
| Jumat, 23 Mei 2003 | Internasional |
SARS Bisa DiatasiLONDON - Virus penyakit Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) bisa diatasi, kata seorang pejabat tinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kamis. "Saya rasa kita bisa mengendalikan dan mencegahnya meluas," kata Mark Salter, ahli virus WHO, pada jumpa pers di London. Menurutnya, hanya ada dua cara sederhana untuk mengendalikan virus itu, yakni deteksi dini kasus baru dan menerapkan sistem pengawasan yang baik di setiap penjuru dunia. Namun dia mengakui WHO, suatu badan PBB yang berpusat di Jenewa, pada tahap awal tidak selalu bertindak responsif dan cepat, seperti diharapkan banyak orang. "Kami telah mempelajari banyak hal yang bisa kami gunakan pada masa depan," katanya. "Kami mungkin telah mengambil langkah-langkah yang bagi dunia luar tampak tidak biasa, atau bahkan mungkin lalai. Namun kami tidak mengambil satu langkah pun tanpa pertimbangan," katanya. Dia membantah WHO mendapat tekanan politik agar mencabut peringatan perjalanan ke Kanada, wilayah keempat (setelah Cina, Hong Kong, dan Taiwan) di dunia yang paling banyak penderita SARS-nya. "WHO berusaha tidak tunduk pada setiap tekanan politik, dan selama wabah SARS merebak hingga kini, kami tidak pernah tunduk pada tekanan," tambahnya. Virus mirip flu itu telah menewaskan lebih dari 670 orang dan menjangkiti sekitar 8.000 orang di 25 negara, sejak muncul kali pertama di Cina selatan pada November 2002. Kanada merupakan satu-satunya negara di luar Asia yang melaporkan banyak korban tewas akibat SARS, yakni 24 orang. Dampaknya Hebat Salter mengatakan, SARS menimbulkan dampak hebat pada pariwisata, perdagangan, dan perjalanan antarnegara. "Kini disadari, kecemasan seputar SARS punya dampak yang besar, seperti SARS itu sendiri," katanya. Sementara itu seorang wanita berusia 28 tahun tewas akibat SARS di Singapura, Rabu, setelah dirawat sebulan di rumah sakit. Dengan demikian, jumlah kematian di negara tersebut meningkat menjadi 29. Wanita itu mungkin terjangkit melalui kontak dengan seorang pedagang sayuran berusia 65 tahun, yang meninggal oleh SARS pada 12 April. Tidak dilaporkan adanya kasus baru di Singapura kemarin, dan jumlah total kasus tetap 206. Di Taipei, Dinas Kesehatan Taiwan berupaya keras untuk menekan jumlah korban SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), setelah WHO mengeluarkan panduan berupa larangan terbaru berkunjung ke negara pulau itu. Taiwan adalah satu-satunya negara di Asia yang memperlihatkan kenaikan jumlah terinfeksi paling tinggi, sementara negara-negara terjangkiti lainnya yang masuk dalam daftar WHO menunjukkan grafik penurunan. Kamis kemarin, di negara itu tercatat 65 kasus terinfeksi baru yang membuat jumlah korban SARS menjadi 483 dengan 60 kematian, demikian data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Taiwan. WHO mengatakan Taiwan memasuki periode wabah tertinggi, sehingga pihaknya harus mengeluarkan panduan baru bagi pelaku perjalanan, yakni untuk sementara tidak berkunjung ke negara tersebut. Direktur Pusat Penanggulangan Penyakit (CDC) Taiwan Su Ih-jen mengatakan wabah SARS masih dapat dikendalikan. Menurutnya, selama empat hari tidak ditemukan kasus baru di RS Chang Gung yang khusus untuk pasien SARS. Cina Terparah Dua belas orang termasuk seorang dokter, telah meninggal setelah SARS mewabah di rumah sakit tersebut. Namun kematian akibat SARS bertambah 10 di RS Chung Ho di Kaoshiung. Dan jumlah terinfeksi diperkirakan akan bertambah di Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat Chi Mei. Kepala CDC mengatakan, pihaknya akan memberikan bantuan kepada rumah sakit besar di selatan. Cina masih menyandang status sebagai negara terparah terjangkit SARS, dengan jumlah kematian 296 dan 5.249 kasus. Namun Cina selama beberapa hari terakhir terus mengalami penurunan angka kasus dan kematian. WHO telah memberi isyarat akan menerima kemajuan yang telah dicapai Cina dalam mengurangi jumlah kasus terinfeksi maupun kematian, dan memuji Beijing yang telah bekerja keras sehingga membuahkan hasil. (ant-30) |