
| Jumat, 23 Mei 2003 | Ekonomi |
142 Agen Elpiji DiperingatkanYOGYAKARTA-Pertamina memberikan peringatan kepada 142 agen elpiji karena tidak memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen. Bahkan 6 agen terpaksa diputus hubungan usahanya karena bandel dan tak memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan. Demikian diungkapkan oleh General Manager Elpiji PT Pertamina Iqbal Hasan di sela-sela "Temu Mitra Elpiji" wilayah pemasaran UPMS IV di Hotel Quality Yogyakarta, kemarin. "Para agen harus berbenah diri dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kalau tidak maka konsumen akan lari pada merek-merek asing yang bakal masuk ke Indonesia," tandasnya. Temu mitra tersebut diikuti oleh agen elpiji wilayah Jateng dan DIY. Pada acara itu Pertamina memberikan Nomor Induk Agen Pertamina (NIAP) yang bermanfaat sebagai identitas sekaligus kontrol. Jumlah agen yang memperoleh nomor di UPMS IV Jateng/DIY dan UPMS V Surabaya sebanyak 140. Iqbal mengingatkan tahun-tahun mendatang banyak pesaing dari luar yang masuk Indonesia. Hal itu mendorong pihaknya dan para agen untuk memperbaiki kinerja, terutama dalam pelayanan supaya masyarakat loyal terhadap produk dalam negeri. Namun, lanjut dia, bukan berarti Pertamina takut bersaing dengan produk asing. Sebaliknya, BUMN tersebut menyatakan welcome dan siap bersaing dengan mereka. Persaingan selama dilakukan secara sehat justru menguntungkan perusahaan dan konsumen. "Perusahaan bisa meningkatkan kinerja karena ada pesaing dan masyarakat bisa memilih produk yang diinginkan. Kami welcome pada persaingan karena monopoli tidak sehat. Lebih baik ada pesaing sehingga Pertamina bisa meningkatkan kualitas dan masyarakat mendapatkan pelayanan lebih sempurna," jelasnya. Harga Ideal Mengenai harga elpiji, Iqbal mengungkapkan sebenarnya harga ideal tanpa laba Rp 3.000/kg. Saat ini harganya masih Rp 2.700/kg sehingga Pertamina masih menanggung kerugian Rp 300/kg. Namun itu masih lebih baik dari tahun lalu yang nilai kerugiannya mencapai Rp 900/kg. Dia belum berani memastikan bakal ada kenaikan harga lagi karena kondisinya belum memungkinkan. Hanya disebutkan kemungkinan tahun depan atau beberapa tahun lagi akan naik agar harga ideal tanpa laba bisa tercapai. "Tapi itu belum pasti. Belum ada pembicaraan dan keputusan tentang itu," tuturnya. Iqbal menjelaskan sebelum keputusan menaikkan harga, pihaknya berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat terlebih dahulu. Sebab, saat ini Pertamina hanya mampu memproduksi 85% dari kebutuhan yang mencapai 1 juta metrik ton. Untuk menutup sisanya harus mengimpor. "Terpenting saat ini kami melakukan sosialisasi mengenai pelayanan elpiji sebelum ada kebijakan menaikkan harga," tandasnya.(D19-53) Sanksi terhadap Agen dan SPBE Pemutusan Hubungan Usaha 6 Agen Skorsing 1 SPBE dan 8 Agen Dalam Proses 7 Agen Pembekuan Sementara 2 Agen Peringatan 142 Agen dan 31 SPBE Sumber: Pertamina |