan beberapa kabupaten lain di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dilaporkan mulai memasuki masa kritis. Adapun transportasi darat di pantai timur Kota Banda Aceh dilaporkan lumpuh. Sementara itu, lebih kurang 40.000 pelajar di sejumlah kabupaten/kota di provinsi tersebut terpaksa diliburkan, karena gedung sekolah tempat mereka belajar ludes dibakar dalam empat hari terakhir. Sejumlah pedagang di Banda Aceh, Kamis kemarin, menjelaskan, sebagian besar barang kebutuhan pokok yang didatangkan dari Medan (Sumatera Utara), seperti telur ayam ras, minyak goreng, dan sayur-sayuran hanya bisa bertahan untuk Kamis. Selain stoknya menipis, harga sejumlah barang kebutuhan pokok yang didatangkan dari provinsi tetangga itu juga naik hingga 50 %, seperti telur ayam ras yang sebelumnya Rp 400/butir, naik menjadi Rp 600/butir, dan minyak goreng dari Rp 4.500/kg menjadi Rp 6.000/kg. Ramli, seorang pedagang grosir di Kota Banda Aceh, menyebutkan menipisnya persediaan sembako itu akibat kelumpuhan transportasi darat Banda Aceh-Medan sejak beberapa hari lalu. Sejumlah sopir angkutan barang dan penumpang jurusan timur Kota Banda Aceh mengaku tidak berani beroperasi karena mendapat ancaman dari kelompok separatis bersenjata. Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) Provinsi NAD Mayjen TNI Endang Suwarya menegaskan, kelompok separatis GAM telah membakar lima unit truk barang dan mobil angkutan orang di jalan raya Banda Aceh-Medan pada Rabu (21/5). Sebelumnya, Gubernur NAD Abdullah Puteh menjelaskan, untuk mencegah agar tidak terjadi kelangkaan barang kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat, dalam operasi terpadu itu pemerintah juga menyediakan sembako murah. Kemudian, bila terjadi gangguan transportasi darat, pemerintah juga akan mengerahkan angkutan udara dan laut untuk memasok barang dan angkutan orang dari dan ke Aceh. "Kami tidak berani mengoperasikan armada karena situasi keamanan yang tidak menentu. Apalagi, setelah adanya aksi pembakaran angkutan barang dan orang di jalan Banda Aceh-Medan kemarin (21/5)," ujar Buyung, sopir angkutan barang. Menipisnya persediaan dan kenaikan harga berbagai barang kebutuhan pokok itu telah membuat resah masyarakat di provinsi yang berjuluk Serambi Makah itu. "Rakyat Aceh semakin menderita, sudah hidup dalam suasana ketakutan, ditambah lagi kelangkaan barang kebutuhan pokok," ujar M Yusuf, warga Banda Aceh. Kehadiran TNI dan Polri, yang katanya untuk melindungi rakyat, tapi kenapa tidak mampu mengamankan jalan raya. Aparat keamanan tidak usah ragu-ragu menembak mati orang-orang yang menganggu kelancaran jalan raya, ujarnya. Diliburkan Lebih kurang 40.000 pelajar di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi NAD terpaksa diliburkan lantaran gedung sekolah tempat mereka belajar ludes dibakar dalam empat hari terakhir. Wakil Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Provinsi NAD Anas M Adam PPd di Banda Aceh, Kamis kemarin, menyatakan 251 unit atau sekitar 6 % dari jumlah gedung sekolah yang mencapai 4.864 unit di tujuh kabupaten/kota itu dibakar orang tak bertanggung jawab. Petinggi TNI dan Polri di NAD mengemukakan, aksi pembakaran ratusan gedung sekolah di provinsi berpenduduk lebih kurang 4,2 juta jiwa itu dilakukan anggota GAM. Dia memerinci, dari total gedung sekolah yang telah dibakar itu terbanyak di Kabupaten Pidie, yakni 102 unit, menyusul Bireuen 102 unit, Aceh Besar 28 unit, Aceh Timur 9 unit, Aceh Jaya 2 unit, Kota Banda Aceh dan Aceh Tamiang masing-masing 1 unit. Lebih lanjut, dia menyatakan pemerintah kini sedang berusaha agar puluhan ribu anak didik itu tetap dapat belajar, kendati harus berlangsung di bawah tenda darurat, masjid, dan meunasah, serta ruang-ruang kelas yang belum terbakar. "Meski dalam keadaan darurat, kami berharap proses pembelajaran anak didik yang (gedung) sekolahnya dibakar itu tetap berlangsung," ungkapnya. Dari 251 unit gedung sekolah yang dibakar itu, tercatat 167 gedung SD, 33 unit gedung MI, 31 unit gedung SLTP, dan gedung MTsN serta SMU masing-masing 6 unit, lalu gedung TK dan MA masing-masing 1 unit. Tiga badan kemanusiaan di bawah PBB, yakni UN OCHA, UNICEF, dan UNESCO mengimbau semua pihak untuk melindungi fasilitas pendidikan di Aceh dari tindak perusakan. Dalam pernyataan persnya di Banda Aceh, Kamis, ketiga badan PBB itu juga mendesak semua pihak untuk menjadikan fasilitas pendidikan sebagai kawasan damai. UNICEF memberi bantuan buku dan peralatan olahraga bagi murid SD yang gedung sekolahnya dibakar. Bantuan pertama diberikan bagi anak-anak SD Negeri 71 Mibo, Kecamatan Bandar Jaya, Banda Aceh yang diserahkan langsung oleh Kepala Program UNICEF Aceh Eirik Gronvold yang diterima Kepala Sekolah Drs Azhar di halaman sekolah tersebut, Kamis. Penyerahan bantuan itu disaksikan oleh Wakil Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi NAD Drs Anas M Adam dan para siswa serta dewan guru. Eirik menyatakan UNICEF ikut bertanggung jawab untuk mengatasi dunia pendidikan di Aceh yang kini sedang mengalami musibah. Karena itu, badan PBB tersebut akan berupaya menanggulangi berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk meningkatkan pendidikan di Aceh. Bantuan berupa 200 eksemplar buku tulis dan alat olahraga serta kesenian itu merupakan tahap awal dan dalam waktu dekat UNICEF akan memberi batuan lagi, antara lain tenda sekolah, tambahnya. Tak Mungkin TNI Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Adi Sasono di Solo, Kamis (22/5) kemarin mengemukakan, pembakaran gedung-gedung sekolah di Provinsi NAD tidak mungkin dilakukan oleh TNI seperti klaim yang disampaikan GAM. "Saya sering ke Aceh dan saya tidak percaya bahwa TNI yang melakukannya, karena zamannya sekarang sudah lain," kata dia seusai melantik pengurus 23 DPD Partai Merdeka se-Jateng di Gedung Graha Saba Buana, Solo. Meski demikian, dia mempertanyakan kesigapan TNI yang sudah melancarkan operasi militer di daerah itu sejak beberapa hari terakhir. "Kenapa pembakaran itu tidak bisa dicegah, padahal dalam jumlah relatif besar. Seharusnya kan bisa dicegah. TNI pasti tahu di mana GAM itu." Untuk itu, Ketua Umum Partai Merdeka ini mengimbau TNI lebih meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi warga sipil. "Tentara harus lebih serius menangani masalah ini, jangan sampai melebar ke masyarakat sipil yang tidak berdosa. Jangan sampai kecolongan lagi." Pemberlakuan operasi militer, jelas dia, merupakan langkah tepat untuk menghadapi gerakan separatis seperti GAM. Terlebih dengan aksi pembakaran terhadap gedung sekolah di NAD. (G13, ant-29j) |